Masjid ini berdiri di tanah wakaf berukuran 38 x 24 meter. Pembangun pertama adalah Syekh H Abdul Gani. Masjid saat itu, tidak menggunakan paku, namun memakai pasak dari ulin. Bahkan menyatukan sambungan pun menggunakan tali ijuk.
Masjid ini juga satu dari sekian masjid tua yang tetap mempertahankan bangunan induk meski telah mengalami pemugaran dan perluasan, seiring bertambahnya jemaah dan pengunjung wisata religi di masjid yang diperkirakan sudah ada sejak kolonial Belanda.
Ahdiyat Gazali Rahman, pemerhati sejarah lokal HSU mengatakan Masjid Lancip Waringin, merupakan masjid berarsitektur nusantara kuno. Dimana tanda tersebut terlihat dari atap masjid yang meruncing, semakin ke atas atap semakin lancip.
Ciri tersebut lah yang juga membedakan masjid kuno yang ada di daerah ini yang lebih memadukan arsitektur Arabic dengan profil ukiran khas Banjar.
Nah menarik lanjut Ahdiyat bahwa masjid yang berjarak lebih kurang 7 Kilometer dari kota induk Amuntai, ini dulunya berdiri di tepi Sungai Haur Gading. Sehingga jemaah saat itu menggunakan alat transportasi seperti perahu atau jukung.
"Dulu, sungai transportasi handal, sebab jalan darat belum begitu terhubung, jadi jemaah masjid tidak hanya warga Waringin saja, tapi ada warga lainnya di sekitar Kecamatan Amuntai Utara dulunya, saat ini Haur Gading," sampainya.
Sementara itu, Gusti salah satu pengurus masjid mengatakan masjid ini diperkirakan sudah ada sejak tahun 1886. Bangunan berbentuk segi empat yang mana tinggi bangunan lebih 40 meter. Atap dulunya menggunakan sirap kayu Ulin, bertiang ulin."Jadi ada empat buah soko guru atau tiang inti, 12 tiang penyokong dan 20 buah tiang yang terdapat pada dinding-dinding masjid," sampainya.
Sementara untuk lantai jawabnya menggunakan marmer yang didatangkan dari Singapura.
Adapun ornamen masjid seperti ukirandaun pintu, ventilasi, serta mimbar khotbah, masih asli sampai saat ini, meski sudah mengalami beberapa kali renovasi dan perluasan.
"Untuk renovasi selama ini, berasal dari pemerintah di samping sumbangan, swadaya masyarakat sekitar dan donatur jauh," tandasnya. (mar/by/ran) Editor : Arief