Warga Desa Kerayaan menyebut batu itu dengan nama berbahasa Mandar yaitu Watu Laso yang artinya batu yang berbentuk alat kelamin laki laki. Penamaan itu karena mayoritas masyarakat suku di pulau tersebut adalah suku Mandar.
Badrul Aini, salah satu pemuda di desa tersebut mengatakan Watu Laso merupakan ikon dari Pulau Kerayaan. Makanya, setiap ada tamu dari luar datang pasti menyempatkan untuk melihat Watu Laso tersebut. “Kalau jalan- jalan ke kampung kami sini Pulau Kerayaan. Rugi kalau tidak ke Watu Laso. Setau saya ini satu satunya di Kalimantan,” ungkapnya.
Ditambahkannya, ada cerita yang menurutnya mistis di wilayah sekitar Watu Laso. Pengunjung yang berpacaran jangan coba datang melakukan perbuatan asusila. “Kalau ada yang masih nekat melakukan hal yang tidak senonoh di sini, saya tidak menjamin pulang dalam keadaan baik baik saja,” jelasnya.
Badrul berharap Pemerintah Daerah Kotabaru bisa menjadikan Watu Laso ini sebagai salah satu spot wisata yang resmi. “Kami sangat berharap, ada bantuan dari pemerintah terkait Watu Laso ini, paling tidak pembuatan gazebo lah,” tutupnya.
Untuk menuju ke Watu Laso tersebut, dari Tanjung Serdang atau pelabuhan ferry bisa ambil kanan jalan darat. Waktu yang ditempuh sekitar tiga jam baru sampai di salah satu Desa Tanjung lalak.
Dari Tanjung Lalak lanjut ke Pulau Kerayaan dengan menggunakan kelotok, waktu yang dibutuhkan sekitar 30 menit. Dengan biaya kelotok per orang Rp. 25 ribu. Namun lebih murah apabila dicarter. Sekitar Rp. 200 ribu dengan kapasitas 20 sampai 30 orang.
Dari Pelabuhan Pulau Kerayaan, dilanjutkan perjalanan menggunakan sepeda motor menuju ke Watu Laso. Waktu yang dibutuhkan sekitar lima sampai 10 menit. Dengan kondisi jalanan sudah semen lebar satu meter. Dan samping jalan, banyak semak belukar dan pepohonan Mangga. (jum/by/ran) Editor : Arief