Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Luka di Atas Air

admin • Sabtu, 11 Juli 2026 | 17:23 WIB
ilustrasi
ilustrasi

CERPEN oleh: Hidayat Nur

Subuh selalu datang lebih pelan di Banjarmasin.

Ketika langit masih berwarna abu kebiruan, Sungai Martapura sudah lebih dahulu terbangun. Kelotok-kelotok kecil melintas dengan suara mesin yang berat dan berulang, memecah permukaan air yang membawa pantulan lampu-lampu rumah panggung. Di kejauhan, azan bersahutan dari masjid-masjid di tepian sungai, bertumpuk dengan suara pedagang yang mulai menyiapkan dagangan. Kota ini tidak pernah benar-benar sunyi. Bahkan ketika manusia masih menguap, air telah lebih dahulu bercerita.

Alya menyukai pagi-pagi seperti itu.

Ia sering berhenti beberapa menit di Siring Pierre Tendean sebelum berangkat ke kantornya. Dari pagar pembatas sungai ia memandang air yang mengalir perlahan, membawa dedaunan, ranting-ranting kecil, dan sesekali botol plastik yang hanyut tanpa arah. Sungai tidak pernah memilih apa yang ingin dibawanya. Semua diterima, lalu diteruskan menuju tempat yang bahkan tidak diketahui air itu sendiri.

"Kalau manusia bisa seperti sungai, mungkin hidup lebih sederhana," gumamnya.

"Sedang bicara dengan sungai lagi?"

Suara itu membuat Alya menoleh.

Arga berdiri beberapa langkah di belakangnya sambil membawa dua gelas kopi panas dari warung kecil di ujung siring.

"Aku cemburu," katanya sambil tersenyum.

"Karena?"

"Setiap kali kita bertemu, yang pertama kamu lihat selalu sungai."

Alya menerima kopi itu.

"Mungkin karena sungai tidak pernah menghakimi."

Arga tertawa kecil.

"Untung aku masih kalah sama sungai, bukan sama orang lain."

Mereka berjalan berdampingan menyusuri tepian air. Matahari perlahan muncul di balik awan tipis, menyiram permukaan sungai dengan warna keemasan yang sebentar lagi akan hilang ditelan kesibukan kota.

Enam tahun mereka saling mengenal.

Tidak ada yang istimewa dari pertemuan pertama mereka, kecuali bahwa keduanya sama-sama datang terlambat dalam sebuah diskusi arsitektur kota di Universitas Lambung Mangkurat. Karena semua kursi telah penuh, mereka duduk di lantai, bersandar pada dinding aula yang catnya mulai mengelupas.

"Lucu ya," kata Arga waktu itu.

"Apa?"

"Orang-orang membahas masa depan kota, tapi gedung tempat mereka berdiskusi malah hampir runtuh."

Alya tertawa.

Percakapan itu terus berlanjut setelah acara selesai, kemudian menjadi kebiasaan yang tidak pernah benar-benar berhenti.

*

Arga berasal dari Martapura.

Ayahnya pensiunan pegawai Kementerian Agama. Ibunya mengajar mengaji di lingkungan rumah. Keluarganya dikenal sebagai keluarga yang baik, disegani, dan taat menjalankan ajaran agama. Banyak warga meminta pendapat ayahnya ketika terjadi perselisihan keluarga atau pembagian warisan.

Sebaliknya, Alya lahir dan besar di Banjarmasin.

Ayahnya pernah menjadi guru sejarah SMA. Ibunya membuka toko alat tulis kecil di depan rumah. Mereka bukan keluarga terpandang, tetapi rumah itu selalu terbuka bagi siapa saja yang ingin mampir sekadar minum teh atau berteduh dari hujan.

Alya tumbuh dengan keyakinan sederhana.

Bahwa seseorang dihargai dari cara ia memperlakukan orang lain.

Bukan dari cerita yang belum tentu benar tentang masa lalunya.

Keyakinan itu pula yang membuatnya jatuh cinta kepada Arga.

Pada suatu sore beberapa tahun lalu, mereka duduk di atas kelotok yang mengantar wisatawan menyusuri Sungai Martapura.

