Cerpen Oleh: Masruswian
Sirene ambulans selalu membuat kakiku mencari pedal rem, bahkan ketika kendaraan itu melaju dari arah berlawanan.
Sore itu aku sedang memperlambat mobil di depan Air Mancur. Di seberang jalan, seorang pedagang membelah durian di bawah payung biru. Sebelum sempat kuputuskan hendak berhenti atau meneruskan perjalanan, sirene terdengar dari belakang. Aku menepi. Mobil-mobil membuka jalan, sepeda motor merapat ke bahu aspal, dan sebuah ambulans melintas dengan lampu merah berputar di atas atapnya. Dalam beberapa detik, kendaraan putih itu telah menghilang di tikungan, tetapi kedua tanganku masih mencengkeram kemudi.
Di kaca depan, jalan tetap terbentang di bawah langit Barabai yang kelabu. Namun, di dalam kepalaku, malam telah turun. Aku kembali mengemudi di belakang sebuah ambulans, mengejar cahaya merah yang berlari-lari di aspal, sementara Mama terbaring di dalamnya.
Empat hari sebelum malam itu, Mama meneleponku.
“Indra sedang sibuk, Nak?”
Begitulah caranya selalu memulai permintaan. Tidak pernah langsung mengatakan apa yang diinginkannya. Ia lebih dahulu menanyakan pekerjaanku, keadaan Maya, lalu apakah aku sedang memiliki uang. Seakan-akan menjadi ibu tidak memberinya hak untuk merepotkan anak-anak yang pernah dikandungnya.
“Tidak terlalu sibuk, Ma,” jawabku, meskipun meja kerjaku penuh berkas. Aku baru pulang dari Jakarta malam sebelumnya dan pagi itu langsung menghadiri rapat.
“Kalau ada uang dan sempat, belikan Mama durian. Lama sudah Mama ingin makan durian.”
Suaranya terdengar ringan, hampir seperti sedang membicarakan cuaca. Di belakangnya terdengar bunyi tongkat menyentuh lantai, lalu tarikan napas pendek yang kukenal. Stroke telah tinggal di tubuh Mama selama dua belas tahun. Bagian kirinya tidak lagi sekuat dahulu, tetapi ia masih berjalan perlahan dengan tongkat—dari kamar ke ruang tengah, dari ruang tengah ke teras, tempat ia biasa menungguku.
Pernah ia menelepon hanya untuk meminta obat gosok. Hampir lima menit dihabiskannya untuk bertanya apakah anak-anak sehat, apakah pekerjaanku banyak, dan apakah tanggal tua menyulitkan keuanganku. Ketika aku datang membawa obat itu, ia telah menunggu di teras dengan tongkat melintang di pangkuan. Sebelum menerima bungkusan, ia menyodorkan beberapa lembar uang yang dilipat kecil-kecil.
“Simpan saja, Ma.”
“Mama masih punya uang.”
“Untuk Mama.”
Ia akhirnya menerima obat itu, tetapi langsung menyuruhku masuk dan makan. Barang yang dimintanya diletakkan begitu saja di meja; seolah-olah benda tersebut hanya alasan agar suara mobilku kembali terdengar di halaman.
“Iya, Ma. Nanti Indra bawakan.”
“Kalau sempat saja. Jangan dipaksakan.”
Aku tersenyum. “Iya.”
Percakapan itu berakhir seperti percakapan-percakapan kami sebelumnya: Mama mengucapkan salam, aku menjawabnya, lalu kembali kepada pekerjaan dengan keyakinan bahwa kami masih memiliki banyak kesempatan untuk menelepon lagi.
Pada hari pertama, aku melihat tumpukan durian di tepi jalan ketika pulang kantor. Seorang pedagang mengangkat satu buah sambil menawarkan harga. Aku memperlambat mobil, tetapi telepon berdering. Ada urusan kegiatan yang harus diselesaikan malam itu. Aku kembali menekan pedal gas.
Besok saja, pikirku.
Hari kedua dipenuhi pertemuan. Sore hari hujan turun dan pedagang yang biasa mangkal di tepi jalan tidak terlihat. Aku sempat ingin menelepon Mama, tetapi sebuah pesan masuk dan membawaku kepada pekerjaan lain.
