Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Gerbang di Musim Hujan

admin • Sabtu, 6 Juni 2026 | 09:22 WIB
CERPEN: Meylina Borneta T
CERPEN: Meylina Borneta T

 

Pagi itu langit Martapura berwarna kelabu muda.

Hujan yang turun semalam masih meninggalkan bekas pada halaman pesantren. Tetes-tetes air menggantung di ujung daun mangga. Angin membawa aroma tanah basah yang bercampur dengan bau sabun dari jemuran mukena yang berbaris di belakang asrama putri.

—--

Aris berdiri di samping mobil sambil memandangi putrinya.

Salsa baru lulus SD.

Usianya dua belas tahun.

Tas besar yang disandangnya tampak hampir sebesar tubuhnya sendiri. Di tangan kirinya tergenggam map berisi berkas-berkas yang sejak semalam berkali-kali diperiksa ibunya.

"Sudah lengkap semuanya?" tanya Aris.

Istrinya mengangguk.

"Sudah. Dari tadi Abah yang memeriksa terus."

Aris tersenyum tipis.

Ia tahu istrinya sedang menyindir.

Sejak beberapa hari terakhir, ia memang menjadi lebih cerewet daripada biasanya. Hal-hal kecil yang sebelumnya tidak pernah dipikirkan mendadak terasa penting.

Sandal.

Obat.

Pakaian.

Alat mandi.

Buku tulis.

Bahkan payung.

Seolah ada barang tertentu yang jika tertinggal dapat mengubah seluruh masa depan anaknya.

Padahal ia tahu itu tidak masuk akal.

Yang sebenarnya membuatnya gelisah bukan perlengkapan Salsa.

Melainkan kenyataan bahwa mulai hari itu putrinya akan hidup jauh dari rumah.

Enam tahun.

SMP hingga SMA.

Waktu yang cukup panjang bagi seorang anak untuk berubah.

Dan cukup panjang pula bagi seorang ayah untuk merasa kehilangan banyak hal.

Mereka berjalan memasuki area pesantren.

Di halaman, beberapa santriwati tampak menyapu. Sebagian lain mengangkat ember berisi pakaian yang baru dicuci. Dari masjid terdengar suara murattal yang mengalun pelan.

Suasananya sederhana.

Tidak berbeda jauh dengan yang dibayangkan Aris ketika pertama kali survei ke pondok beberapa bulan lalu.

Namun pagi ini semuanya terasa berbeda.

Tempat yang dulu hanya tampak sebagai bangunan kini terasa seperti sebuah dunia yang akan mengambil sebagian besar waktu putrinya.

Seorang ustazah menyambut mereka.

Ramah.

Tenang.

Menjelaskan berbagai aturan pondok dengan sabar.

Tentang jadwal belajar.

Tentang jadwal makan.

Tentang kunjungan keluarga.

Tentang libur Ramadan yang memungkinkan para santriwati pulang ke rumah.

Dan tentang komunikasi.

"Kalau ingin menghubungi keluarga, santriwati bisa menggunakan telepon pondok sesuai jadwal yang ditentukan," katanya.

"Handphone tidak boleh dibawa?"

tanya Aris, meskipun ia sudah mengetahui jawabannya.

Ustazah itu tersenyum.

"Tidak diperbolehkan."

Aris mengangguk pelan.

Entah mengapa, jawaban yang sudah diketahuinya itu terasa lebih berat ketika didengar langsung.

Manusia sering mengira kedekatan ditentukan oleh jarak.

Padahal kadang-kadang kedekatan hanya ditentukan oleh keyakinan bahwa seseorang dapat dihubungi kapan saja.

Keyakinan itu kini harus ia lepaskan.

*

Saat waktu perpisahan tiba, Salsa mulai menunduk.

Ia berusaha tampak tegar.

Tetapi matanya tidak bisa menyembunyikan apa pun.

Istrinya memeluk anak itu erat-erat.

Beberapa detik.

Lalu beberapa detik lagi.

Seolah pelukan dapat memperlambat waktu.

Ketika giliran Aris, ia hanya mengusap kepala putrinya.

Ia tidak pandai menunjukkan perasaan.

Sejak muda memang begitu.

Namun justru karena itulah Salsa langsung tahu ayahnya sedang menahan sesuatu.

"Jangan lupa salat berjamaah."

"Iya, Bah."

"Belajar yang rajin."

"Iya."

"Kalau ada masalah..."

"Saya bilang ke ustazah."

"Kalau kangen rumah?"

Salsa tersenyum kecil.