Melihat air yang mengalir pelan, Arga berkata,

"Air sungai tidak pernah bertanya dari mana lumpur berasal. Ia tetap mengalir."

Alya mengingat kalimat itu sampai sekarang.

Karena sejak hari itu ia percaya, lelaki di sampingnya memahami bahwa manusia tidak seharusnya diadili oleh sejarah hidupnya.

Rencana pernikahan dimulai pada awal musim hujan.

Undangan belum dicetak.

Gedung belum dipastikan.

Namun kabar pertunangan mereka telah lebih dahulu menyebar.

Di Kalimantan Selatan, berita baik sering berjalan lebih cepat daripada kendaraan.

*

Suatu Sabtu sore, keluarga Arga datang ke rumah Alya.

Rumah kayu itu berdiri tidak jauh dari bantaran sungai kecil yang bermuara ke Martapura. Lantainya dari ulin tua yang mengeluarkan aroma khas setiap kali udara menjadi lembap.

Ibu Alya memasak haruan masak habang, ketupat kandangan, dan bingka kentang sebagai hidangan penutup.

Percakapan mengalir hangat.

Mereka berbicara tentang pekerjaan, harga tanah yang semakin mahal, banjir tahunan, juga kenangan masa kecil ketika sungai masih menjadi jalan utama menuju sekolah.

Sesekali terdengar tawa.

Ayah Alya bahkan bercerita bagaimana dulu ia pernah tercebur ke sungai karena perahu yang ditumpanginya bocor.

Semua tampak begitu biasa.

Sampai menjelang magrib.

Ketika cangkir teh tinggal menyisakan ampas, Ibu Arga memandang Alya dengan senyum yang sulit ditafsirkan.

"Kamu perempuan yang sopan."

"Terima kasih, Bu."

"Kami bersyukur Arga memilihmu."

Alya menundukkan kepala.

Perempuan itu melanjutkan dengan suara lembut.

"Dalam keluarga kami, kehormatan perempuan adalah kehormatan seluruh keluarga."

Ruangan mendadak terasa lebih sempit.

Tidak ada yang menjawab.

Ayah Alya hanya tersenyum tipis.

Ibunya menunduk sambil merapikan piring.

Kalimat itu melayang seperti asap teh panas.

Tipis.

Hampir tidak terlihat.

Tetapi perlahan memenuhi seluruh ruangan.

Dalam perjalanan pulang ke Martapura, Arga lebih banyak diam.

Hujan turun tipis.

Lampu kendaraan memantul di aspal basah seperti ribuan garis cahaya yang putus-putus.

"Aku boleh bertanya sesuatu?" kata Alya.

"Boleh."

"Maksud ibumu tadi apa?"

Arga menggenggam setir lebih erat.

"Ibu memang... memegang nilai-nilai lama."

"Nilai apa?"

Ia menarik napas panjang.

"Ibu percaya perempuan harus menjaga kehormatannya sampai menikah."

"Lalu laki-laki?"

Arga tidak segera menjawab.

"Laki-laki juga harus menjaga diri."

"Harus? Atau sebaiknya?"

Hening.

Suara wiper bergerak perlahan.

Cek... cek...

Seolah sedang menghitung waktu.

"Aku cuma ingin semua berjalan baik."

Jawaban itu terdengar sangat hati-hati.

Terlalu hati-hati.

Seolah setiap kata telah disaring agar tidak melukai siapa pun.

Namun justru karena itu, Alya merasa tidak ada seorang pun yang benar-benar sedang membelanya.

*

Hari-hari berikutnya dipenuhi urusan pernikahan.

Gedung.

Katering.

Fotografer.

Pakaian adat Banjar.

Daftar tamu.

Tetapi di sela semua kesibukan itu, selalu muncul percakapan-percakapan kecil yang perlahan berubah menjadi beban.

Seorang bibi Arga berkata sambil tertawa,

"Perempuan sekarang macam-macam. Kasihan laki-laki kalau salah pilih."

Di lain kesempatan, seorang sepupu bercerita tentang pernikahan yang konon batal karena "pengantin perempuan tidak jujur."

