Cerpen oleh: Muhamad Yusuf
“Pak, kapan kita punya mobil yang lebih bagus?”
Pertanyaan sederhana itu meluncur dari bibir anak bungsunya pada suatu malam yang dingin di Kota Banjarmasin. Bari yang sedang membersihkan gagang senso di beranda rumah kayunya, hanya tersenyum.
“Suatu hari nanti, Nak. Yang penting kalian sekolah yang rajin.”
Tiga anaknya duduk melingkar di lantai. Mereka tahu ayah mereka bukan orang kaya. Namun, mereka juga tahu bahwa ayah mereka adalah lelaki yang tak pernah menyerah.
Bari memiliki cita-cita yang sederhana sekaligus besar. Ia ingin ketiga anaknya sukses. Ia ingin mereka hidup lebih baik daripada dirinya. Karena itulah ia rela menekuni pekerjaan apa pun selama halal.
Seminggu yang lalu, ia bisa berada di sawah menanam padi. Tubuhnya berlumur lumpur, kaki telanjang menapak pematang yang licin. Hari ini, ia bisa berubah menjadi tukang bangunan yang memasang bata dan mengaduk semen di bawah terik matahari.
Ketika ada panggilan memperbaiko instalasi listrik, ia akan datang membawa tas peralatan lengkap. Kabel, obeng, tang, dan berbagai perlengkapan lain tersusun rapi di dalam tas tuanya.
Banyak orang kagum melihat kemampuannya. “Bari itu serba bisa,” kata orang-orang yang mengenalnya.
Namun ada satu kemampuan yang membuat namanya dikenal hingga ke berbagai sudut Kota Banjarmasin. Ia adalah penebang pohon yang sangat ahli. Tidak sedikit pohon tua yang berdiri di antara gedung tinggi, kantor pemerintahan, sekolah, hingga rumah sakit berhasil ditumbangkannya tanpa merusak bangunan di sekitarnya.
Pekerjaan itu membutuhkan keberanian, keterampilan, dan ketelitian yang luar biasa. Salah sedikit saja, pohon bisa tumbang ke arah yang salah dan menimbulkan kerugian besar. Tetapi Bari memiliki kemampuan yang jarang dimiliki orang lain. Ia mampu memanjat pohon setinggi belasan bahkan puluhan meter menggunakan sabuk pengaman dan tali khusus.
Di tangannya, mesin senso yang berat terasa ringan. Ia akan memotong pohon sedikit demi sedikit dari bagian atas sehingga aman ketika dijatuhkan. Karena keahliannya itu, banyak orang mempercayakan pekerjaan sulit kepadanya.
Termasuk pekerjaan yang sering ditolak penebang lain. Pohon-pohon yang dianggap angker. Pohon yang menurut cerita warga dijaga makhluk tak kasatmata. Pohon yang konon membuat mesin senso mendadak mati. Pohon yang katanya membuat parang menjadi tumpul.
Bari hanya tersenyum setiap kali mendengar cerita seperti itu. “Kalau memang ada penghuni yang tidak terlihat, kita cukup menghormatinya,” katanya.
Suatu ketika seorang pemilik gudang meminta bantuannya menebang pohon beringin tua. Sudah tiga orang penebang datang sebelumnya. Tidak ada yang berhasil. Mesin mereka macet. Rantai senso putus. Ada pula yang mendadak sakit setelah mencoba menebang.
Bari datang dengan tenang. Ia meletakkan secangkir kopi dan sebatang rokok di bawah pohon. Setelah itu ia bekerja seperti biasa. Dalam beberapa jam pohon besar itu berubah menjadi potongan-potongan kayu.
Sejak saat itu namanya semakin terkenal. Orang-orang mulai mengatakan bahwa Bari bukan hanya ahli menebang pohon. Ia juga pandai menghormati penghuni alam yang tak terlihat. Bari sendiri tidak pernah menanggapi cerita itu secara berlebihan. Baginya, pekerjaan tetaplah pekerjaan. Yang penting halal. Yang penting bisa menghidupi keluarga. Yang penting anak-anaknya tetap sekolah.
Pada suatu pagi, telepon genggamnya berdering.
“Assalamualaikum, Bang Bari?”
“Waalaikumsalam.”
“Saya Polah dari rumah sakit di ujung kota. Kami ingin meminta bantuan menebang pohon tua.”
Bari mendengarkan dengan saksama.
Menurut penjelasan Polah, pohon itu sudah sangat tua dan membahayakan bangunan rumah sakit. Saat musim hujan, dahan-dahannya sering patah. Beberapa kali nyaris menimpa kendaraan. Namun tidak ada penebang yang berani mengambil pekerjaan tersebut.
