Haul akbar yang digelar 8 Juni kemarin merupakan tahun ketujuh. Dihadiri ribuan peziarah, dipimpin Kiai Haji Ahmad Barmawi atau Guru Muda.
Juru kunci makam, Mansur (kebetulan nama antara pencerita dan tokoh yang diceritakan sama) menuturkan mengapa Datu Aling lebih dikenal sebagai pahlawan.
Pada abad 18, Aling menunjukkan aksi heroik di tengah Perang Banjar yang berkecamuk. Datu Aling sendiri merupakan gelar kehormatan yang diberikan Kesultanan Banjar.
"Menurut sejarah, semasa muda, Aling adalah seorang pengawal Sultan Adam. Gelarnya adalah Penambahan Muda Aling," ujarnya kepada Radar Banjarmasin.
Padahal, sebelumnya Aling hanya seorang petani yang punya pekerjaan sampingan sebagai perompak sungai.
Ditegaskan Mansur, Aling pula yang memicu perang di Benteng Oranje Nassau di Pengaron pada 28 April 1859.
"Setelah Sultan Adam wafat, Kerajaan Banjar terpecah belah. Dikuasai Belanda. Hingga Datu Aling memutuskan untuk mengasingkan diri. Kembali ke Desa Kumbayau, Tapin," kisahnya.
Yang menarik, penjajah memiliki catatan khusus, menyebut Aling sebagai tokoh dermawan. Seorang pemimpin di wilayah Muning atau Kumbayau.
"Kembali kemari, beliau kecewa. Karena tanahnya ternyata juga sudah diinjak Belanda," lanjutnya.
Galau dan kecewa, Aling bertapa (balampah) di sebuah pondok di tengah hutan. Ritual khusus yang ia jalankan selama 40 hari.
"Tujuan balampah untuk meminta ampun kepada Allah. Memohon petunjuk untuk tindakan berikutnya, menghadapi kekacauan di Kerajaan Banjar," jelasnya.
Seusai bertapa dan mendapat ilham, Aling menobatkan dirinya sebagai raja di Kumbayau. Belakangan, nama desa itu diganti menjadi Tambai Mekah.
Belanda kemudian mengatur siasat untuk membalas dendam atas serangan di Pengaron. Residen Verspyek memerintahkan penyerangan ke Tambai Mekah.
"Serangan disambut pasukan Datu Aling dengan pekik takbir. Salah seorang pemimpin pasukan lawan, yakni Kapten Benchop tewas ditombak," ujar Mansur.
Melihat kaptennya tewas, Belanda pun mengirim bala bantuan berupa satu peleton. Hingga Datu Aling terdesak dan mundur.
"Tambai Mekah dibumihanguskan. Aling gugur dalam pertempuran. Tapi Belanda tak pernah menemukan jasadnya," sebutnya.
Dalam versi berbeda, diceritakan Aling hanya menderita luka-luka dan dilarikan oleh pengikutnya.
"Beberapa bulan menderita luka parah, pada 30 Mei 1860 atau 9 Zulhijah, beliau wafat. Dimakamkan di wilayah kerajaan, sekarang menjadi Desa Cempaka," tutup Mansur. (dly/gr/fud) Editor : Muhammad Helmi