Menurut catatan sejarah, rumah peristirahatan di puncak Bukit Besar di Kabupaten Banjar itu berkaitan dengan jalur rempah Nusantara di Kalimantan.
Dibangun pemerintah Hindia Belanda, diberi nama Zuid Oost Borneo. Diresmikan tahun 1939 oleh Gouverneur van Borneo, Dr Bauke Jan Haga.
Inilah tujuan tetirah para ambtenaar (pejabat Belanda). Namun begitu penjajah Jepang datang, pesanggrahan itu tidak dipakai lagi.
Setelah itu, terbengkalai menjadi bangunan angker. Sekarang dipugar, tanpa merusak arsitektur aslinya. Kini di sana ada kafe, taman, camping ground dan surau.
Dari puncak ini, pengunjung dapat menikmati pemandangan awan yang bergulung-gulung, perbukitan dan hutan.
Saat malam tiba, muncul pemandangan kelap-kelip lampu permukiman di Banjarbaru dan Martapura.
Beberapa waktu lalu, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno meresmikan tiga bangunan yang telah dipugar.
Ada bunker, lapangan tenis, tandon air dalam tanah, dan kolam pemandian. Serta sebuah rumah yang pernah dipakai untuk rumah sakit.
Sebagai informasi tambahan, Tahura Sultan Adam memiliki luas 112 ribu hektare. Membentang di dua wilayah kabupaten, Banjar dan Tanah Laut.
Kepala Dinas Kehutanan Kalsel, Fathimatuzzahra mengatakan, Tahura Sultan Adam masih punya potensi untuk dikembangkan. Masih bisa berkontribusi besar bagi PAD (Pendapatan Asli Daerah) provinsi.
Tahun ini, ditargetkan pemasukan Rp3 miliar dari sektor pariwisata di sini. "Tapi kami berharap bisa melampaui Rp4 miliar," sebutnya optimis.
Sebab, Tahura Sultan Adam kian dikenal dan kian ramai dikunjungi. "Pada hari Senin sampai Jumat, rata-rata dapat Rp3 juta sampai Rp4 juta sehari. Sedangkan akhir pekan, Sabtu dan Minggu, bisa di atas Rp24 juta rupiah," tambahnya. (ris/gr/fud) Editor : Muhammad Helmi