CERPEN oleh: M Padil Ihsan
Banjarmasin selalu punya cara sendiri mempertemukan orang-orang yang sebelumnya tidak saling kenal.
Di sebuah kompleks kecil yang tidak jauh dari pusat kota, enam pemuda dari enam banua berbeda tinggal dalam satu lingkungan. Mereka sama-sama kuliah di Banjarmasin, sama-sama masih bujang, sama-sama sedang mengejar masa depan, dan sama-sama belum tahu bahwa perantauan mereka akan membawa cerita yang jauh lebih rumit daripada sekadar urusan kampus.
Orang-orang di kompleks itu kemudian mengenal mereka dengan satu sebutan.
Bujang Anam.
Enam bujang dari enam banua.
Aluy dari Tapin, yang paling pandai mencairkan suasana.
Utuh dari Kandangan, yang lebih banyak diam dan memperhatikan.
Amat dari Barabai, paling percaya diri dan merasa dirinya punya daya tarik luar biasa.
Udin dari Amuntai, yang gemar merangkai kata-kata manis.
Anang dari Balangan, sederhana tetapi tidak mau kalah dalam urusan cinta.
Dan Abai dari Tabalong, yang paling sering menjadi penonton sekaligus komentator dari tingkah kelima kawannya.
Keenamnya tinggal di rumah kos yang berdekatan. Hari-hari mereka diisi kuliah, tugas, makan seadanya, dan perdebatan kecil tentang siapa yang paling banyak menghabiskan beras atau siapa yang terakhir menggunakan kamar mandi.
Sampai suatu hari, perhatian mereka beralih kepada seorang gadis. Namanya Angel.
Angel tinggal bersama keluarganya di salah satu rumah di kompleks itu. Usianya tidak jauh dari mereka. Wajahnya cantik, pembawaannya ramah, dan hampir setiap sore ia terlihat membantu ibunya di halaman rumah.
Tidak butuh waktu lama bagi lima dari enam bujang untuk menyadari satu hal. Angel adalah primadona kompleks.
Amat menjadi orang pertama yang terang-terangan mendekatinya. Ia sering sengaja membeli minuman di warung yang letaknya tepat di depan rumah Angel, meski sebenarnya kos mereka memiliki warung yang lebih dekat.
Udin memilih cara berbeda. Ia rajin mengirim pesan kepada Angel dengan berbagai alasan. Mulai dari bertanya soal tugas kuliah sampai sekadar menanyakan cuaca.
Anang lebih sederhana. Kalau melihat Angel membawa barang, ia langsung menawarkan bantuan.
Abai tidak mau kalah. Ia beberapa kali sengaja ikut berkumpul ketika Angel sedang berbincang dengan warga kompleks.
Aluy sendiri tidak terlalu agresif, tetapi ia selalu punya bahan candaan setiap kali Angel muncul.
Hanya satu orang yang tidak ikut berlomba. Utuh. Ia menyukai Angel. Itu sebenarnya sudah diketahui oleh kelima kawannya. Namun Utuh tidak pernah menunjukkan hal tersebut secara terang-terangan.
Ia tidak pernah sengaja duduk di depan rumah Angel. Tidak pernah mengirim pesan tanpa alasan. Tidak pernah mencari kesempatan untuk berfoto bersama. Bahkan ketika kelima kawannya sibuk membicarakan bagaimana cara mendekati Angel, Utuh lebih sering memilih sibuk dengan buku atau tugas kuliah.
Bagi yang tidak mengenalnya, Utuh terlihat seperti orang yang tidak tertarik. Padahal justru sebaliknya.
Utuh menyukai Angel sejak pertama kali melihatnya. Hanya saja ia tidak ingin menjadi salah satu dari sekian banyak lelaki yang datang membawa perhatian hanya karena Angel cantik.
Ia lebih suka memperhatikan dari jauh. Dan anehnya, justru sikap itulah yang perlahan membuat Angel memperhatikannya.