Tidak ada nama yang disebut.

Tidak ada tuduhan.

Namun setiap cerita selalu berakhir dengan tatapan singkat ke arah Alya.

Tatapan yang hanya berlangsung beberapa detik.

Cukup singkat untuk dianggap kebetulan.

Cukup lama untuk meninggalkan luka.

Di kantornya, Alya tetap menjalankan pekerjaannya sebagai konsultan komunikasi.

Ia terbiasa membantu perusahaan menghadapi krisis reputasi.

Ia tahu bagaimana membangun kepercayaan publik.

Bagaimana meredam rumor.

Bagaimana menyusun narasi agar sebuah institusi tetap dipercaya.

Ironisnya, ia tidak tahu bagaimana mempertahankan martabat dirinya sendiri ketika yang dipersoalkan bukan perilakunya, melainkan sesuatu yang bahkan tidak pernah bisa dibuktikan secara sederhana.

*

Sore itu, ketika semua rekan kerjanya pulang, Alya masih duduk sendiri di depan komputer.

Tanpa sadar ia mengetik sebuah kalimat di mesin pencari:

"Operasi rekonstruksi selaput dara di Banjarmasin."

Jarinya berhenti di atas papan ketik.

Ia menatap layar cukup lama.

Lalu menutup laptop tanpa membuka satu pun hasil pencarian.

Di luar jendela, hujan kembali turun.

Titik-titik air mengaburkan pemandangan kota.

Ia teringat sungai yang selalu menerima apa saja tanpa bertanya asal-usulnya.

Mengapa manusia tidak pernah belajar dari air?

Malam itu, sebelum tidur, teleponnya berdering.

Arga.

"Aku kangen."

"Aku juga."

"Kita akan baik-baik saja."

Alya memejamkan mata.

Ia ingin mempercayai kalimat itu.

Namun entah mengapa, untuk pertama kalinya dalam enam tahun, ia merasa ada sesuatu yang mengalir menjauh di antara mereka—pelan, nyaris tanpa suara, seperti arus sungai yang diam-diam membawa sepotong kayu ke hilir, hingga suatu saat orang baru menyadari kehilangan ketika benda itu sudah tak terlihat lagi.

*

Malam itu Alya kembali membuka komputer.

Jarinya berhenti cukup lama di atas papan ketik sebelum akhirnya mengetik beberapa kata yang sejak beberapa hari terakhir terus mengganggunya.

Ia membaca artikel demi artikel, berpindah dari laman kesehatan ke forum-forum anonim yang dipenuhi kisah perempuan dengan kegelisahan yang nyaris serupa. Sebagian datang karena tekanan keluarga, sebagian lagi karena ketakutan kehilangan orang yang mereka cintai.

Tak ada satu pun cerita yang terdengar menang.

Beberapa hari kemudian ia berkonsultasi dengan seorang dokter kandungan di Banjarmasin.

Dokter itu mendengarkan tanpa menyela.

"Apakah ini keputusan Anda sendiri?"

Alya mengangguk, meski dalam hati ia tahu jawabannya tidak sesederhana itu.

Setelah menjelaskan risiko dan prosedur, dokter berkata pelan, "Layanan seperti ini tidak lazim tersedia di banyak tempat. Kalau Ibu sudah mempertimbangkannya dengan matang, saya bisa merujuk ke seorang sejawat di salah satu rumah sakit di Barabai."

Barabai.

Nama kota itu terasa jauh.

Namun yang terasa lebih jauh adalah perempuan yang selama ini dikenalnya sebagai dirinya sendiri.

Perjalanan menuju Barabai memakan waktu beberapa jam.

Mobil melintasi hamparan sawah yang mulai menguning. Pegunungan Meratus berdiri biru di kejauhan, sementara hujan semalam masih menyisakan genangan di tepi jalan.

Sesekali Alya memandang ke luar jendela.

Ia merasa sedang bepergian bukan menuju sebuah kota, melainkan menuju keputusan yang tak mungkin dibatalkan.

Prosedur itu berlangsung singkat.

