Tanggal 17 Mei ini memang sakral.
Pada tanggal yang sama tahun 1949, rakyat Kalimantan menyatakan Borneo adalah bagian tak terpisahkan dari Republik Indonesia.
Proklamasi itu merupakan reaksi atas Perjanjian Linggarjati. Dipelopori oleh Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) Divisi IV Pertahanan Kalimantan.
Sebab, dalam Perjanjian Linggarjati, Belanda hanya mengakui Sumatera, Jawa dan Madura sebagai bagian republik.
Seperempat abad berselang, tanggal itu diabadikan menjadi nama stadion di Jalan Zafri Zam Zam, Banjarmasin Tengah.
"Jadi nama stadion ini memang sarat sejarah," kata dosen sejarah Universitas Lambung Mangkurat, Mansyur kepada Radar Banjarmasin, belum lama ini.
Diceritakan, lahan stadion mulanya hanya berupa gabuk (limbah kayu) dan tanah sungai yang mengering.
Awal dibangun, stadion ini sudah dilengkapi lintasan lari dan lompat jauh. Ditambah tribun penonton dari kayu.
Empat tahun setelah berdiri, pada 10 Mei 1978, keluar SK Gubernur Kalsel Nomor 82/Kes. Isinya, mengalihkan pengelolaan stadion dari KONI (Komite Olahraga Nasional Indonesia) kepada Peseban (Perserikatan Sepak Bola Banjarmasin).
"Serah terima itu terjadi pada 1 Juli 1978," sebut Mansyur. Seiring jumlah penonton yang terus bertambah, fasilitas stadion dirasa tak lagi memadai. "Maka tahun 1981 direnovasi," tambahnya.
Dibangun tembok pengaman. Tribun juga diperluas pada sisi barat dengan kapasitas 2.000 tempat duduk.
"Renovasi tahap dua ini diresmikan pada 28 Oktober 1985 oleh Gubernur M Said," terangnya.
Kemudian, terbit SK Gubernur Kalsel Nomor 046 tertanggal 11 Februari 1989 yang memindahkan pengelolaan stadion.
Dari Peseban kepada Komda PSSI (Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia) Kalsel yang kala itu dipimpin Abdussamad Sulaiman HB (Haji Leman).
Tujuannya, mendukung eksistensi Barito Putera Galatama yang berdiri pada 21 April 1988. Maka, Stadion 17 Mei pun menjadi kandang Laskar Antasari.
"Tahun 1995, renovasi stadion disuntik dana oleh PT Barito Timber Group (perusahaan kayu yang sedang berjaya)," jelasnya.
Bantuan itu merupakan hadiah atas prestasi PS Barito Putera yang berhasil menembus semifinal Liga Dunhill, divisi utama pada era itu.
"Sayang, langkah Barito Putera terhenti di situ. Melawan Persib Bandung, Barito Putera gagal melangkah ke final," tutupnya. (bir/gr/fud)
Editor : Muhammad Helmi