Diapit deretan ruko lainnya yang berada di Jalan Pasar Baru, Kecamatan Banjarmasin Tengah, bangunan tiga lantai Bobo hingga kini masih berdiri kokoh. Berkelir putih, khas dengan keramik yang menempeli dindingnya.
"Saya pernah merasakan bermain sepatu roda di sini. Mengasyikan dan selalu ramai," ucap warga M Jumahuddin Noor, warga KS Tubun, yang ditemui penulis di kawasan itu kemarin (2/1). Wahana sepatu roda di Bobo memang yang paling terkenal."Mungkin karena memang, saat itu, pengguna sepatu roda tak sebanyak dan seramai sekarang," tambahnya.
Senada dengan penuturan salah seorang pegawai toko bangunan di kawasan itu, Idar. Seingatnya wahana sepatu roda lah yang membuat Bobo terkenal.
"Jumat, Sabtu dan Minggu, parkiran kendaraan selalu penuh. Bahkan sampai jam 9 malam. Sekarang, di kawasan ini, jam 5 sore saja sudah sepi sekali," ungkapnya.
Menurut Idar, kondisi luar bangunan Bobo International Restaurant itu masih tak begitu banyak berubah. Yang hilang, hanya tulisan Bobo International Restaurant-nya dan soal fungsinya saja.
Di lantai satu dan dua bangunan itu kini beralih menjadi gudang makanan ringan. Sedangkan di lantai tiga, kini difungsikan sebagai sarang walet.
"Kalau dahulu, setahu saya gedung itu full diisi wahana bermain atau hiburan. Lengkap dengan tempat makannya," jelasnya.
Apakah benar gedung itu terkenal karena wahana bermain sepatu rodanya saja? Radar Banjarmasin menemukan fakta lain. Setelah ditelusuri, rupanya gedung itu juga terkenal dengan tempat karaoke-nya.
"Saking terkenalnya, hiburan di gedung ini bersaing dengan Arjuna Plaza di Jalan Lambung Mangkurat. Yang saat ini, baik Bobo dan Arjuna, suda beralih fungsi," ungkap seorang warga lainnya, Mugi Hartono.
Lelaki 70 tahun itu mengaku tahu banyak tentang Bobo.Ia pernah bekerja di salah satu perusahaan yang konon pemiliknya berkarib dengan si pemilik Bobo International Restaurant.
"Kunci gudang perusahaan tempat saya bekerja dulu, diletakan di sini (gedung bobo). Sisanya, yang saya ingat, saya cuma sering mengusir remaja yang berantem di sini. Gara-gara rebutan cewek," ungkapnya, lalu terkekeh.
Lantas, apa yang membuat Bobo kehilangan pelanggannya? Mugi mengatakan, tak lain dan tak bukan karena imbas dari kerusuhan besar pada 23 Mei 1997 atau yang biasa dikenal dengan peristiwa Jumat Kelabu.
"Adanya sweeping ormas juga berpengaruh. Kau saya tidak keliru, saat itu sedang ramai-ramainya Ormas Garu Sikat. Jadi anak muda atau remaja yang kedapatan ada di sini diusir," jelasnya.
Setelah kian meredup, dia mengatakan gedung Bobo akhirnya dijual ke orang Arab. Dan difungsikan sebagai gudang makanan ringan.
Di sela perbincangan, Mugi lantas memanggil seorang rekannya. Namanya, Fey. Dari perawakan, ia jauh lebih muda dari Mugi.Ditanya terkait apa yang dulunya membuat Bobo terkenal, Fey menyebut tidak hanya wahana sepatu roda dan karaoke."Ada tempat biliar dan bingo," kenangnya.
Bising kendaraan bermotor yang lalu lalang seakan tidak pernah berhenti di kawasan itu. Parkir kendaraan bermotor juga tampak berjubel. Namun yang datang tentu tak lagi untuk menikmati hiburan. Melainkan untuk bongkar muat angkutan barang. (war)
Editor : Arief