Datu Sanggul bukan orang Banjar. Dia datang dari Palembang ke Kalimantan untuk berdakwah tentang Islam. Singkat cerita sampailah dia ke kampung Muning (sebutan Desa Tatakan zaman dulu).“Memang beliau menetap di sini. Sambil menuntut ilmu dan berdakwah,” ucap Kepala Desa Tatakan Ilhamsyah.
Ilhamsyah menuturkan keramat Syekh Muhammad Abdussamad. Beliau sering salat Jumat di Masjidil Haram Mekkah. Mulanya masyarakat bingung dan mempertanyakan kenapa tidak salat Jumat di Masjid. Padahal waktu itu, ada aturan yang mewajibkan setiap umat muslim salat Jumat di masjid.
“Karena beliau tidak pernah kelihatan salat Jumat di masjid. Didatangi masyarakat ke rumahnya untuk mempertanyakan. Akhir Minggu berikutnya beliau datang ke masjid untuk salat Jumat di kampung,” katanya.
Saat itulah keramat Datu Sanggul terlihat, ketika salat, kaki beliau terangkat dari sajadah. “Akhirnya masyarakat menyadari bahwa beliau ada karomah. Sejak saat itu masyarakat tidak menyuruh beliau lagi saat Jumat di Masjid. Karena kata beliau, setiap Jumat salat di Masjidil Haram,” tuturnya.
Kesaksian Datu Sanggul salat Jumat di Masjidil Haram dibuktikan oleh Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari atau Datu Kelampaian yang sering ketemu Datu Sanggul di Mekkah untuk salat jumat.
“Datu Kelampaian penasaran dengan Datu Sanggul, karena waktu di Mekkah hanya ada pas salat jumat. Sedangkan hari lainnya tidak ada,” ucapnya.
Lalu ditanyakanlah berasal dari mana, begitu kagetnya Datu Kelampaian ternyata Datu Sanggul berasal dari tanah Borneo. “Datu Kelampaian tidak langsung percaya. Untuk membuktikan bahwa Datu Sanggul berasal dari Borneo, ia meminta dipetikkan durian yang ada di Kerajaan Banjar yang mana durian tersebut baru bisa dipetik saat Datu Kelampaian pulang dari menuntut ilmu di Mekkah,” bebernya.
Ternyata durian tersebut bisa dibawakan ke Mekkah. Sejak saat itu Datu Kalampain percaya. (dly/by/ran) Editor : Arief