Cerpen: Muhamad Yusuf
Sigo berdiri dengan napas memburu. Tangannya mengepal di sisi tubuh. Ia tidak pernah membayangkan suatu hari akan berbicara dengan nada setinggi itu kepada orang-orang yang selama ini membesarkannya. Namun sore itu, semua emosi yang selama berbulan-bulan ia pendam seakan meledak sekaligus. Ia merasa tidak ada seorang pun yang mau memahami dirinya dan Via.
Sejak beberapa hari terakhir, kedua keluarga memang beberapa kali bertemu untuk membicarakan hubungan mereka. Guru BK juga telah menghubungi orang tua masing-masing setelah melihat penurunan prestasi dan perubahan sikap keduanya di sekolah. Niat semua pihak sebenarnya baik, tetapi bagi Sigo, perhatian itu terasa seperti pengawasan yang berlebihan. Ia mulai merasa setiap langkahnya diatur, setiap keputusannya dipertanyakan, dan setiap kebersamaannya dengan Via selalu dianggap sebagai sumber masalah.
"Biarkan kami bercinta!"
Suara Sigo menggema di ruang tamu rumahnya. Kalimat itu keluar begitu saja, tanpa sempat dipikirkan. Wajahnya merah, matanya berkaca-kaca karena menahan amarah dan kekecewaan.
Di hadapannya duduk Pak Rahman dan Bu Ningsih, kedua orang tuanya. Sementara itu, di kursi sebelah, duduk Via bersama ayah dan ibunya. Suasana sore itu terasa tegang.
Tak seorang pun berbicara selama beberapa saat. Pak Rahman menghela napas panjang. "Cinta tidak dilarang, Go," katanya pelan. "Yang kami persoalkan adalah cara kalian menjalani cinta itu."
Sigo memalingkan wajah. Menurutnya, semua orang bersikap berlebihan. Ia dan Via hanya berpacaran seperti kebanyakan remaja lainnya. Mereka tidak melakukan hal-hal buruk. Mereka hanya ingin bersama. Namun, orang tua, guru, bahkan tetangga mulai ikut campur. Hal itulah yang membuatnya kesal. Padahal, jika ditarik ke belakang, semua masalah itu bermula dari sesuatu yang terlihat sederhana.
Sigo dan Via bertemu saat duduk di kelas X SMA Banua Harapan. Sigo dikenal sebagai siswa cerdas. Nilainya hampir selalu masuk lima besar. Ia aktif di organisasi sekolah dan sering mewakili sekolah dalam lomba pidato. Sementara itu, Via adalah siswi yang ramah dan berprestasi. Ia dikenal tekun belajar dan sering menjadi juara kelas.
Awalnya mereka hanya teman biasa. Mereka sering berdiskusi saat mengerjakan tugas kelompok. Lama-kelamaan keduanya menjadi semakin dekat. Persamaan minat membuat mereka merasa nyaman satu sama lain. Hubungan itu berkembang menjadi perasaan yang lebih dalam.
Pada awal kelas XI, mereka resmi berpacaran. Awalnya kedua keluarga tidak mempermasalahkan.
"Yang penting sekolah tetap nomor satu," pesan ayah Via.
Keduanya mengangguk. Saat itu mereka benar-benar yakin mampu menjaga keseimbangan antara cinta dan pendidikan. Namun kenyataannya tidak semudah yang dibayangkan.
Hari-hari pertama terasa menyenangkan. Saat jam istirahat, mereka makan bersama di kantin. Saat pulang sekolah, mereka berjalan menuju jalan raya sambil bercanda. Malam hari mereka saling berkirim pesan. Awalnya hanya beberapa menit. Kemudian berubah menjadi satu jam. Lalu dua jam. Lalu tiga jam.
Tanpa mereka sadari, kebiasaan itu terus bertambah. Suatu malam mereka mengobrol hingga pukul satu dini hari.
Malam berikutnya sampai pukul dua. Mereka membicarakan apa saja. Tentang teman sekolah. Tentang guru. Tentang cita-cita. Tentang masa depan. Tentang perasaan mereka. Bahkan terkadang tentang hal-hal yang sebenarnya tidak penting. Yang penting bagi mereka hanyalah tetap terhubung. Akibatnya, mereka mulai kekurangan waktu tidur. Di kelas, Sigo beberapa kali menguap tanpa henti. Via sering memegangi dahinya karena mengantuk. Saat guru menerangkan pelajaran, pikiran mereka tidak lagi fokus. Mereka lebih sibuk menunggu pesan dari satu sama lain.
Masalah pertama muncul ketika hasil ulangan Matematika dibagikan. Biasanya Sigo memperoleh nilai di atas delapan puluh. Kali ini nilainya hanya empat puluh delapan. Ia terkejut. Begitu pula gurunya.
"Kenapa bisa begini?" tanya Pak Damar, guru Matematika. Sigo tidak mampu menjawab. Ia tahu penyebabnya.
Malam sebelum ujian, ia dan Via berbicara melalui video call hingga pukul dua dini hari. Saat ujian berlangsung, matanya terasa berat. Konsentrasinya berantakan. Beberapa soal bahkan tidak sempat ia kerjakan.
