Dari dokumentasi foto-foto lawas koleksi Tropenmuseum yang bermarkas di Amsterdam, tampak kapal-kapal uap berukuran besar pernah singgah di Pelabuhan Martapura Lama. Dermaga Pelabuhan Martapura Lama menjadi tempat aktivitas bongkar muat barang.
Namun sayang, kondisi itu berubah drastis. Seiring berjalannya waktu, pelabuhan yang berada di kawasan Jalan RE Martadinata itu mulai sulit diakses.
Perkaranya dipicu oleh adanya endapan lumpur di muara yang membuat pendangkalan sungai. Ini rupanya menjadi persoalan pelik. Bahkan hingga sekarang. Limpasan air sungai yang biasa menyasar permukiman di Kota Banjarmasin, salah satunya juga dipicu karena sungai-sungai mengalami pendangkalan.
Sejarawan di Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Banjarmasin, Mansyur, dalam bukunya berjudul Bandjarmasin Tempo Doeloe menyebutkan bahwa endapan lumpur berkontribusi besar terjadinya pendangkalan sungai.
"Berdasarkan hasil kajian Department der Burgerlijke Openbare Werken, Nederlandsch Indische Havens yang dipublikasikan pada tahun 1920 lalu, endapan yang cukup parah terjadi di muara Sungai Barito," jelasnya.
Saat air laut surut, kedalaman pintu keluar masuk pelabuhan, bahkan kurang dari enam kaki. Sungguh tidak memungkinkan untuk dilintasi kapal besar. Kapal-kapal besar yang hendak menuju Pelabuhan Martapura Lama, harus menunggu sampai air pasang untuk bisa sandar.
Pada tanggal 2 Januari 1919, sebuah artikel berjudul Van Borneo dari koran De Locomotief menyebutkan bahwa endapan lumpur yang mengakibatkan pendangkalan sungai itu, pernah dirasakan kapal uap de weert. Peristiwa itu sendiri terjadi pada pagi hari tanggal 21 Desember 1918.
Saat itu kapal uap de weert tiba di ambang Sungai Barito. Pendangkalan sungai, membuat kapal terpaksa melempar sauh. Kapal itu baru bisa melanjutkan perjalanan saat sore hari.
Meski demikian, kapal itu rupanya baru bisa bersandar di Pelabuhan Lama keesokan harinya, tanggal 22 Desember 1918.
Lantas apakah tak ada upaya yang dilakukan?
Masih Berdasarkan hasil kajian Department der Burgerlijke Openbare Werken, Pemerintah Hindia Belanda, mengoperasikan pengeruk hingga penyedot lumpur. Meskipun saat itu, pengoperasian alat itu mengganggu jalur kapal lalu lintas perdagangan.
Pekerjaan itu dimulai pada akhir tahun 1916 dan selesai pada pertengahan tahun 1918.
Sayang, keberadaan Sungai Barito dan Sungai Martapura beserta sejumlah anak sungai yang muara akhirnya tidak jauh dari Pelabuhan Martapura Lama, terus menerus menciptakan endapan lumpur.
Selain pengerukan lumpur, upaya lain yang juga dilakukan yakni perbaikan sarana pelabuhan. Lalu, membuat kanal agar pergudangan bisa dicapai hanya dengan menggunakan perahu. Tanpa terlalu bergantung kawasan pelabuhan.
Dengan cara itu, aktivitas bongkar muat barang bisa berjalan dengan lebih mudah."Peningkatan kondisi fisik pelabuhan dilakukan antara tahun 1924-1925," tulisMansyur.
Meski berbagai upaya dan teknologi dilakukan untuk mengatasi endapan lumpur, tetapi permasalahan ini terus terulang.
Pada tahun 1942, tepat dua hari sebelum tentara Jepang masuk ke Kota Banjarmasin, Pelabuhan Martapura Lama dibumihanguskan oleh Pemerintah Hindia Belanda.
Gudang-gudang dan kompleks kantor pelabuhan porak poranda. Pelabuhan yang ramai nyaris rata dengan tanah. Yang tersisa, hanya dermaga sepanjang 248 meter yang sebagian juga tampak rusak.
"Dalam pendudukan Jepang, Pelabuhan Martapura Lama dibangun kembali. Dermaga sepanjang 248 meter itu diperpanjang menjadi 348 meter," jelas Mansyur.
Lalu, sejak saat itu, Pelabuhan Martapura Lama memiliki dua dermaga. Dermaga lama dengan panjang 248 meter. Dan dermaga baru sepanjang 100 meter.
"Pada saat awal-awal kemerdekaan sempat masih difungsikan. Bahkan, kapal-kapal pengantar jemaah haji juga singgah di situ," ungkap Mansyur ketika dihubungi Radar Banjarmasin, kemarin (30/3) petang.
Tapi seiring berjalannya waktu, di samping perkara endapan lumpur yang membuat sulit kapal-kapal besar mencapai pelabuhan,
seringnya kapal-kapal besar itu hanyut dan menghantam rumah penduduk yang berada di pinggir sungai.
Hingga pada akhirnya, sejak tahun 1965 aktivitas perdagangan, bongkar muat dan lainnya pun dipindahkan ke Pelabuhan Trisakti.
Sekarang, kapal-kapal besar juga hampir tak bisa lagi dilihat melintas di kawasan Pelabuhan Martapura Lama itu. Apalagi bila melihat pembangunan jembatan yang ada. Ambil contoh, Jembatan RK Ilir.
Rasanya, sungguh tidak memungkinkan untuk bisa dilewati kapal-kapal besar seperti kapal uap di zaman dahulu. Yang bentuknya mirip kapal di film Titanic itu.(war/by/ran) Editor : Arief