Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Mathilda, Pejuang Wanita yang Gugur Saat Hamil

M. Syarifuddin • Sabtu, 29 Januari 2022 | 18:57 WIB
Photo
Photo
Di gedung Polda Kalsel, ada sebuah aula yang sangat terkenal bernama aula Mathilda Batlayeri. Tak banyak yang tahu siapa Mathilda yang namanya diabadikan sebagai nama aula. Selain aula, nama Mathilda juga adalah nama jalan dan nama bandara di Kepulauan Tanimbar, tempat asal Mathilda Batlayeri.

Mathilda Batlayeri adalah nama seorang istri Polisi yang gugur dalam mempertahankan pos polisi di Kurau Kabupaten Tanah Laut. Dia gugur bersama dengan ketiga anaknya saat menghadapi serbuan dari gerombolan pengacau di masa -masa pergolakan-pergolakan republik muda.

Ketidakpuasan terhadap kebijakan politik yang diambil oleh pemerintah pusat uang membuat pergolakan banyak terjadi di daerah-daerah. Dan tidak berbeda dengan daerah lainnya, wilayah Kalimantan pada tahun 1950-an hingga pertengahan 1960-an terjadi pergolakan.

Gerakan Pengacau Keamanan ini senantiasa melakukan teror dan penyerangan kepada kampung-kampung yang dilaluinya. Tak jarang terjadi penghadangan dan penyerangan terhadap patroli-patroli tentanra dan polisi dengan tujuan utama merebut senjata sebanyak -banyaknya.

Pada Rabu, 28 September 1953 dini hari, satu dari gerombolan itu melakukan penyerangan terhadap pos polisi di Kurau. Dalam penyerangan tersebut, kekuatan gerombolan mencapai 50 orang pasukan yang tergabung dari pasukan yang dipimpin oleh Handil Lawahan dan Handil Bakalang dengan pucuk pimpinan tertinggi Suwardi yang dikenal memiliki ilmu kebal.

Mereka dipersenjatai dengan beberapa jenis senjata api yang terbilang modern pada saat itu. Namun ada juga dari mereka yang hanya bersenjata tajam yang dikenal dengan nama Kelompok Riwas.

Serangan mendadak di ambang fajar yang dilakukan oleh gerombolan tersebut hanya dihadapi oleh lima orang anggota Polisi bersenjata dan seorang Bhayangkari yang mempergunakan senjata jenis moser milik suaminya. Bhayangkari tersebut adalah Mathilda Batlayeri, yang melibatkan diri dalam pertempuran dikarenakan kekuatan anggota polisi yang tidak berimbang dalam pertempuran tersebut.

Suami Mathilda Batlayeri, AP II (Agen Polisi II) Adrianus Batlayeri, saat pertempuran terjadi sedang mengambil air di sumur, namun karena tidak memungkinkan untuk kembali maka Adrianus tidak terlibat dalam pertempuran.

Dalam Pertempuran tersebut, gerombolan mengalami kesulitan untuk melumpuhkan kekuatan pos polisi. Bahkan Suwardi pempimpin penyerangan yang konon memiliki ilmu kebal, tertembak oleh Mathilda Batlayeri.

Namun tetap saja pertempuran tersebut berlangsung dengan tidak seimbang. Satu persatu Kesuma Bangsa berguguran, termasuk ketiga anak dari Mathilda Batalyeri.

Secara berurutan, putra pertama Mathilda “Alex” gugur, saat itu Alex baru berusia sembilan tahun, kemudian putra kedua Mathilda “Lodewijk” menyusul gugur, waktu itu usia Lodewijk baru 6 tahun, dia gugur dikamar asrama yang mereka tempati. Kemudian putra ketiga Mathilda “Max” juga gugur diusian 2,5 tahun, Max meninggal dipelukan ibunya.

Karena melihat ketiga anaknya sudah meninggal, membuat semangat tempur Mathilda Batlayeri seorang Bhayangkari semakin berkobar, akan tetapi setelah bertempur kurang lebih satu setengah jam, akhirnya Mathilda Batlayeri gugur sebagai Kesuma Bangsa bersama janin yang sedang dikandungnya.

Setelah tidak ada perlawanan lagi dari pihak Polisi, gerombolan membumuhanguskanpos dan asrama Polisi Kurau. Jenazah Mathilda Batlayeri dan ketiga anaknya turut terbakar dalam kobaran api tersebut.

Semangat juang dan pengabdian yang tiada terkira Mathilda Batlayeri menjadi hal yang patut untuk dihormati dan dikenang. Untuk jasa-jasanya tersebut, atas perintah Kadapol XIII Kalselteng Brigjen Pol. Drs. Sanusi (Mantan Kapolri periode 1987-1991) pada tanggal 13 Agustus 1983 mengabadikan pertempuran itu dalam sebuah Monumen Bhayangkari Teladan Mathilda Batlayeri di Kurau.

Pada bagian depan monumen terukir tulisan yang merupakan pesan terakhir dari Mathilda: “Kepada penerusku, aku bhayangkari dan anak-anakku terkapar di sini, di Bumi Kurau yang sunyi. Semoga pahatan pengabdianku memberi arti pada Ibu Pertiwi.

Sebuah monumen Mathilda Batlayeri juga dibangun Pemerintah Kabupaten Maluku Tenggara Barat (MTB) di Saumlaki, tempat kelahiran sang Bjhayangkari. (ran/by/ran) Editor : Arief
#Polisi #Tahulah Pian #Sejarah