Di sisi lain, Via mengalami hal serupa. Nilai Biologinya turun drastis. Nilai Bahasa Inggrisnya juga menurun.
Namun mereka menganggap itu hanya kebetulan. Mereka yakin bisa memperbaikinya. Sayangnya, keadaan justru semakin memburuk.
***
Hubungan mereka mulai diwarnai rasa cemburu. Suatu hari Via melihat Sigo berbicara dengan Nabila, teman sekelas mereka. Padahal keduanya sedang membahas tugas kelompok. Namun bagi Via, pemandangan itu terasa mengganggu. Malamnya ia mengirim puluhan pesan.
"Kamu dekat sekali dengan Nabila." "Kamu lebih sering bicara dengan dia sekarang." "Kamu berubah."
Sigo yang sedang mengerjakan tugas menjadi kesal. "Dia cuma teman kelompok."
"Tapi kamu kelihatan senang saat bicara dengannya."
Perdebatan berlangsung berjam-jam. Mereka akhirnya tidur menjelang subuh. Keesokan harinya keduanya datang ke sekolah dengan wajah kusut.
Pelajaran yang disampaikan guru tidak masuk ke kepala. Mereka masih memikirkan pertengkaran semalam. Hubungan yang seharusnya membawa kebahagiaan justru mulai menguras energi.
Orang tua mereka perlahan menyadari perubahan itu. Bu Ningsih melihat Sigo semakin sering memegang telepon genggam. Ketika dipanggil untuk makan malam, anaknya sering tidak mendengar. Saat belajar, perhatian Sigo terpecah. Buku terbuka di meja, tetapi matanya tertuju pada layar ponsel.
Hal yang sama terjadi pada Via. Ibunya sering menemukan Via masih terjaga lewat tengah malam. Lampu kamar belum dimatikan. Suara notifikasi pesan terdengar terus-menerus.
"Via, sudah malam," tegur ibunya.
"Sebentar lagi, Bu."
Namun "sebentar lagi" sering berubah menjadi berjam-jam.
Ketika rapor tengah semester dibagikan, kedua keluarga mulai cemas. Nilai Sigo menurun hampir di semua mata pelajaran. Nilai Via juga mengalami penurunan yang sama.
Guru BK akhirnya memanggil mereka. Di ruang konseling, Bu Santi berbicara dengan lembut. "Kalian anak-anak pintar." Sigo dan Via tertunduk. "Tetapi akhir-akhir ini prestasi kalian turun. Apa yang terjadi?"
Mereka saling berpandangan. Tidak ada yang berani menjawab. Bu Santi sebenarnya sudah mengetahui penyebabnya. Banyak guru memperhatikan bagaimana mereka selalu bersama. Bahkan beberapa kali keduanya terlihat mengabaikan kegiatan belajar demi mengobrol.
"Kalian boleh berteman dekat," lanjut Bu Santi. "Tetapi jangan sampai kehilangan tujuan utama datang ke sekolah."
Nasihat itu masuk telinga kanan dan keluar telinga kiri. Mereka merasa guru terlalu mencampuri urusan pribadi.
Puncak masalah terjadi lagi. Suatu hari Sigo membolos les tambahan. Ia memilih menemui Via di taman kota.
Mereka duduk berjam-jam sambil berbincang. Tanpa disadari, ayah Sigo mendapat kabar dari guru les. Pak Rahman segera mencari anaknya. Ketika menemukan Sigo di taman, wajahnya tampak sangat kecewa.
"Ayah bekerja keras supaya kamu bisa sekolah dengan baik," katanya.
Sigo tidak menjawab. Ia merasa dipermalukan di depan Via. Sejak saat itu hubungan Sigo dengan ayahnya menjadi renggang. Di sisi lain, ayah Via juga menghadapi masalah serupa. Suatu sore Via tidak menghadiri bimbingan belajar.
Ternyata ia memilih menemani Sigo bermain di pusat perbelanjaan. Ayahnya harus berkeliling mencari keberadaannya. Ketika menemukan putrinya, rasa kecewa terlihat jelas di wajahnya. Kedua keluarga yang sebelumnya tenang kini mulai sering diliputi kekhawatiran.
Konflik semakin besar ketika sebuah unggahan foto mereka berdua di media sosial menjadi perbincangan di sekolah. Foto itu sebenarnya biasa saja, diambil saat mereka berada di pusat perbelanjaan pada jam sekolah. Namun, karena diunggah oleh salah seorang teman, banyak siswa mengetahui bahwa mereka tidak mengikuti kegiatan belajar pada hari itu.
Kabar tersebut sampai ke telinga guru dan kepala sekolah. Sigo dan Via dipanggil secara khusus. Mereka merasa malu ketika mengetahui bahwa tindakan mereka telah menjadi bahan pembicaraan banyak orang.
"Kami kecewa bukan karena kalian berpacaran," kata kepala sekolah. "Yang kami sesalkan adalah kalian mulai mengabaikan tanggung jawab sebagai pelajar."
