Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Legenda Gua Batu Hapu

M. Syarifuddin • Selasa, 8 Maret 2022 | 11:15 WIB
Guru Sekumpul
Guru Sekumpul
Gua Batu Hapu adalah objek wisata yang belum banyak orang tahu. Gua yang berada di Kabupaten Tapin ini memiliki keindahan tersendiri, karena di tengah gua, ada langit-langit yang berlubang. Cahaya matahari masuk menyinari area gua.

Lokasi Gua Batu Hapu cukup jauh dari pusat Kota Rantau. Jaraknya hampir 43 kilometer.

Sejarah Gua Batu Hapu sampai sekarang tidak ada yang mengetahuinya. Hanya mitos atau kisah legenda saja dari mulut ke mulut yang berkembang.
“Jadi benar atau tidaknya belum dipastikan. Tapi kisah seperti Malin Kundang yang beredar dari dulu,” kata Sugianto penjaga Gua Batu Hapu.

Diceritakannya zaman dulu ada ibu dan anak yang hidup miskin. Nama anaknya Angui dan Ibunya Nyai Gudanpi.

“Lalu ada saudagar yang kasihan melihat mereka. Kemudian mengangkat Angui sebagai anak angkat, dengan harapan kelak bisa menjadi tumpuan keluarga,” ucapnya.

Namun harapan itu ternyata tidak sesuai, bersama saudagar tersebut Angui hidup bermalas-malasan dan sering menghamburkan uang. Melihat itu, dia langsung diusir.

“Lantas Angui tidak pulang ke ibunya, malah merantau. Singkat cerita ia sukses dan menikah dengan seorang putri,” katanya.

Ternyata istri Angui ingin mengetahui keluarganya. Diajaklah ke kampung halaman menggunakan kapal. Nyai Gudanpi mengetahui anaknya pulang, langsung menunggu di pelabuhan.

“Keluarlah pemuda tersebut, langsung dihampirinya. Melihat Nyai Gudanpi berpakaian tidak layak, tidak diakuinya Angui sebagai ibu kandungnya. Nyai Gudanpi memperlihatkan binatang peliharaannya waktu kecil. Tapi tetap tidak diakui,” ceritanya.

Sakit hatilah Nyai Gudanpi, secara refleks mengeluarkan kata-kata yang tak harus diucapkan kepada Angui.

“Angui bersama istrinya pulang menggunakan kapal tersebut. Tiba-tiba badai hitam ada, kapal itu patah. Sebagian ada di sini dan sebagian lagi ada di Barabai,” jelasnya menutup cerita.

Namun diakuinya kisah yang ia ceritakan belum tentu kebenarannya. Jadi ia memohon maaf, tidak bisa memberikan cerita lebih.“Itulah cerita yang berkembang di sini,” bebernya.

Ditambahkannya di Gua Batu Hapu sudah ada beberapa yang melakukan penelitian. Seperti dari Geopark, di sana mereka meneliti tentang proses bebatuan tersebut.

“Sempat saya tanyakan, mereka menjawab bahwa air yang menetes ada kapurnya, jadi terbentuklah stalagtit dan stalagmit,” bebernya.

Lalu ada juga dari Universitas Veteran Yogyakarta yang meneliti tentang umur bebatuan. Diperkirakan sudah ribuan tahun.“Untuk nama Gua Batu Hapu sendiri, memang berasal dari bahasa Jawa, Hapu yang artinya kapur. Karena di sini kebanyakan warga transmigrasi,” ucapnya.

Diberitahukan warga transmigrasi masuk ke sini sekitar tahun 75 dan diceritakan bahwa Gua ini sudah ada, tapi masih dengan hutan yang lebat.
“Tapi sejak saya pindah ke sini tahun 1997, Gua Batu Hapu sudah jadi objek wisata dan ramai dikunjungi,” ucapnya.

Untuk kondisi bangunan sendiri dari awal tidak ada renovasi. Hanya pagar di depan saja yang dibuat beton. “Sementara untuk kunjungan wisatawan, memang masih sepi sejak Pandemi Covid-19. Bahkan sempat ditutup,” pungkasnya. (dly/by/ran)


Editor : Arief
#Tahulan Pian #Wisata Banjar