Pajaliau Purun, Cara Perahu Kata Merawat Bahasa Bakumpai

Maulana Radar Banjarmasin • Dipublikasikan Rabu, 23 September 2026 | 18:24 WIB

BERPUISI: Peserta membacakan puisi saat peluncuran antologi dua bahasa Pajaliau Purun di Aula Selidah, Marabahan. (Foto: Maulana)
BERPUISI: Peserta membacakan puisi saat peluncuran antologi dua bahasa Pajaliau Purun di Aula Selidah, Marabahan. (Foto: Maulana)

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM,  Marabahan - Bahasa Bakumpai terus dirawat agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman. Komunitas Perahu Kata memilih sastra dan teknologi digital sebagai dua jalur untuk mengenalkan bahasa tersebut kepada masyarakat, terutama generasi muda.

Salah satu upaya itu diwujudkan melalui peluncuran antologi puisi dua bahasa Pajaliau Purun di Aula Selidah, Marabahan, Kabupaten Barito Kuala (Batola), Selasa (22/9/2026).

Buku setebal 162 halaman itu memuat 62 puisi dalam Bahasa Bakumpai dan Bahasa Indonesia karya 50 penulis yang lolos kurasi.

Ketua Komunitas Perahu Kata sekaligus penggagas penerbitan Pajaliau Purun, Syarif Hidayatullah, mengatakan penerbitan buku mendapat dukungan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah melalui Balai Bahasa Kalimantan Selatan.

"Alhamdulillah pembuatan buku sepenuhnya didukung Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah melalui Balai Bahasa Kalsel," ujar Syarif.

Menurut Syarif, penggunaan dua bahasa sengaja dipilih agar buku tersebut tidak hanya menjadi wadah karya sastra. Antologi itu juga diharapkan menjadi pintu masuk bagi masyarakat yang belum mengenal Bahasa Bakumpai.

"Tujuannya memperkenalkan Bahasa Bakumpai. Karena itu kami membuat sebuah buku yang mudah dipahami oleh bukan penutur Bahasa Bakumpai," katanya.

62 Puisi dari 50 Penulis

Penyusunan antologi dimulai dengan menghimpun 66 karya selama Juli hingga Agustus 2026. Seluruh puisi kemudian diseleksi tim kurator yang terdiri atas Aspihannor, Budi Kurniawan, dan Surya Achdiat. Hasilnya, 62 puisi karya 50 penulis terpilih untuk diterbitkan.

Menariknya, para penulis tidak seluruhnya berasal dari kalangan Dayak Bakumpai. Sejumlah penulis berasal dari daerah lain, termasuk Hulu Sungai Tengah dan Tanah Bumbu.

"Ini memperlihatkan adanya keinginan dari orang yang bukan Dayak Bakumpai untuk mempelajari Bahasa Bakumpai," ungkap Syarif.

Tema yang diangkat juga beragam. Para penulis menuangkan berbagai kearifan lokal ke dalam puisi, mulai dari legenda urban, budaya, lingkungan, hingga romansa.

Nama Pajaliau Purun merepresentasikan dua entitas. Purun menggambarkan sesuatu yang nyata, sedangkan pajaliau bersifat abstrak.

Purun merupakan tumbuhan lokal yang banyak dimanfaatkan masyarakat sebagai bahan baku kerajinan tangan. Sementara itu, pajaliau dalam kepercayaan masyarakat setempat berkaitan dengan penyakit atau teguran leluhur akibat kesalahan maupun kealpaan seseorang.

Bahasa Bakumpai Masuk Digital

Upaya merawat Bahasa Bakumpai tidak berhenti melalui buku. Komunitas Perahu Kata juga membawanya ke ruang digital agar lebih dekat dengan anak-anak dan generasi muda.

Muhammad Noor Fadillah dari Perahu Kata mengatakan masyarakat dapat mempelajari Bahasa Bakumpai melalui Lebubahalap.web.id.

Platform tersebut dikembangkan sebagai media pembelajaran sekaligus pelestarian Bahasa Bakumpai dengan memanfaatkan teknologi digital.

"Di website ini tersedia fitur kamus digital Bahasa Bakumpai, permainan kata, lagu Bakumpai, tulisan Bakumpai, informasi agenda budaya Bakumpai dan arsip literasi Batola," jelasnya.

Platform itu juga membuka ruang partisipasi masyarakat. Pengunjung dapat menambahkan kosakata Bahasa Bakumpai melalui fitur yang tersedia. Kosakata tersebut bahkan dapat dilengkapi rekaman suara untuk menunjukkan cara pengucapannya.

Mewakili Pemkab Batola, Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga, Budaya dan Pariwisata (Disporabudpar) Batola Sirpan mengapresiasi penerbitan antologi tersebut.

"Mewakili Pemkab Batola, kami berterima kasih atas penyelenggaraan kegiatan ini. Ini membuktikan kebudayaan selalu hidup dan berkembang," ujarnya.

Menurut Sirpan, pelestarian budaya tidak hanya menjadi tanggung jawab masyarakat yang memiliki garis keturunan kelompok budaya tertentu. Kecintaan dan kemauan untuk mempelajari budaya juga memiliki peran penting.

"Upaya pelestarian dan pengembangan sebuah budaya bukan hanya didasari silsilah dan aliran darah, tetapi juga berkaitan dengan kecintaan orang-orang yang bukan Dayak Bakumpai untuk mengenal, mempelajari dan ikut menjaga," tambahnya.

Antropolog sekaligus akademisi Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Nasrullah, juga mengapresiasi perhatian Pemkab Batola terhadap kebudayaan Dayak Bakumpai.

Namun, ia berharap pengembangan kebudayaan tidak hanya berorientasi pada penguatan identitas kelompok, tetapi juga dilihat dari perspektif yang lebih luas.

"Diharapkan juga Pemkab Batola lebih mengangkat Dayak Bakumpai bukan dari sisi etnosentris saja, tetapi juga etnosains dan kemajuan kebudayaan," harap Nasrullah. (*)

Editor : M. Ramli Arisno
Bahasa Bakumpai Pajaliau Purun antologi puisi Bakumpai Komunitas Perahu Kata pelestarian Bahasa Bakumpai