Namanya mengacu pada aroma yang dihirup ketika memasuki gua. Bau kotoran dan bangkai kelelawar.
Berada di dalam bukit gunung kapur, kaki pegunungan Meratus, sekitar 50 kilometer dari pusat Kabupaten Tanah Bumbu.
Tepatnya di Desa Dukuh Rejo, Kecamatan Mantewe.
Tidak semua lorongnya berbau amis. Ada juga yang beraroma batu, khas gua stalaktit stalagmit. Memicu kesan mistis.
Cerita lain. Dinamakan Liang Bangkai karena di dalam gua ditemukan bangkai-bangkai manusia. Konon dahulu orang-orang bertikai, berebut sarang burung walet. Yang kalah terkubur di sana.
Kisah horor diperkuat pengalaman beberapa pengunjung. Ketika gua itu baru dibuka untuk wisatawan. Pernah seorang perempuan berkerudung berfoto. Tapi hasil jepretannya menunjukkan sosok lain. "Fotonya malah tanpa kerudung dengan rambutnya terurai," ujar pemandu wisata Nursiono.Faktanya, arkeolog Kalsel menemukan banyak jejak di sana. Termasuk tengkorak manusia yang tingginya diperkirakan 3,5 meter.
Penelitian dari tahun 2008 sampai 2014 menghasilkan kesimpulan sementara, gua itu dihuni manusia purba sekitar 3000 tahun sebelum Masehi.
"Karakter hunian manusia prasejarah tersebut mengarah pada kegiatan perbengkelan atau pembuatan alat batu," ucap Ketua Tim Balai Arkeologi Kalsel, Bambang Sugiyanto di Batulicin, 2017 silam.
Juga ditemukan beragam gambar di dinding gua. Seperti gambar dinosaurus, perahu dan lainnya. Sedikitnya ada 300 gambar yang sedang diteliti.
Di sana ada 26 ceruk. Itulah mengapa peneliti menyebutnya kompleks gua. Hingga kini penelitian terus berlangsung.
Kini situs itu dikelola pemprov, pemkab dan desa. Dijadikan objek wisata. Pelancong dari luar daerah sudah banyak yang datang ke sana.
Dikelola sejak 2006 silam, tapi baru beberapa tahun terakhir ramai didatangi. Menyusul semakin tingginya minat remaja Kalsel berwisata ke situs-situs yang instagramable.
Kepala Dinas Pariwisata Tanah Bumbu, Hamaluddin Tahir meminta wisatawan menggunakan jasa pemandu jika ingin susur gua. Demi keamanan. Sebab hingga kini masih banyak lubang dan lorong yang belum terjamah. (zal/gr/fud) Editor : Muhammad Helmi