Malamnya, Maya bertanya apakah aku sudah membelikan pesanan Mama. Aku menepuk dahi, lalu menjawab bahwa besok aku akan mencarinya. Tidak ada kegelisahan dalam suaraku. Musim durian masih panjang, pedagang ada di banyak tempat, dan rumah Mama tidak berpindah ke mana-mana. Semua tampak tersedia, termasuk waktu.
Hari ketiga, Mama menelepon. Ia tidak menanyakan durian. Ia hanya bertanya apakah aku sudah makan dan apakah pekerjaanku selepas perjalanan dari Jakarta belum selesai.
“Belum, Ma. Sedikit lagi.”
“Jangan terlalu dipaksakan. Istirahat.”
“Mama bagaimana?”
“Baik.”
Satu kata itu cukup membuatku tenang. Mama selalu mengatakan dirinya baik, bahkan ketika untuk berdiri dari kursi ia harus menahan meja dan mengatur kaki kirinya pelan-pelan. Aku tidak bertanya lebih jauh. Sebelum menutup telepon, aku berjanji akan datang.
Hari keempat berlalu tanpa tanda apa pun bahwa hidup sedang menutup sebuah pintu. Aku bekerja, menerima telepon, menyetujui jadwal, dan memindahkan janji kepada Mama ke sudut pikiran yang kukira aman. Menjelang malam, ketika melewati pedagang durian, aku kembali berkata: besok.
Pukul sembilan, Hadi menelepon.
“Coba ke sini,” katanya. Suaranya lebih rendah dari biasanya. “Kita bawa Mama ke rumah sakit. Mama pina ubah.”
Aku tidak bertanya apa yang berubah. Ada kalimat-kalimat yang langsung dimengerti tubuh sebelum sempat diterjemahkan pikiran. Tanganku dingin. Kunci mobil dua kali terlepas ketika hendak kumasukkan ke lubangnya.
Rumah Mama hanya beberapa belas menit dari rumahku. Malam itu jaraknya seperti ditarik menjauh. Lampu-lampu toko berlari di kaca mobil. Aku menelepon Maya dan hanya mampu mengatakan bahwa Mama akan dibawa ke rumah sakit. Sesudah itu, aku tidak ingat apakah aku menutup telepon atau membiarkannya terputus sendiri.
Pintu rumah Mama terbuka lebar. Beberapa sandal berserakan di teras. Tongkatnya tersandar di dinding dekat kursi, sendirian, seperti sesuatu yang ditinggalkan tergesa-gesa.
Mama terbaring di kamar. Matanya tertutup. Mulutnya sedikit terbuka, tetapi tidak ada kata yang keluar. Hadi berjongkok sambil menghitung denyut di pergelangan tangannya, meskipun aku tahu ia tidak benar-benar memahami apa yang sedang dihitungnya. Nurul merapikan kain yang menutup kaki Mama berulang-ulang. Rara berdiri dekat lemari dengan segelas air yang tak pernah sempat diminumkan.
“Ma,” panggilku.
Tidak ada jawaban.
Aku menyentuh pipinya. Hangat. Kehangatan itu membuatku percaya bahwa semuanya masih dapat diperbaiki. Mama hanya perlu dibawa ke rumah sakit, diperiksa, diberi obat, lalu pulang. Setelah itu aku akan membelikannya durian. Bukan satu, tetapi sebanyak yang diinginkannya.
Relawan ambulans datang bersama beberapa tetangga. Mereka membentangkan kain, memiringkan tubuh Mama perlahan, lalu mengangkatnya ke atas tandu. Aku ingin ikut memegang, tetapi tanganku justru menghalangi. Seorang tetangga memintaku membuka jalan.
Roda tandu menghantam sedikit tonjolan di ambang pintu. Kepala Mama bergoyang pelan. Aku refleks memanggilnya, seolah ia akan membuka mata dan mengeluhkan cara mereka mengangkat tubuhnya.
Di halaman, pintu belakang ambulans menganga. Tandu didorong masuk. Selama beberapa detik aku melihat kaki Mama, kain yang menutup tubuhnya, dan wajah seorang relawan yang sedang memasang alat bantu pernapasan. Kemudian kedua pintu ditutup.
