Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Kisah Datu Ilyas Bakul, Pernah Menjadi Panglima Pada Umur 75 Tahun

Muhammad Helmi • Kamis, 9 Juni 2022 | 14:18 WIB
KUBURAN PANGLIMA: Makam Datu Ilyas Bakul di muara Saka Bakul, Barito Kuala. Foto: MUBARAK/RADAR BANJARMASIN
KUBURAN PANGLIMA: Makam Datu Ilyas Bakul di muara Saka Bakul, Barito Kuala. Foto: MUBARAK/RADAR BANJARMASIN
BAGI masyarakat Marabahan, nama Datu Ilyas Bakul memang sudah tidak asing lagi. Namun, bagi orang luar Kabupaten Barito Kuala, mungkin tak banyak yang mengetahui ceritanya. Makam Datu Ilyas Bakul berada di Ulu Benteng RT 05, persis di tepi Sungai Barito. Atau muara Saka Bakul.

Radar Banjarmasin memperoleh cerita Datu Ilyas, langsung dari keturunannya. Yaitu Hasni, 85 tahun, guru ilmu tasawuf yang tinggal hanya beberapa meter dari makam. Meski sudah uzur dengan rambut dan janggut memutih, Hasni memiliki suara yang lantang. Sebagai generasi ketiga, Hasni mendengar cerita tentang Datu Ilyas dari ibunya.
Pada zaman Kesultanan Banjar, Datu Ilyas termasuk tokoh perlawanan. "Melawan penjajah Belanda sekitar abad 17-18," ujarnya membuka percakapan.

Datu Ilyas mendapat gelar Panglima H Yadek Panglima Raja Banjar dari kesultanan. Padahal, umurnya sudah 75 tahun. Tapi masih dipercaya untuk memimpin pasukan. "Nama asli sidin (beliau) sebenarnya Abdullah. Namanya sengaja diubah-ubah untuk mengelabui Belanda," tambahnya. Datu Ilyas pula yang menikahkan Gusti Muhammad Arsyad dan Gusti Zaleha atau Ratu Zaleha. Hingga membawa keluarga itu kabur saat perang pecah.

"Beliau yang membawa Gusti Muhammad Arsyad, Gusti Zaleha, Antung Barukuk, Antung Barakek, Gusti Matsaman, dan Panampahan kabur dari buruan Belanda," ceritanya. Dalam perjuangannya, Datu Ilyas kerap berpindah-pindah tempat. Pertama, kabur ke Karang Intan. Bertahan selama setahun di dalam hutan. Terendus kolonial, kabur lagi menuju Padang Batung.

Di sana, ketahuan lagi. Hingga meletus Perang Batung. Lalu kabur menuju Amuntai. Di sana, sempat bersembunyi selama tiga tahun. Tapi Belanda tak pernah berhenti mencari-carinya. "Hingga akhirnya sidin berjalan kaki menuju Puruk Cahu, Kalteng," sebutnya. Di tempat persembunyian terakhirnya, Datu Ilyas kembali dihadiahi gelar. Panglima Raja Barito dan Penghulu Raja Barito.

Datu Ilyas kemudian memutuskan pulang ke kampung halaman, menuju Ulu Benteng. Menyebarkan agama Islam di kampung, lalu mendapat gelar Datu Ilyas Bakul. Hingga akhirnya meninggal dunia pada umur 95 tahun. "Jadi sidin juga seorang ulama," tegasnya.

Lalu, mengapa dari sekian gelar, Datu Ilyas Bakul yang paling terkenal? Datu artinya tetua. Ilyas berasal dari kata alias, atau nama pengganti. Sedangkan bakul berasal dari bentuk peci berwarna kemerahan yang kerap dikenakannya. Ciri khasnya. "Saka (sungai kecil) Bakul juga diambil dari nama beliau," tutupnya. (bar/gr/fud) Editor : Muhammad Helmi
#Tahulah Pian