Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Masjid Sultan Suriansyah Mirip Masjid Demak

M. Syarifuddin • Selasa, 22 Februari 2022 | 14:49 WIB
Photo
Photo
Warga Kalimantan Selatan (Kalsel) sudah tidak asing dengan Masjid Sultan Suriansyah. Pembangunan masjid ini tak lepas dari sosok Sultan Suriansyah yang merupakan Kesultanan Banjar pertama.

Masjid ini terletak di Jalan Alalak Utara, Kelurahan Kuin Utara, Banjarmasin Utara. Masjid ini terletak di tepian Sungai Kuin. Berdasarkan SK Menteri PM.27/PW.007/MKP/2008, tanggal 23 Mei 2008 ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya.

Pembangunan masjid ini dilaksanakan setelah Pangeran Samudera, nama asli Sultan Suriansyah, berhasil merebut kekuasaan Kerajaan Negara Daha dari cengkeraman pamannya yang bernama Pangeran Tumenggung.

"Untuk memantapkan kekuasaan yang terbentuk 24 September 1526 M, 21 tahun kemudian Sultan Suriansyah membangun masjid itu pada 24 September 1547 M," jelas ketua umum Pengelola Masjid Sultan Suriansyah, Ahmad Sya'rani, Senin (20/2).

Diceritakan, adanya bantuan dari Kerajaan Demak ketika Sultan Suriansyah perang dengan pamannya, ternyata juga berpengaruh terhadap gaya arsitektur pembangunan Masjid Sultan Suriansyah.

"Lihat saja arsitektur Masjid Sultan Suriansyah mirip sekali dengan Masjid Agung Demak," ujarnya. Hal itu dapat dilihat pada bagian atap masjid yang berupa tumpeng berundak, bukan kubah seperti kebanyakan masjid di Kalsel. Ini merupakan pola khas bangunan Jawa, mirip arsitektur Masjid Agung Demak.

Fungsi masjid bagi Kesultanan Banjarmasin pada masa itu sebagai lambang kesultanan. Awalnya, konstruksi bangunan masjid terdiri dari tiang utama (Sokoguru) dari kayu halayung, sejenis kayu pinang. Ukurannya besar dan jumlahnya 4 buah. Lantainya juga dibuat dari bahan kayu halayung, ukuranya 16 x 16 meter.

Setelah tampuk kepemimpinan berganti dari Sultan Suriansyah ke tangan Sultan Tamjidillah bin Sultan Tahlilullah 1735 M, masjid dipugar. Namun tidak banyak, hanya tiang utamanya saja. Mungkin karena sudah lapuk dimakan usia lebih dua abad, diganti dengan kayu ulin. Diameternya 50 cm berbentuk segi enam.

Sebanyak 17 pintu yang ada dibuat ventilasi yang bermotif kaligrafi syahadat. Bangunan atapnya berbentuk limas tumpang talu (Tiga). Atap mihrab berbentuk limas segi enam sedangkan atap bagian serambi berbentuk limas segi empat.

Pada pintu asli terpasang dengan kondisi relatif masih baik. Daun pintu dihiasi dengan ukiran dan kaligrafi. Pada daun pintu sebelah kanan tertulis dalam bahasa Arab Melayu yang maknanya "Sesudah hijrah Nabi Shallahu'alihi wasallam, tahun 1114 Hijriah wakaf zaman Sultan Tamjidillah Kerajaan Dalam Negeri Banjar". Pintu ini dilengkapi as (Poros) dan sunduk lawang.

Bangunan masjid sempat berubah dari kayu menjadi semi beton. Namun, belum jelas tahun berapa perubahan itu dilaksanakan karena belum ada informasi valid mengenai hal itu. Meski begitu empat tiang utama, mimbar dan daun pintu yang tidak diubah.

"Diubah kembali ke arsitektur kuno jaman kerajaan dulu pada tahun 2001," jelasnya. Ia masih mencoba menelusuri kisah pembangunan masjid tersebut dengan warga maupun dari literasi lainnya. Sebab menurutnya, masih banyak hal yang hilang dari bangunan tersebut, seperti tempat wudhu maupun jalan yang sering dilalui Sultan Suriansyah ketika salat di Masjid Sultan Suriansyah.

"Sehingga ketika wisatawan datang ke sini bisa tahu, paling tidak mereka bisa merasakan atmosfir pada masa itu," pungkas Sya'rani. (gmp) Editor : Arief
#Religi #Tahulan Pian #Masjid