Sirene menyala.
Aku masuk ke mobil dan mengikutinya seorang diri.
Ambulans melaju cepat, menyibak kendaraan di depannya. Cahaya merahnya jatuh ke jalan, ke dinding pertokoan, ke kaca mobilku. Aku tidak berani terlalu jauh, tetapi juga tidak sanggup mendekat. Di setiap persimpangan aku takut lampu lalu lintas memisahkan kami. Ketika jarak melebar, kakiku menekan pedal gas. Ketika hampir menyusul, aku takut melihat terlalu jelas apa yang terjadi di balik pintu belakangnya.
“Tunggu aku, Ma,” ucapku berkali-kali.
Sirene menelan suaraku.
Di sebuah ruas jalan, kami melewati pedagang durian yang belum menutup lapaknya. Buah-buah itu bertumpuk di bawah lampu. Mendadak aku ingin berhenti, membeli semuanya, mengetuk pintu ambulans, dan berkata kepada Mama bahwa aku tidak lupa.
Namun ambulans terus melaju.
Aku pun terus mengikutinya.
Di IGD, malam berbau obat, keringat, dan udara pendingin yang terlalu dingin. Petugas membawa Mama masuk. Kami menunggu di balik batas yang tidak boleh dilewati. Hadi mengisi formulir di meja pendaftaran; ujung pulpennya beberapa kali lolos dari kotak yang harus dicentang. Nurul duduk sambil melafalkan doa nyaris tanpa suara. Rara memeluk kantong berisi pakaian ganti Mama, lalu menangis dengan wajah menempel pada bahu Maya yang baru tiba. Maya tidak menyuruhnya berhenti. Tangannya hanya bergerak perlahan di punggung Rara.
Aku berdiri di depan pintu.
Satu jam dapat menjadi sangat panjang ketika seseorang yang kita cintai berada di balik dinding. Setiap kali pintu terbuka, kami serentak mengangkat kepala. Seorang perawat keluar membawa baki. Petugas lain masuk sambil mendorong tabung. Orang-orang menyebut angka dan istilah yang tidak kupahami.
Di sudut lorong terdapat mesin minuman yang berdengung tanpa henti. Seorang lelaki tertidur dengan kepala bersandar ke dinding. Perempuan tua di kursi roda mengerang pelan, lalu didorong keluarganya melewati kami. Ketika roda kursi itu berdecit, Rara mendadak mengangkat kepala. Setiap bunyi telah berubah menjadi kemungkinan buruk.
Hadi mendekat dan bertanya kapan terakhir kali aku berbicara dengan Mama.
“Kemarin,” jawabku.
Aku hampir mengatakan tentang durian, tetapi kata itu tertahan di tenggorokan. Permintaan Mama mendadak terasa seperti rahasia yang hanya diketahui kami berdua. Jika kuucapkan, aku takut semua orang akan memandangku sebagai anak yang mempunyai empat hari tetapi tidak sanggup menyediakan beberapa menit.
Nurul bangkit ketika melihat seorang dokter keluar. “Bagaimana Mama, Dok?”
Dokter menjelaskan sesuatu tentang kesadaran dan kondisi yang menurun. Aku mendengar kata-katanya, tetapi pikiranku berhenti pada satu kalimat: keadaan Mama serius. Setelah dokter pergi, Rara bertanya apakah Mama akan pulang. Tidak seorang pun menjawab.
Aku hanya ingin mendengar Mama memanggil namaku.
Ketika dokter mengatakan Mama harus dipindahkan ke ICU, aku mengangguk sebelum memahami arti kalimatnya. Kami mengikuti ranjang yang didorong menyusuri lorong. Di bawah cahaya putih, wajah Mama tampak lebih kecil. Tangannya terbaring di samping tubuh, tangan yang dahulu menggandengku menyeberang jalan, menyuapiku ketika sakit, dan melambai setiap kali aku meninggalkan rumahnya.
Tongkat Mama masih tersandar di dinding rumah.
Pikiran itu datang tanpa diminta dan membuat dadaku runtuh.