Angel mulai menyadari keberadaan Utuh. Awalnya sederhana.
Ia melihat Utuh hampir selalu pulang paling malam karena kegiatan kampus. Kadang Utuh duduk sendirian di teras kos sambil membaca. Kadang ia membantu Aluy memperbaiki motor. Sesekali ia ikut mengangkat galon untuk tetangga. Tidak ada yang istimewa.
Namun justru karena Utuh tidak berusaha terlihat istimewa, Angel mulai penasaran.
Ia kemudian mengenal satu orang yang ternyata cukup dekat dengan Utuh. Aulia. Adik Angel.
Aulia masih kuliah dan sering meminta bantuan Utuh untuk berbagai hal. Mulai dari memperbaiki laptop, mencari bahan tugas, sampai sekadar meminta pendapat tentang kegiatan kampus.
Hubungan itu berlangsung biasa saja. Bagi Utuh, Aulia adalah adik tetangga yang kebetulan sering meminta bantuan.
Bagi Aulia, Utuh adalah lelaki pendiam yang diam-diam menyukai kakaknya. Dan bagi Angel, semuanya mulai terasa berbeda.
Ia mulai sering melihat Utuh dan Aulia bersama. Bukan berdua-duaan dalam suasana romantis. Tidak pernah seperti itu.
Namun cukup sering untuk membuat Angel bertanya-tanya. Kenapa Utuh dekat dengan adiknya? Kenapa Utuh tidak pernah mendekatinya?
Kenapa lelaki yang menurutnya paling tenang justru memilih mendekati orang yang paling dekat dengannya?
Pertanyaan itu tumbuh menjadi rasa penasaran. Dan rasa penasaran perlahan berubah menjadi sesuatu yang tidak ingin ia akui.
Cemburu.
Kelima bujang yang lain sebenarnya menyadari perubahan itu. Mereka mulai mencurigai Utuh.
Suatu malam, ketika mereka berkumpul di teras kos, nama Angel kembali menjadi bahan pembicaraan. Amat menyindir bahwa Utuh diam-diam punya strategi sendiri. Udin mengatakan bahwa mendekati adik Angel adalah cara yang cukup cerdas. Anang ikut tertawa. Abai bahkan menyebut Utuh sebagai "pemain belakang layar". Utuh hanya diam. Aluy yang paling mengenalnya kemudian bertanya langsung. Utuh akhirnya mengaku. Ia memang menyukai Angel.
Tetapi ia tidak pernah meminta Aulia menjadi perantara. Ia juga tidak pernah menyuruh Aulia mencarikan jalan untuk mendekati kakaknya. Ia hanya nyaman berbicara dengan Aulia.
Dan, sedikit banyak, ia memang sering bertanya tentang Angel. Bukan karena ingin menyusun strategi. Ia hanya ingin tahu.
Apakah Angel sudah punya seseorang?
Apakah Angel sedang dekat dengan orang lain?
Apakah Angel sebenarnya merasa terganggu dengan perhatian lima bujang lainnya?
Utuh tidak ingin mendekati Angel jika kehadirannya justru membuat gadis itu tidak nyaman.
Kelima kawannya akhirnya terdiam. Untuk pertama kalinya mereka menyadari bahwa cara Utuh berbeda. Mereka berlomba mendapatkan perhatian Angel. Utuh justru takut memberikan perhatian yang salah.
Suatu sore, Angel melihat Utuh memberikan sebuah buku kepada Aulia. Tidak ada yang aneh. Namun dari tempatnya berdiri, Angel tidak mengetahui isi pembicaraan mereka. Ia hanya melihat Utuh tersenyum kecil kepada Aulia sebelum pergi. Entah mengapa, dada Angel terasa sesak.