Bari tersenyum. “Insyaallah saya datang.”
Keesokan harinya ia bangun sebelum subuh. Setelah salat dan sarapan sederhana, ia memeriksa semua peralatannya. Parang. Sabuk pengaman. Tali pengaman. Mesin senso. Helm kerja. Sarung tangan. Semuanya disiapkan dengan cermat. Kemudian ia mengikat beberapa perlengkapan di belakang sepeda motor tuanya. Mesin motor meraung pelan ketika ia meninggalkan rumah. Angin pagi Kota Banjarmasin menyambut perjalanannya.
Ia melintasi jalan-jalan yang mulai ramai. Pedagang sayur membuka lapak. Anak-anak berangkat sekolah. Sementara Bari terus melaju menuju rumah sakit yang dimaksud. Sekitar satu jam kemudian ia tiba.
Di depan gerbang sudah menunggu empat petugas. Polah. Asir. Anci, dan Yadi.
“Pak Bari?” tanya Polah.
“Iya.”
“Alhamdulillah akhirnya datang juga.” Mereka lalu mengantar Bari menuju lokasi pohon.
Letaknya berada di bagian belakang rumah sakit. Jalannya sempit dan dipenuhi tanaman liar. Bari mengambil parang dari sarungnya. Sret! Sekali ayun semak-semak langsung rebah.
Sret!
Sret!
Beberapa menit kemudian jalan setapak yang tertutup semak sudah terbuka. Keempat petugas mengikuti dari belakang. Mereka memperhatikan Bari dengan kagum.
“Parangnya tajam sekali,” gumam Asir.
“Yang hebat bukan parangnya,” jawab Yadi pelan. “Orangnya.”
Tak lama kemudian mereka sampai. Bari menghentikan langkah. Matanya menatap ke atas.
Semua orang ikut mendongak. Pohon itu benar-benar besar. Batangnya menjulang tinggi seperti menembus langit. Akar-akarnya muncul di permukaan tanah seperti ular raksasa yang sedang tidur. Daunnya begitu lebat hingga sinar matahari sulit menembus ke bawah.
Untuk pertama kalinya Bari merasakan bulu kuduknya berdiri. Ada sesuatu yang sulit dijelaskan. Seolah-olah pohon itu sedang memperhatikannya. Seolah-olah pohon itu tidak ingin ditebang. Angin tiba-tiba bertiup. Daun-daun berdesir. Bari bergidik sesaat.
Namun hanya sesaat. Ia menarik napas panjang lalu menepis rasa takut yang muncul. Perlahan ia membuka tasnya. Dari dalam tas itu ia mengeluarkan sebuah termos kopi. Ia menuangkan kopi hitam manis ke dalam cangkir plastik bening.
Aromanya langsung menyebar. Kemudian ia mengambil sebatang rokok. Disulutnya rokok itu hingga menyala. Polah dan teman-temannya saling pandang. Mereka heran melihat apa yang dilakukan Bari.
Bari lalu meletakkan kopi dan rokok itu di dekat akar pohon.
“Ini untuk Datuk,” katanya pelan.
Keempat petugas terdiam.
“Minumlah kopi ini dan hisaplah rokok ini.”
Angin kembali berembus. Daun-daun pohon bergoyang perlahan. Bari lalu mengenakan helm dan sabuk pengaman. Mesin senso dihidupkan. Wraaaanggg!
Suara mesin meraung keras. Burung-burung yang bertengger di kejauhan langsung beterbangan. Bari mulai memanjat. Tangannya cekatan. Kakinya bergerak mantap. Sedikit demi sedikit ia naik semakin tinggi.
Dari bawah, tubuhnya terlihat semakin kecil. Polah menelan ludah.
“Berani sekali.”
Asir mengangguk.
“Kalau aku disuruh naik setinggi itu, lututku sudah gemetar.”
Di atas sana, Bari mulai bekerja. Dahan demi dahan dipotong. Potongan kayu diturunkan menggunakan tali agar tidak jatuh sembarangan. Semuanya dilakukan dengan teliti. Satu jam berlalu. Dua jam berlalu. Sebagian besar bagian atas pohon sudah berhasil dipangkas. Kemudian Bari meluncur turun menggunakan tali pengaman.
Begitu kedua kakinya menyentuh tanah, ia langsung menoleh ke arah akar pohon. Ia tertegun. Cangkir plastik itu kosong. Kopi yang tadi penuh kini habis tak bersisa. Rokok yang tadi masih panjang kini tinggal busanya saja.