Jauh lebih singkat daripada minggu-minggu penuh keraguan yang mendahuluinya.

Ketika keluar dari ruang perawatan, langit Barabai baru saja diguyur hujan. Bau tanah basah memenuhi udara. Alya menarik napas panjang, tetapi dadanya tetap terasa sesak.

Dalam perjalanan pulang, tak ada yang berubah.

Truk pengangkut hasil panen tetap melintas.

Warung-warung pinggir jalan tetap ramai.

Dunia tidak berhenti hanya karena seseorang baru saja menyembunyikan luka yang tak terlihat.

*

Beberapa hari kemudian Arga datang ke apartemen Alya.

Ia menemukan map berisi hasil pemeriksaan yang belum sempat disimpan.

"Alya... ini apa?"

Perempuan itu tidak lagi mencari alasan.

"Aku pergi ke Barabai."

"Untuk ini?"

Ia mengangguk.

Wajah Arga perlahan kehilangan warna.

"Kenapa kamu tidak bilang?"

"Karena aku lelah menjelaskan sesuatu yang bahkan seharusnya tidak perlu kubuktikan."

Sunyi memenuhi ruangan.

"Aku tidak pernah memintamu melakukan ini."

"Kamu memang tidak pernah meminta."

Alya menatapnya tenang.

"Tapi setiap kali kamu memilih diam, aku merasa sedang berdiri sendirian."

Arga menundukkan kepala.

Baru saat itu ia memahami bahwa diam juga dapat menjadi keputusan.

Dan setiap keputusan selalu memiliki seseorang yang menanggung akibatnya.

*

Hari akad datang bersama mendung tipis.

Rumah keluarga dipenuhi kerabat yang sibuk menata hidangan, menyambut tamu, dan memastikan segala sesuatu berjalan sebagaimana mestinya.

Tak seorang pun mengetahui perjalanan Alya ke Barabai.

Rahasia itu tersimpan rapi seperti jahitan yang tak tampak di balik kulit.

Sebelum penghulu memulai prosesi, Arga mendekat.

"Aku minta maaf."

Alya memandangnya tanpa berkata apa-apa.

"Aku terlalu lama mengira mencintaimu sudah cukup. Padahal cinta juga membutuhkan keberanian."

Untuk pertama kalinya sejak semua kegelisahan itu bermula, Alya melihat mata Arga tidak lagi dipenuhi keraguan.

Ia tidak tahu apakah semuanya akan benar-benar baik.

Tetapi ia tahu, keberanian selalu datang terlambat bagi orang yang terlalu lama hidup dalam ketakutan.

Menjelang senja, setelah keramaian mulai surut, Alya berdiri di tepian Sungai Martapura.

Arus mengalir tenang seperti hari-hari sebelumnya.

Sebuah jukung melintas perlahan membawa rambutan dari hulu. Air bergelombang sebentar, lalu kembali rata seolah tak pernah terusik.

Alya memandang permukaan sungai cukup lama.

Ia teringat pagi-pagi ketika dulu percaya bahwa air menerima apa pun yang hanyut tanpa pernah bertanya dari mana asalnya.

Barangkali manusia belum belajar cukup banyak dari sungai.

Mereka lebih sering menyimpan prasangka daripada mengalirkannya pergi.

Arga berdiri di sampingnya.

Tak ada percakapan.

Tak ada janji.

Hanya suara mesin kelotok yang semakin menjauh, bercampur desir angin yang menyusuri tepian.

Senja perlahan jatuh di atas Martapura.

Sungai tetap mengalir ke hilir, membawa daun-daun, ranting-ranting, dan bayangan langit yang berubah warna.

Alya sadar, tidak semua luka dapat dihapus.

Sebagian hanya bisa diterima sebagai bagian dari perjalanan, seperti air yang terus bergerak tanpa pernah kembali ke hulu.

Dan sungai, seperti biasa, tidak bertanya apa pun. (*)

              ****

Tentang Penulis:
Seorang karyawan swasta penyuka sastra, tinggal di Kabupaten Banjar

 

Editor : Arief
#cerpen