Sepulang dari sekolah, Sigo dan Via kembali bertengkar. Sigo menyalahkan Via karena terlalu sering mengajaknya keluar. Via tidak terima dan justru menuduh Sigo yang sering memulai ajakan bertemu. Perdebatan itu berlangsung sengit hingga keduanya memilih saling diam selama beberapa hari.
Hari-hari tanpa komunikasi ternyata membuat mereka merenung. Untuk pertama kalinya, mereka menyadari bahwa hubungan yang mereka jalani telah membawa banyak masalah. Nilai pelajaran menurun, hubungan dengan orang tua memburuk, dan kepercayaan guru terhadap mereka mulai berkurang.
Beberapa hari kemudian, Bu Santi kembali memanggil mereka ke ruang konseling. Kali ini Sigo dan Via datang dengan sikap yang berbeda. Mereka tidak lagi membantah.
Bu Santi mengajak mereka membuat kesepakatan sederhana. Mereka tetap boleh menjalin hubungan pertemanan yang dekat, tetapi harus menetapkan batasan yang jelas. Waktu belajar tidak boleh diganggu oleh percakapan yang berlebihan. Telepon genggam harus dimatikan pada jam belajar malam. Mereka juga diminta membuat jadwal kegiatan harian dan melaporkan perkembangannya kepada orang tua.
Awalnya aturan itu terasa berat. Namun perlahan mereka mulai menjalankannya. Mereka mengurangi kebiasaan mengobrol hingga larut malam. Jika ada tugas sekolah, tugas tersebut harus diselesaikan terlebih dahulu sebelum saling berkirim pesan. Mereka juga mulai kembali aktif mengikuti kegiatan belajar dan les tambahan.
Perubahan itu tidak terjadi dalam semalam. Ada kalanya mereka kembali tergoda untuk menghabiskan waktu berjam-jam bersama. Namun mereka berusaha saling mengingatkan. Sedikit demi sedikit hubungan mereka dengan orang tua membaik. Guru-guru pun melihat perubahan sikap yang mulai muncul.
Meskipun masih menyimpan perasaan yang sama, Sigo dan Via akhirnya memahami satu hal penting. Cinta tidak harus membuat seseorang kehilangan arah. Sebaliknya, hubungan yang sehat seharusnya membantu seseorang menjadi pribadi yang lebih bertanggung jawab dan lebih baik daripada sebelumnya.
Suatu sore, setelah mengikuti kegiatan belajar tambahan di perpustakaan sekolah, Sigo dan Via duduk di bangku taman yang berada di halaman sekolah. Matahari mulai condong ke barat. Angin bertiup pelan menggoyangkan daun-daun yang menaungi mereka.
"Kamu ingat waktu kamu berteriak di rumah?" tanya Via sambil tersenyum tipis.
Sigo tertawa kecil dan menggeleng.
"Jangan diingatkan lagi. Kalau mengingatnya sekarang, rasanya malu sekali."
"Tapi dari situ kita jadi belajar banyak."
Sigo mengangguk. Ia menatap lapangan sekolah yang mulai sepi.
"Dulu aku pikir semua orang ingin memisahkan kita."
"Lalu sekarang?"
"Sekarang aku tahu mereka cuma khawatir."
Via terdiam sejenak sebelum berkata pelan, "Aku juga begitu. Aku sempat mengira orang tua kita tidak mengerti perasaan kita."
"Padahal mereka pernah muda juga," sahut Sigo.
Keduanya tertawa kecil.
Beberapa saat kemudian Pak Rahman datang menjemput. Dari kejauhan ia melambaikan tangan.
"Ayo pulang, Go!"
Sigo berdiri lalu menoleh kepada Via.
"Sampai besok."
"Sampai besok. Jangan begadang."
"Kamu juga."
Via tersenyum.
Saat berjalan menuju ayahnya, Sigo tiba-tiba teringat kalimat yang pernah diteriakkannya dengan penuh kemarahan.
"Biarkan kami bercinta."
Kini ia memahami bahwa cinta tidak membutuhkan kebebasan tanpa batas. Cinta justru membutuhkan tanggung jawab, pengendalian diri, dan kesediaan untuk menghargai orang-orang yang peduli.
Pak Rahman menepuk bahunya.
"Bagaimana sekolah hari ini?"
"Baik, Yah."
"Nilai tugas Matematikamu?"
Sigo tersenyum bangga.
"Naik lagi."
"Nah, begitu dong."
Mereka berjalan berdampingan meninggalkan halaman sekolah.
Di belakang mereka, Via juga melangkah pulang bersama ibunya dengan senyum yang tidak kalah tenang. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, kedua keluarga tidak lagi dipenuhi kekhawatiran.
Untuk pertama kalinya pula, Sigo dan Via mengerti bahwa cinta yang dewasa bukanlah tentang selalu bersama setiap saat, melainkan tentang tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik bersama-sama. (*)
Tentang Penulis:
Muhamad Yusuf, cerpenis yang mengajar Bahasa Indonesia di SMA Negeri 1 Banjarmasin.
Editor : Arief