Di ICU, seorang petugas menanyakan nama dan usia Mama. Aku menjawab, lalu melihat kata HALIMAH dan angka 60 ditulis dengan huruf kapital pada gelang plastik yang dipasang di pergelangan tangannya. Nama yang selama hidup kupanggil Mama kini terikat di sana agar orang-orang yang tidak mengenalnya tidak keliru merawat tubuhnya.
Kabel-kabel menyeberangi dada Mama. Selang masuk ke mulutnya. Plester bening melekat pada kulit tangannya yang tipis. Monitor memancarkan garis dan angka yang mendadak menjadi lebih penting daripada segala pekerjaan yang selama empat hari memenuhi kepalaku.
Aku berdiri di sisi ranjang. Hadi, Nurul, dan Rara bergantian masuk ketika diperbolehkan. Maya menunggu di luar. Waktu tidak lagi bergerak dengan jam, melainkan dengan bunyi mesin, perubahan angka, dan tarikan napas Mama yang dibantu alat.
Kugenggam tangan kanannya. Masih hangat, tetapi tidak membalas.
Aku belum ikhlas kalau Mama pergi.
Kalimat itu berputar-putar dalam kepalaku. Aku mengucapkannya kepada Tuhan, kepada Mama, kepada diriku sendiri. Aku meminta satu hari lagi. Satu jam. Bahkan beberapa menit saja—cukup bagi Mama untuk membuka mata dan mendengar bahwa aku sedang dalam perjalanan membeli durian.
Aku akan mencari buah paling baik. Akan kupilih yang matang, berdaging tebal, dan manis. Akan kubelah di teras. Akan kusuapkan satu ulas kepada Mama sambil mengingatkan bahwa ia pernah menungguku empat hari. Ia mungkin akan tersenyum dan berkata tidak apa-apa, seperti selama ini ia memaafkan segala keterlambatanku bahkan sebelum aku meminta maaf.
Namun semakin lama aku menggenggam tangannya, semakin jelas bahwa yang kuminta bukan hanya kesembuhan Mama. Aku sedang meminta kesempatan untuk menyelamatkan diriku dari rasa bersalah.
Selama dua belas tahun Mama hidup berdampingan dengan stroke. Aku telah mengantarnya berobat, membelikan kebutuhannya, datang ketika ia menelepon, dan mendengarkan cerita yang kadang berulang. Akan tetapi, di hadapan tubuhnya yang diam, semua itu mengecil. Di kepala, aku tidak melihat hari-hari ketika mobilku tiba di halamannya. Aku hanya melihat tumpukan buah yang dua kali kulewati dan dua hari lain yang bahkan tidak kugunakan untuk mencarinya.
Menjelang tengah malam, bunyi monitor berubah. Petugas mendekat. Seorang dokter memeriksa Mama, memberi instruksi, lalu orang-orang bergerak lebih cepat. Aku bergeser tetapi tidak meninggalkan sisi ranjang. Tanganku masih menggenggam jemarinya.
“Ma,” bisikku.
Tidak ada tangis yang langsung keluar. Ada ketakutan yang lebih besar daripada tangis: ketakutan bahwa cintaku sedang berubah menjadi tali yang memaksa Mama bertahan di dalam tubuh yang telah terlalu lelah.
Aku menundukkan kepala hingga bibirku hampir menyentuh punggung tangannya.
Kalau Mama sudah lelah, pergilah.
Kalimat itu menyakitiku bahkan sebelum selesai kuucapkan dalam hati.
Indra ikhlas. Maafkan Indra karena membuat Mama menunggu.
Angka pada monitor turun. Bunyi yang semula teratur kehilangan jarak yang kukenal. Petugas masih melakukan sesuatu yang tidak sanggup kuikuti. Di antara tubuh-tubuh berseragam itu, aku memandang wajah Mama. Tidak ada durian. Tidak ada teras. Tidak ada kesempatan kelima setelah empat hari penundaan.
Mama mengembuskan napas terakhir tiga jam setelah memasuki ICU.
Nurul melafalkan istigfar dekat telinga Mama. Di luar ruangan, Rara terus memeluk kantong pakaian yang tidak lagi diperlukan. Hadi berdiri menghadap dinding dengan dahi menempel pada kedua tangannya. Maya datang kepadaku, tetapi beberapa saat aku tidak mampu bergerak. Tanganku masih memegang tangan Mama, menunggu kehangatannya menghilang sedikit demi sedikit.
