Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Kisah Sedih Tugu 3 Januari

M. Syarifuddin • Jumat, 25 Maret 2022 | 12:27 WIB
Photo
Photo
Tak banyak yang tahu kisah di balik keberadaan tugu 3 Januari 1949 di persimpangan Jalan Tepian Kelurahan Tanjung Kabupaten Tabalong.

Pembuatan tugu di tahun 1997 lalu oleh Pemerintah Kabupaten Tabalong itu ternyata memiliki kisah heroik yang memilukan hati. Ini terjadi pasca kemerdekaan Indonesia, Belanda kembali datang untuk kembali menjajah Indonesia.

Pengurus Cabang Pemuda Panca Marga (PPM) Kabupaten Tabalong Hivianoor mengatakan dulu tepat di tugu itu adalah tempat pembantaian para pejuang kemerdekaan yang berusaha melawan penjajahan kembali oleh Belanda.

Pria berusia 61 tahun, anak dari Pimpinan Markas Pedalaman Sidowarjo Desa Tantaringin, Asnawi A Taher itu menceritakan, awalnya para pejuang yang terdiri dari beberapa divisi perjuangan berkumpul untuk menyerang markas Belanda di kawasan Ujung Murung, Kecamatan Tanjung, Kabupaten Tabalong.“Pejuang ada yang datang dari Haruai, Kelua dan Markas Pedalaman Sidowarjo Tantaringin,” ujarnya.

Upaya menyerang markas Belanda ternyata bocor. Belanda melakukan serangan cepat sehingga perlawanan sengit terjadi. Walhasil, pejuang yang diantaranya Asnawi A Taher tersudut dan terkumpul di sebuah danau kebun tanaman rumbiyah, yaitu tempat tugu 3 Januari 1949 berada.

Kondisi yang menghimpit membuat peristiwa naas para pejuang, yang akhirnya dilakukan pembantaian masal oleh Belanda. “Banyak dulu yang mati ditembaki,” ujar Hivianoor.

Untungnya, ayah Hivianoor berhasil lari meski tunggang langgang menuju sungai Tabalong dan menyeberanginya hingga bersembunyi di Kuranji, Kelurahan Sulingan, Kecamatan Murung Pudak, Tabalong.

Peristiwa 3 Januari 1949 itu pun diabadikan dalam monumen tugu di tahun 1997. Wujudnya berbentuk persegi berwarna merah, seolah mengisahkan bagaimana para pejuang harus mengorbankan dirinya demi negara.

Selain itu, dipermukaan tugu juga tertulis "rila mati bakalang toembak dari pada di djadjah walanda dua kali" yang artinya rela mati tertusuk tombak dari pada dijajak kembali oleh Belanda dua kali.

Agar nuansa keindahan tugu tetap terjaga, sekitarannya juga telah dihiasi dengan taman yang cukup terawat. Ditambah terdapat ornamen lambang Kabupaten Tabalong. (ibn/by/ran)
Editor : Arief
#Sejarah Banua