Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Masjid Hilang Dibangun Kembali

Muhammad Helmi • Selasa, 7 Juni 2022 | 15:38 WIB
DIBANGUN ULANG: Masjid Siratal Mustaqim di Desa Sebelimbingan, Kotabaru. Pembangunannya sudah mencapai 50 persen. Foto: JUMAIN/RADAR BANJARMASIN
DIBANGUN ULANG: Masjid Siratal Mustaqim di Desa Sebelimbingan, Kotabaru. Pembangunannya sudah mencapai 50 persen. Foto: JUMAIN/RADAR BANJARMASIN
SEBELIMBINGAN menyandang julukan Kota yang Hilang. Pada zaman penjajahan, Sebelimbingan pernah menjadi pusat pemerintahan Hindia Belanda di Kabupaten Kotabaru.

Sayang, sisa-sisa kejayaannya tidak lagi terlihat karena habis terbakar. Disebut kota sekalipun, sekarang dikenal sebagai Desa Sebelimbingan di Kecamatan Pulau Utara. "Kala itu, banyak bangunan megah di Sebelimbingan. Ada pasar, kompleks perumahan, kantor pajak, bioskop, rumah sakit dan masjid," kata H Adi Sutomo. Cerita itu ia peroleh dari ayahnya, pelaku sejarah di Sebelimbingan.

Diceritakan, Sebelimbingan menghadapi ancaman "gerombolan". Terjadi kerusuhan, hingga kotanya luluh lantak.
Gerombolan adalah istilah masyarakat lokal untuk menyebut pemberontak yang menentang republik ketika baru awal berdiri.

"Ketakutan dengan gerombolan, masyarakat sampai memilih membakar rumahnya sendiri," tambahnya.
Satu-satunya masjid di Sebelimbingan pun ikut disambar api. "Ayah saya, H Amad Suro adalah kaum (marbot). Beliau menyaksikan kejadiannya," lanjutnya.

Kebakaran hebat itu terjadi tahun 1955. Bulan Ramadan, bertepatan dengan malam Nuzulul Quran. Orang tua Adi memilih kabur untuk menyelamatkan diri dari kerusuhan itu. Memasuki masa damai, ayahnya sering mengulang-ulang cerita ini. Selain bercerita, ayahnya juga berpesan. Bila suatu hari nanti dia dikasih banyak rezeki, agar masjid itu dibangun kembali.

Saat ini, pembangunan masjid di Desa Sebelimbingan sudah mencapai 50 persen. Diberi nama Siratal Mustaqim.
Tidak sama dengan nama masjid yang dulu. Karena Adi mengaku dulu tak terpikir untuk menanyakan nama masjid tersebut kepada almarhum bapaknya.

"Selain amanat orang tua, membangun masjid ini juga untuk mengembalikan sejarah kota yang hilang," pungkasnya.
Dia membayangkan, ada museum kecil di pondopo masjid. Di sana akan dipamerkan tiang ulin dan mimbar masjid yang gosong. Puing yang tersisa dari kebakaran itu. (jum/gr/fud) Editor : Muhammad Helmi
#Tahulah Pian #Masjid