Sejak hari itu, sikapnya berubah. Ia mulai menghindari Utuh. Ketika Utuh datang bersama Aluy dan kawan-kawannya, Angel masuk ke rumah. Ketika Utuh menyapa, jawabannya pendek. Ketika mereka kebetulan berpapasan, Angel memilih melihat ke arah lain. Utuh tidak mengerti. Ia merasa tidak melakukan apa-apa.
Lima kawannya justru mengira keadaan itu merupakan kesempatan bagi mereka. Namun semakin mereka mendekati Angel, semakin Angel terlihat tidak tertarik. Ada sesuatu yang sedang dipikirkannya. Sesuatu yang bahkan Angel sendiri belum sanggup menjelaskannya.
Beberapa hari kemudian, Aulia akhirnya mengetahui bahwa kakaknya sedang marah kepada Utuh. Aulia tidak langsung menjelaskan. Ia justru menemui Angel di kamar.
Dari situlah sebuah rahasia yang selama ini disimpan akhirnya terbuka. Ternyata sejak pertama kali Bujang Anam datang ke kompleks, Angel sudah memperhatikan Utuh.
Bukan Amat yang pertama membuatnya penasaran. Bukan Udin dengan kata-kata manisnya. Bukan Anang yang selalu menawarkan bantuan. Bukan Abai yang sering membuatnya tertawa. Bahkan bukan Aluy yang paling mudah diajak bercanda.
Orang pertama yang membuat Angel penasaran justru Utuh. Karena Utuh tidak melakukan apa-apa. Ia tidak mengejar. Tidak memuji. Tidak mencari perhatian. Ia hanya menjadi dirinya sendiri.
Aulia sudah mengetahui hal itu sejak lama. Itulah alasan Aulia sering berbicara dengan Utuh. Bukan karena Utuh meminta bantuan untuk mendapatkan Angel. Justru Aulia yang diam-diam membuka jalan. Ia tahu kakaknya menyukai Utuh. Ia juga tahu Utuh menyukai kakaknya. Masalahnya, keduanya sama-sama terlalu takut untuk memulai. Maka Aulia membiarkan keduanya saling mendekat dengan cara mereka sendiri.
Angel terdiam setelah mendengar semuanya. Tiba-tiba ia merasa malu pada dirinya sendiri. Selama ini ia mengira Utuh sedang memainkan sebuah permainan. Padahal Utuh bahkan tidak tahu bahwa dirinya sedang membuat Angel cemburu.
Malam itu hujan turun cukup deras. Kompleks menjadi lebih sepi dari biasanya. Utuh duduk sendirian di teras kos. Lima kawannya sudah masuk ke dalam. Angel keluar rumah membawa payung. Ia berhenti beberapa meter dari tempat Utuh duduk. Untuk beberapa saat, tidak ada yang berbicara.
Akhirnya Angel menghampiri. Ia tidak menanyakan soal hujan. Tidak pula membicarakan kuliah. Ia hanya ingin tahu satu hal. Kenapa Utuh tidak pernah mendekatinya?
Utuh menunduk. Jawabannya sederhana. Ia takut Angel hanya menganggapnya sebagai teman. Ia juga tidak ingin ikut menambah tekanan setelah melihat begitu banyak lelaki mendekati Angel. Menurut Utuh, kalau Angel memang menyukainya, suatu hari ia akan memberikan tanda. Kalau tidak, ia akan menerima keadaan itu. Angel tersenyum tipis.
Di situlah semua kesalahpahaman mereka selesai. Ternyata selama ini Angel juga menunggu. Bukan menunggu Utuh membuat kejutan. Bukan menunggu bunga atau hadiah. Ia hanya menunggu satu keberanian kecil dari lelaki yang selama ini paling diam.
Malam itu, untuk pertama kalinya, Utuh tidak lagi bersembunyi di balik sikap tenangnya. Ia mengatakan apa yang selama ini hanya disimpan sendiri. Ia menyukai Angel. Dan Angel tidak perlu menjawab panjang. Senyumnya sudah cukup.