Polah dan teman-temannya ikut melihat. Mereka saling pandang dengan wajah pucat.
“Apa ada yang minum?” tanya Anci.
Semua menggeleng. Tidak seorang pun mendekati pohon sejak tadi. Bari hanya tersenyum kecil. Ia mengangguk pelan. Seolah memahami sesuatu. Kemudian ia kembali membuka termos. Secangkir kopi baru dituangkannya. Rokok baru kembali dinyalakannya.
“Terima kasih, Datuk,” katanya.
“Minumlah lagi kopi manis ini.”
Keempat petugas hanya bisa diam. Mereka tidak berani berkata apa-apa. Bari kemudian bersiap memanjat lagi. Kali ini pekerjaannya lebih berat. Ia harus memotong batang utama yang besar. Ia naik perlahan. Semakin tinggi. Semakin tinggi.
Ketika mencapai posisi yang diinginkan, ia tiba-tiba melihat sesuatu. Dahan-dahan pohon bergerak. Padahal angin sedang tenang. Daun-daun tersibak seperti ada sesuatu yang melintas di antaranya.
Bari menatap ke arah itu. Tidak ada siapa-siapa. Namun ia merasakan kehadiran yang tidak terlihat. Dengan suara tenang ia berkata,
“Datuk, minumlah kopi manis dan isaplah rokok itu.”
Dahan kembali bergoyang.
“Namun jangan halangi aku menebang pohon yang mengganggu ini.”
Sesaat kemudian semuanya kembali tenang. Bari mengangguk. Lalu mesin sensonya meraung lagi.
Wraaaanggg!
Gigi-gigi rantai mulai menggigit kayu tua. Serbuk kayu beterbangan. Potongan demi potongan batang berhasil dipisahkan. Pekerjaan berlangsung hingga sore. Matahari mulai condong ke barat.
Keringat membasahi seluruh tubuh Bari. Tangannya pegal. Punggungnya terasa nyeri. Namun semangatnya tidak berkurang. Ia teringat wajah ketiga anaknya. Ia teringat cita-citanya.
Ia ingin mereka sukses. Ia ingin mereka memperoleh pendidikan terbaik. Ia ingin mereka memiliki masa depan yang lebih cerah. Pikiran itulah yang membuatnya terus bekerja. Akhirnya tibalah saat terakhir. Bagian batang utama yang tersisa tinggal beberapa meter saja. Semua orang menjauh ke lokasi aman. Bari memeriksa arah rebah pohon. Tali pengaman dipasang. Perhitungan dilakukan dengan cermat.
Kemudian ia mulai membuat sayatan terakhir.
Wraaaanggg!
Suara mesin menggema. Retak. Retak.
Kraakkk!
Batang raksasa itu mulai bergerak.
“Menjauh!” teriak Bari.
Semua orang mundur. Pohon tua itu perlahan miring. Kemudian dengan suara menggelegar, batang raksasa tersebut tumbang tepat ke arah yang sudah diperhitungkan.
Brakkkk!
Tanah bergetar. Debu beterbangan. Daun-daun berhamburan ke udara. Beberapa detik suasana hening. Lalu terdengar tepuk tangan. Polah bertepuk tangan paling keras. Disusul Asir, Anci, dan Yadi.
“Berhasil!” seru mereka.
Bari melepaskan helmnya. Wajahnya penuh keringat. Namun senyumnya mengembang.
Ia berjalan mendekati bekas tempat kopi dan rokok diletakkan. Cangkir itu kembali kosong. Rokok itu kembali habis. Bari menangkupkan kedua tangannya di depan dada.
“Terima kasih, Datuk.”
Angin sore bertiup lembut. Daun-daun yang tersisa bergerak perlahan seolah memberi salam perpisahan. Bari lalu membereskan peralatannya. Pekerjaan telah selesai.
Sebelum pulang, Polah menyerahkan upah yang telah dijanjikan. Bari menerimanya dengan rasa syukur. Dalam perjalanan pulang menuju rumahnya, senyum tak pernah lepas dari wajahnya. Hari itu ia kembali membuktikan bahwa keberanian bukanlah tidak memiliki rasa takut. Keberanian adalah tetap melangkah meskipun rasa takut datang menghampiri. Bagi Bari, setiap pohon yang berhasil ditebang bukan sekadar pekerjaan. Itu adalah jalan halal yang ditempuh seorang ayah demi mewujudkan mimpi tiga anak yang sangat dicintainya.
***
Tentang Penulis:
Muhamad Yusuf, cerpenis yang merupakan pengajar Bahasa Indonesia di SMA Negeri 1 Banjarmasin.
Editor : Arief