Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Vila di Puncak Tahura Sultan Adam, Tujuan Tetirah Para Ambtenaar

Muhammad Helmi • Kamis, 14 Juli 2022 | 07:46 WIB
SUDAH DIPUGAR: Pesanggrahan di Tahura Sultan Adam, Mandiangin. Tempat wisata ini menyediakan kafe, taman, lapangan berkemah dan musala. FOTO: SUTRISNO/RADAR BANJARMASIN
SUDAH DIPUGAR: Pesanggrahan di Tahura Sultan Adam, Mandiangin. Tempat wisata ini menyediakan kafe, taman, lapangan berkemah dan musala. FOTO: SUTRISNO/RADAR BANJARMASIN
PENGUNJUNG puncak Tahura Sultan Adam di Mandiangin mungkin pernah melihat bangunan vila bergaya Eropa di atas sana. Kerap disebut benteng penjajah, sebenarnya bangunan itu dulunya berfungsi sebagai pesanggrahan.

Menurut catatan sejarah, rumah peristirahatan di puncak Bukit Besar di Kabupaten Banjar itu berkaitan dengan jalur rempah Nusantara di Kalimantan.

Dibangun pemerintah Hindia Belanda, diberi nama Zuid Oost Borneo. Diresmikan tahun 1939 oleh Gouverneur van Borneo, Dr Bauke Jan Haga.

Inilah tujuan tetirah para ambtenaar (pejabat Belanda). Namun begitu penjajah Jepang datang, pesanggrahan itu tidak dipakai lagi.

Setelah itu, terbengkalai menjadi bangunan angker. Sekarang dipugar, tanpa merusak arsitektur aslinya. Kini di sana ada kafe, taman, camping ground dan surau.

Dari puncak ini, pengunjung dapat menikmati pemandangan awan yang bergulung-gulung, perbukitan dan hutan.

Saat malam tiba, muncul pemandangan kelap-kelip lampu permukiman di Banjarbaru dan Martapura.

Beberapa waktu lalu, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno meresmikan tiga bangunan yang telah dipugar.

Ada bunker, lapangan tenis, tandon air dalam tanah, dan kolam pemandian. Serta sebuah rumah yang pernah dipakai untuk rumah sakit.

Sebagai informasi tambahan, Tahura Sultan Adam memiliki luas 112 ribu hektare. Membentang di dua wilayah kabupaten, Banjar dan Tanah Laut.

Kepala Dinas Kehutanan Kalsel, Fathimatuzzahra mengatakan, Tahura Sultan Adam masih punya potensi untuk dikembangkan. Masih bisa berkontribusi besar bagi PAD (Pendapatan Asli Daerah) provinsi.

Tahun ini, ditargetkan pemasukan Rp3 miliar dari sektor pariwisata di sini. "Tapi kami berharap bisa melampaui Rp4 miliar," sebutnya optimis.

Sebab, Tahura Sultan Adam kian dikenal dan kian ramai dikunjungi. "Pada hari Senin sampai Jumat, rata-rata dapat Rp3 juta sampai Rp4 juta sehari. Sedangkan akhir pekan, Sabtu dan Minggu, bisa di atas Rp24 juta rupiah," tambahnya. (ris/gr/fud) Editor : Muhammad Helmi
#Wisata Kalsel #Tahulah Pian