Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Sejarah Masjid Agung Syuhada Pelaihari

M. Syarifuddin • Senin, 11 April 2022 | 11:20 WIB
Photo
Photo
Masjid Agung Syuhada atau yang lebih dikenal Masjid Syuhada merupakan masjid yang berada di Jalan Pusara, Kecamatan Pelaihari, Kabupaten Tanah Laut (Tala).

Masjid ini memiliki bangunan yang megah dan didominasi warna krim dan hijau, bangunan itu juga berhiaskan kaligrafi, baik diluar maupun di dalam bangunannya, sehingga, siapa saja yang melihat masjid ini akan terpana.

Tak banyak orang yang tahu mengenai sejarah kapan didirikannya dan siapa saja yang memulai pembangunan masjid ini.

Menurut cerita orang-orang tua terdahulu, Masjid Syuhada sebelumnya hanya berkontruksi kayu ulin dan papan, serta beratapkan sirap dengan ukuran 7x7 meter, sesuai keperluan pada waktu itu. Dari beberapa sumber dan catatan-catatan lama, pembangunan masjid dimulai sekitar awal tahun 1935 dan selesai pada tahun itu juga. Dan inilah cikal bakal berdirinya Masjid Agung Syuhada.

Ada beberapa tokoh masyarakat yang mempelopori dan berperan besar dalam pengumpulan sumbangan berupa pengumpulan dana dan bahan-bahan bangunan, yaitu, H Abdul Gani, H Jafri, Sidik, H Abdussyukur, H Matran, H Ramli, H Mansyur, H Asmail, H Abdul Hamid, H Khalid, H Anang Syukri, H Anang Tuah, H Bakri, H Basuni, H Abdul Kadir, Hasbullah dan H Nunci.

Meningkatnya jumlah penduduk, khususnya Umat Islam di Kabupaten Tala tidak diimbangi dengan kondisi Masjid Syuhada yang sudah tua yang berusia 70 tahunan dan kondisinya juga memprihatinkan, dinilai perlu dilakukan desain ulang.

Daya tampung masjid sekitar 1500 orang dan tidak memadai lagi, terutama untuk jamaah Salat Hari Raya, Salat Jumat, Pengajian atau Majelis Ta'lim maupun kegiatan keagamaan lainnya.

Upaya menghimpun partisipasi dan sumbangan dari masyarakat terus dilakukan oleh panitia, namun, karena kondisi bangunan yang sudah tua, selalu memerlukan banyak biaya dalam perawatan serta renovasi. Dan panitia hanya bisa melakukan renovasi serta perluasan secara terbatas karena kekurangan dana.

Sekitar tahun 2000, panitia pembangunan masjid yang diketuai H Abdullah Sani membuat desain masjid yang modern dan berhasil menambah luasan tanah, selain itu panitia juga berhasil merealisasikan pembangunan tempat wudhu permanen yang terpisah dari bangunan induk masjid. Akan tetapi, panitia ini tidak dapat aktif lagi, karena banyak anggotanya yang tidak berada ditempat, terutama H Abdullah Sani kembali ke Surabaya dan ada juga anggota lain yang meninggal.

Setelah sekian lama digunakan, tempat wudhu yang cukup mewah itupun dibongkar, karena letaknya tidak sesuai dengan pembangunan kembali masjid.

Adanya Majelis Ta'lim Alm KH Ahmad Bakeri (Guru Bakeri) yang diselenggarakan setiap hari Rabu sore pada waktu itu yang membuat semakin bertambah melimpahnya jamaah Masjid Syuhada.

Dalam tausiahnya Guru Bakeri sering mendorong dan memotivasi untuk pembangunan Masjid Syuhada, semangat pun semakin menggelora ketika H Adriansyah Bupati Tanah Laut saat itu berjanji untuk memperjuangkan bantuan biaya pembangunan Masjid Syuhada Pelaihari dengan menggunakan APBD Kabupaten Tala secara bertahap, sesuai kemampuan daerah.

Pembangunan pun kembali dimulai, dengan berbagai kelebihan yang dimiliki masjid ini serta nilai sejarah yang yang sangat kental maka jadilah masjid ini kebanggaan masyarakat Kabupaten Tala.

Perubahan status terjadi, dari Masjid Syuhada Pelaihari menjadi Masjid Agung ditetapkan dengan Surat Keputusan (SK) Bupati Tanah Laut Nomor 138 Tahun 2007 tanggal 2 April 2007 tentang penetapan Masjid Syuhada Pelaihari sebagai Masjid Agung Tanah Laut. Sekarang, Masjid Syuhada bukan cuma milik masyarakat Pelaihari tetapi sudah menjadi Masjid Agung kebanggan masyarakat Kabupaten Tala.

Tak sampai disitu, Masjid Agung Syuhada juga memiliki keunikan dibanding masjid-masjid yang ada di Tala, khususnya pada bulan suci ramadan. Masjid itu pelaksanaan Salat Tarawih sedikit berbeda dibanding masjid atau langgar yang lain.

Perbedaannya terletak pada ayat-ayat suci Al-quran yang dibaca imam Salat Tarawih, yakni berurutan dari surah pertama hingga surah-surah berikutnya."Tiap malam surah yang dibacakan pada pelaksanaan Salat Tarawih sebanyak satu juz, hal ini kami laksanakan tiap Ramadan," ucap Ketua Umum Badan Pengelola Masjid Agung Syuhada H Khairussadi, Minggu (10/4).

Dia menerangkan imam Salat Tarawih dipimpin dua orang imam, yakni Ustaz HM Sauki dan Ustaz HM Faisal."Mereka berdua bergantian menjadi imam tarawih selama ramadan," sebut Khairussadi.

Selama Ramadan, pihaknya menyediakan makanan untuk berbuka puasa."Kami menyediakan 100 porsi lebih tiap hari. Selain itu, juga ada kegiatan lain yakni kuliah subuh," pungkasnya. (sal/by/ran) Editor : Arief
#Masjid