Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Orang Alabio Terkenal Sebagai Perantau dan Pedagang Hebat

Muhammad Helmi • Kamis, 21 Juli 2022 | 11:02 WIB
GUDANG HIRANG: Gudang ini masih berdiri kokoh sampai sekarang di dekat Pasar Alabio, HSU. FOTO: M AKBAR/RADAR BANJARMASIN
GUDANG HIRANG: Gudang ini masih berdiri kokoh sampai sekarang di dekat Pasar Alabio, HSU. FOTO: M AKBAR/RADAR BANJARMASIN
DISEBUT nama Alabio, ada dua hal yang terbersit di benak: itiknya dan saudagarnya.

Radar Banjarmasin takkan mengulas tentang kuliner, tentang masakan itik tanpa tulang yang tersohor itu.

Ini sejarah orang-orang Alabio yang terkenal sebagai perantau dan pedagang hebat.

Alabio berada di Kecamatan Sungai Pandan Kabupaten Hulu Sungai Utara. Sekitar 170 kilometer dari Kota Banjarbaru, ibu kota Provinsi Kalsel.

Pemerhati sejarah lokal yang juga orang asli Alabio, Ahdiyat Gazali Rahman menceritakan, sebelum mengenal ilmu dagang, orang Alabio lebih dikenal sebagai petani dan nelayan dadakan.

"Karena dikelilingi rawa, bertani harus menunggu musim air surut. Begitu lahan terendam, berubah menjadi nelayan," ungkapnya.

Hijrah profesi itu dipicu oleh pendirian Gudang Hirang. Lokasinya di Desa Sungai Pandan Tengah, masih satu kawasan dengan Pasar Alabio.

Dinamai begitu, karena memang warnanya yang hitam kusam. Gudang ini dulunya tempat penyimpanan sabun dan pasta gigi yang dikelola badan usaha di bawah Masjumi.

Partai politik ini memiliki tokoh sekaliber Mohammad Natsir, perdana menteri republik tahun 1950 sampai 1951. Masjumi kemudian dibubarkan pada tahun 1960 oleh Presiden Soekarno.

"Masjumi mengelola Gudang Hirang lewat serikat dagangnya, sekitar tahun 1955 sampai partai ini dibubarkan pemerintah," kata Ahdiyat.

Selain faktor alam yang berat, Masjumi juga menarik minat masyarakat karena identitas keislamannya. Orang Alabio memang religius.

Serikat dagang Masjumi kemudian meminjamkan modal. Berupa pinjaman barang kepada warga agar mereka bisa mulai belajar berdagang secara kecil-kecilan.

"Sejak itu, oleh orang luar, Alabio dikenal karena kepandaian berdagangnya," kata pensiunan kepsek ini, Ahdiat terakhir kali mengabdi sebagai Kepala SMAN 1 Amuntai.

Aneka barang kebutuhan dijajakan pedagang Alabio, tak hanya di sekitar Kalsel, bahkan sampai ke Kalteng dan Kaltim.
"Di Jakarta dan Surabaya, Alabio dicap sebagai permukiman pedagang asal Kalsel," ujarnya bangga.

Kalau barang sudah ludes terjual, mereka kembali ke Gudang Hirang untuk melunasi pinjamannya.

"Jadi sebenarnya bakat dagang orang Alabio lahir dari kepercayaan sebuah badan usaha partai," lanjutnya.

Oleh orang tua di kampung, kepada kaum hartawan baru ini, ditanamkan sebuah prinsip. Bahwa ukuran kesuksesan adalah kemampuan membangun surau dan sekolah di Alabio. "Orang tua kami menanamkan nilai itu," tegasnya.

Lalu, bagaimana kondisi Gudang Hirang sekarang? Tetap ada. Berdiri dengan kokoh. Bahkan tetap berfungsi sebagai penyimpanan barang pasar.

Bedanya, tidak ada lagi bekas-bekas jejak Masjumi di sana. (mar/gr/fud) Editor : Muhammad Helmi
#HSU #Amuntai #Tahulah Pian