Keesokan paginya, kelima bujang lainnya mengetahui kabar tersebut. Amat menjadi orang pertama yang protes. Udin merasa selama ini semua usaha mereka sia-sia. Anang hanya tertawa. Abai mengatakan bahwa mereka ternyata bukan sedang berlomba mendapatkan Angel. Mereka hanya sedang membantu dua orang keras kepala menemukan keberanian.
Aluy menjadi satu-satunya yang tidak banyak bercanda. Ia menepuk bahu Utuh dan mengatakan bahwa dari enam bujang, ternyata yang paling pendiam justru paling jauh melangkah. Utuh hanya tersenyum.
Angel kemudian datang membawa enam gelas kopi. Lima gelas diberikan kepada lima bujang yang selama ini terang-terangan mengejarnya. Satu gelas terakhir ia berikan kepada Utuh.
Tidak ada perayaan. Tidak ada pengumuman. Tidak ada kemenangan yang harus dirayakan. Karena pada akhirnya, Angel bukan hadiah yang berhasil dimenangkan Utuh. Angel memilih Utuh. Dan Utuh memilih Angel.
Sementara lima bujang lainnya harus menerima kenyataan bahwa cinta memang tidak selalu tentang siapa yang paling cepat mendekat, paling sering memberi perhatian, atau paling berani menunjukkan perasaan. Kadang-kadang, cinta justru tumbuh di antara dua orang yang sama-sama diam. Hanya saja, mereka membutuhkan sedikit keberanian untuk saling menemukan.
Sejak hari itu, Bujang Anam tetap berenam. Enam lelaki dari enam banua. Mereka masih kuliah, masih tinggal di kompleks yang sama, masih ribut soal makanan dan uang kos. Hanya saja, sekarang ada satu hal yang berubah. Di antara enam bujang itu, seorang gadis dari kompleks tersebut telah menjadi bagian dari cerita mereka.
Dan jika suatu hari orang bertanya siapa yang memenangkan hati Angel, kelima bujang itu mungkin akan menunjuk Utuh.
Namun Utuh sendiri tahu jawabannya. Ia tidak pernah memenangkan Angel. Mereka hanya akhirnya saling menemukan.
Sebab di Banjarmasin, tempat enam bujang datang untuk mengejar masa depan, mereka belajar satu hal yang tidak pernah diajarkan di ruang kuliah:
Tidak semua cinta harus dikejar. Ada yang cukup diberi ruang untuk tumbuh, lalu keberanian untuk mengakuinya.
Catatan Penutup Penulis:
Cerita “Bujang Anam” merupakan karya fiksi yang lahir dari imajinasi dan ide cerita penulis. Penyebutan enam banua dalam cerita ini semata-mata digunakan sebagai latar dan identitas tokoh untuk menggambarkan keberagaman anak muda yang merantau dan bertemu di Banjarmasin.
Cerita ini tidak dimaksudkan untuk menyudutkan, menggambarkan stereotip, merendahkan, ataupun mewakili karakter masyarakat dari banua mana pun. Nama daerah, karakter tokoh, maupun rangkaian peristiwa di dalamnya merupakan bagian dari kebutuhan cerita dan tidak dimaksudkan sebagai gambaran terhadap masyarakat atau budaya daerah yang sebenarnya.
Jika terdapat kesamaan nama, karakter, kejadian, ataupun situasi dengan kehidupan nyata, hal tersebut merupakan kebetulan semata. “Bujang Anam” sepenuhnya merupakan fantasi dalam ide cerita penulis, sebuah kisah sederhana tentang persahabatan, perantauan, keberagaman, dan cinta yang dipertemukan di satu kota: Banjarmasin.
Enam banua, enam karakter, satu cerita. Semuanya hanya bagian dari imajinasi.
Tentang Penulis:
M. Padil Ihsan, seorang penulis dari Desa Durian Rabung, HSS, yang mencoba menuangkan ide-ide dalam sebuah tulisan.