Aku baru menangis ketika seorang perawat hendak melepaskan alat-alat dari tubuhnya.
Perawat menarik plester dari punggung tangan Mama. Aku hampir memintanya melakukannya pelan-pelan—kulit Mama mudah memerah—tetapi kata-kata itu berhenti di bibirku. Tidak ada lagi rasa sakit yang harus kuhindarkan darinya.
Kami membawa Mama pulang tanpa sirene. Ambulans yang sama melaju pelan menembus jalan yang beberapa jam sebelumnya disibaknya dengan tergesa-gesa. Kali ini aku duduk di dalam bersama tubuh Mama. Wajahnya telah dibersihkan. Tangannya diletakkan di atas perut. Aku berkali-kali memandang pintu belakang ambulans dan membayangkan mobilku sendiri mengikuti dari kejauhan.
Di rumah, tongkat Mama masih berada di tempatnya. Seseorang hendak memindahkannya agar tidak menghalangi orang-orang yang datang, tetapi aku mengambil dan menyandarkannya di samping lemari. Benda itu tetap berdiri sepanjang malam, menunggu tangan yang tidak akan pernah meraihnya lagi.
Sesudah pemakaman, rumah berangsur sepi. Piring-piring dikumpulkan, tikar digulung, kursi dikembalikan. Hadi, Nurul, dan Rara membicarakan barang-barang Mama yang perlu disimpan. Aku duduk di teras, di kursi tempat Mama biasa menungguku, dan membuka riwayat panggilan di telepon.
Nama “Mama” masih berada di sana. Di bawahnya tercatat beberapa panggilan singkat, termasuk percakapan ketika ia meminta durian. Aku mencoba mengingat suara persisnya, jeda di antara kalimatnya, dan apakah ia terdengar sangat ingin aku datang. Semakin keras aku berusaha mengingat, semakin banyak bagian yang terasa hilang.
Aku menempelkan telepon ke telinga, meskipun tidak ada rekaman yang dapat diputar. Jempolku sempat menyentuh ikon panggilan, lalu segera membatalkannya sebelum nada pertama terdengar. Di layar, nama Mama tetap menyala beberapa detik, kemudian padam bersama bayangan wajahku.
Sejak malam itu, durian tidak pernah lagi menjadi buah biasa. Aromanya dapat menyusup dari lapak di tepi jalan, dari pasar, atau dari tangan seseorang yang baru membelahnya, lalu menemukan bagian diriku yang tidak pernah benar-benar tertutup. Kadang-kadang aku membayangkan membeli satu mobil penuh durian dan membawanya ke rumah Mama. Namun, di sana tidak ada lagi seseorang yang akan berkata, “Kalau ada uang dan sempat.”
Sirene pun tidak pernah lagi sekadar permintaan agar kendaraan memberi jalan. Setiap mendengarnya, aku kembali berada di belakang ambulans itu—mengejar cahaya merah, melewati pedagang durian, dan memohon agar jalan menuju rumah sakit mempunyai waktu lebih panjang.
Sore ini ambulans tadi telah hilang di tikungan. Kendaraan di belakangku mulai membunyikan klakson. Aku belum menjalankan mobil.
Di seberang jalan, seorang pedagang sedang membelah durian. Ia menarik kulitnya dengan kedua tangan hingga daging kuning di dalamnya terlihat. Aroma yang pernah diminta Mama menyeberangi jalan dan masuk melalui celah kaca.
Aku menutup mata.
Untuk sesaat, suara klakson berubah menjadi sirene, jalan kembali gelap, dan lampu merah ambulans berlari di depanku. Lalu kudengar suara Mama, lembut dan tidak pernah memaksa:
“Kalau sempat saja. Jangan dipaksakan.”
Aku menarik napas, mengusap wajah, lalu menyalakan lampu sein. Sebelum kembali ke jalan, kupandang tumpukan durian di seberang sana.
Lampu sein berketik-ketik di antara aku dan pedagang itu. Kubiarkan menyala beberapa detik lebih lama, seolah masih ada seseorang di sebuah teras yang sedang menungguku berbelok.
Editor : Arief