Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Mastora yang Dilupakan

M. Syarifuddin • Senin, 28 Maret 2022 | 10:31 WIB
MASTORA
MASTORA
Kebanyakan orang hanya kenal Aluh Idut sebagai srikandi dari Hulu Sungai Selatan. Tak banyak yang tahu nama Mastora.

Pemerhati sejarah Kandangan, Aliman Syahrani mengatakan Mastora adalah pejuang perempuan dalam kesatuan ALRI Divisi IV Pertahanan Kalimantan, yang telah mencatatkan namanya di sekian kancah perang yang berkecamuk sepanjang revolusi fisik tahun 1945 sampai 1949.

Mastora alias Masfah adalah perempuan kelahiran hulu sungai yang tadinya berdomisili di Teluk Tiram, Banjarmasin. "Dia sebagaimana lelaki pada zamannya, memanggul senjata dan selalu berada di garis depan dalam banyak kecamuk pertempuran di bawah pimpinan Kapten Martinus," ucapnya.

Dalam menjalani kodrat kewanitaannya, Mastora kemudian dipersunting oleh Kaberi, rekan seperjuangannya. Sebuah sumber menyebutkan, Mastora pada awal rasionalisasi berpangkat sersan TNI AD kemudian kembali ke masyarakat.

Sejak itu berita tentang kegiatan wanita pejuang ini nyaris tak terberita lagi. Baru tahun 1955, Mastora ditemukan oleh Dhislan Shah seorang perwira sekuriti Resimen Infantri 21 di lingkungan kumuh di kawasan Sungai Baru, Banjarmasin.

Perempuan mantan pejuang gerilya yang pernah bersabung nyawa mempertahankan jengkal demi jengkal tanah ibu pertiwi tersebut ditemukan dalam kondisi sangat memprihatinkan bahkan mengenaskan, lantaran didera oleh kemiskinan dan kepapaan hingga nyaris kehilangan gairah hidup.

Oleh sang perwira, Mastora diminta kembali ke Kandangan. Sayangnya, kekurang pedulian dari pihak-pihak yang semestinya memberi empati menjadikan sang mantan perjuang semakin terpuruk.

Mastora seperti tak punya kampung halaman. Seakan tak ada tempat istimewa dan berkesan yang pantas ia kenang, tempat yang lekat dalam ingatan, kalau perlu ia rindukan.

Bahkan, ia pun seolah tak berhak lagi pada kenangan manis perjuangan saat bergerilya di medan laga yang kini sudah ditinggalkan berpuluh-puluh tahun lalu itu. Tak bisa lagi membalas kerinduan yang terpendam bertahun-tahun itu.

Sejak saat itu tak ada lagi kabar berita dari sosok perempuan istimewa itu, hingga nama dan kiprah Mastora benar-benar terlupakan dan hilang di ulak waktu.

Selain Mastora, ada juga pejuang perempuan bernama Hamidah Arsyad atau yang lebih dikenal dengan Hamidah Maksum-setelah bersuamikan Maksum. Ia bersama Aluh Idut melakukan tugas sebagai utusan dari pimpinan umum Hassan Basery untuk meresmikan pasukan ALRI DIVISI IV di pedalaman Kalimantan Tengah. Serta pejuang perempuan lainnya yang juga kini dijadikan nama jalan yaitu Rahmah Bahran. (shn) Editor : Arief
#pahlawan #Sejarah Banua