Di masjid ini juga prosesi Baayun Maulid sering dilaksanakan. Setiap tahun hampir ribuan peserta yang ikut. Sedangkan yang hadir belasan ribu orang.
Bahkan, masjid ini sudah menjadi cagar budaya atau masjid tua Banua Halat. Dilindungi UU RI tahun 2010 tentang Cagar Budaya.
Namun, adakah yang tahu, sejarah berdirinya masjid tersebut? Karena rata-rata masyarakat tidak mengetahui pastinya tahun berapa masjid ini berdiri.
“Memang kami tidak mengetahui pastinya kapan masjid ini berdiri,” ucap pengurus Masjid Al-Mukarramah, Abdul Halim.
Namun, masyarakat meyakini bahwa masjid ini berdiri sejak zaman kerajaan dulu. Tandanya adalah kentong tua yang ada di masjid.
“Itu dibuat memang saat zaman kerajaan, dengan ukuran yang ada. Diperkirakan sudah ratusan tahun,” tuturnya.
Diberitahukan Abdul Halim, masjid ini memang tergolong yang keramat. Salah satu sejarah yang diceritakan turun temurun bahwa ada tiang keramat. Di mana tiang ini diambil di pegunungan.
“Saat zaman penjajahan masjid ini pernah dibakar. Semuanya hangus, tapi tinggal tiang ini yang masih utuh. Sejak itulah tiang ini jadi keramat,” tuturnya.
Lalu saat pembangunan ulang masjid ini, dilakukan secara gotong royong. Saat itulah ada kisah yang juga menarik. Siang hari, masyarakat istirahat, rencana untuk menyantap makan.
“Tapi ikannya tidak cukup. Berinisiatiflah orang yang dituakan sapaan akrab beliau Datu Ujung, untuk mengambil ikan di Nagara. Dengan harapan warga bisa menunggu kedatangannya sebelum makan,” tuturnya.
Saat itu dari yang gotong royong, sebagian percaya bahwa Datu Ujung bisa mengambil dengan cepat. Ada juga sebagian yang tidak memercayainya. Mereka yang tidak percaya langsung makan.
“Beberapa saat kemudian Datu Ujung datang, melihat ada yang sudah makan. Marahlah beliau,” imbuhnya.
Kemarahannya diekspresikan dengan cara menancapkan tiang besar secara langsung, hingga condong. Serta menghentakkan kaki di lantai, hingga lantainya miring.
“Sehingga diyakini oleh masyarakat sini, bahwa masjid ini keramat,” tuturnya.
Sementara kisah lain juga ada. Yahya, penjaga masjid menceritakan bahwa memang masjid ini dibangun oleh Datu Ujung atau H Syaifullah. Tapi untuk tahunnya tidak diketahui.
“Memang tahun berdirinya hingga saat ini belum diketahui,” ucapnya. Adapun kisah saat pembangunan, memang dulu dilakukan secara gotong royong. Saat itu selamatan masjid, ternyata ikannya tidak cukup. Datu Ujung pun ke Nagara untuk mengambil ikan sepat kering menggunakan perahu.
“Banyak yang tidak percaya, bahwa beliau bisa datang cepat. Ternyata sekitar setengah jam datang. Namun orang-orang sudah makan,” tuturnya.
Beliau pun langsung menyerahkan ikan yang dibawa tersebut. Lalu langsung mengambil air wudhu untuk salat. Sujudnya lama, sampai matahari turun. Lalu Datu Ujung menghilang.
“Ketika itu tempat beliau salat jadi miring, hingga sekarang. Sebenarnya pernah direhab, tapi kembali lagi,” pungkasnya. (dly) Editor : Arief