"Nanti telepon."

Aris tertawa.

Tawa yang terdengar lebih pendek daripada biasanya.

Ketika mobil mulai bergerak meninggalkan halaman pesantren, ia sempat menoleh ke belakang.

Salsa masih berdiri di dekat asrama.

Tubuh kecil dengan kerudung putih.

Semakin lama semakin jauh.

Sampai akhirnya hilang di balik bangunan.

Aris tidak mengatakan apapun selama perjalanan pulang.

Begitu pula istrinya.

Kadang-kadang kesedihan tidak membutuhkan percakapan.

Ia hanya duduk diam di antara dua orang yang sama-sama memahaminya.

*

Malam pertama terasa ganjil.

Rumah mereka tidak benar-benar sunyi.

Kulkas masih berdengung.

Televisi masih menyala.

Suara motor dari jalan masih sesekali terdengar.

Tetapi ada sesuatu yang hilang.

Sesuatu yang tidak bisa digantikan oleh suara apa pun.

Di meja makan, piring yang biasanya berjumlah tiga kini hanya dua.

Di kamar, ranjang Salsa telah dirapikan.

Di rak buku, beberapa novel anak-anak masih tersusun seperti ditinggalkan pemiliknya beberapa menit lalu.

Aris berdiri di depan pintu kamar itu.

Lama.

Seakan berharap menemukan alasan untuk masuk.

Namun tidak ada.

Kamar itu hanya kamar.

Yang membuatnya hidup adalah penghuninya.

Malam itu ia sulit tidur.

Bukan karena khawatir.

Belum.

Kekhawatiran yang sesungguhnya datang belakangan.

Yang ia rasakan saat itu lebih mirip kehilangan ritme.

Seperti seseorang yang terbiasa mendengar suara jam dinding selama bertahun-tahun, lalu mendadak jam itu berhenti.

*

Hari-hari berikutnya berjalan perlahan.

Seminggu kemudian telepon pertama datang dari pondok.

Nomor kantor pesantren muncul di layar.

Aris yang sedang menyiram tanaman langsung berlari masuk ke rumah.

"Halo?"

"Assalamualaikum, Bah."

Suara Salsa.

Jauh.

Sedikit berdesis.

Tetapi cukup membuat wajahnya berubah cerah.

"Bagaimana di sana?"

"Baik."

"Makan cukup?"

"Alhamdulillah."

"Teman-temannya baik?"

"Iya."

"Menangis tidak?"

Terdengar tawa kecil.

"Abah ini."

Jawaban itu membuat Aris ikut tertawa.

Percakapan hanya berlangsung beberapa menit.

Masih banyak santriwati lain yang menunggu giliran menggunakan telepon.

Namun beberapa menit itu terasa cukup.

Setidaknya untuk sementara.

*

Bulan pertama berlalu.

Kemudian bulan kedua.

Salsa mulai bercerita lebih banyak.

Tentang teman sekamarnya yang berasal dari Hulu Sungai.

Tentang jadwal bangun sebelum subuh.

Tentang antrean kamar mandi.

Tentang kegiatan bersih-bersih halaman.

Dan tentang sebuah pohon mangga tua yang tumbuh di tengah kompleks asrama putri.

"Kenapa sering sekali cerita tentang pohon itu?" tanya Aris suatu kali.

"Soalnya enak duduk di bawahnya."

"Hanya itu?"

"Iya."

Anak-anak memang sering menyukai sesuatu tanpa alasan rumit.

Mungkin karena mereka belum terbiasa mencari makna di balik segala hal.

Tidak seperti orang dewasa yang sering kali terlalu sibuk menafsirkan dunia.

*

Suatu malam setelah salat isya, Aris membuka media sosial.

Awalnya hanya ingin membaca berita daerah.

Namun seperti biasa, satu berita mengantar ke berita lain.

Lalu berita berikutnya.

Lalu komentar-komentar yang tidak ada habisnya.

Di antara semuanya, kabar buruk selalu tampak paling mencolok.

Kasus kekerasan.

Penyalahgunaan wewenang.

Pengkhianatan terhadap kepercayaan.

Aris menutup layar.

Tetapi apa yang sudah dibaca tidak ikut tertutup.

Bayangan-bayangan itu tinggal di kepala.

Membentuk kegelisahan kecil yang sulit dijelaskan.

Ia mencoba mengabaikannya.

Namun kegelisahan memiliki kebiasaan aneh.

Semakin diabaikan, kadang semakin terasa.

*

Musim hujan tiba.

Sore-sore menjadi lebih gelap.

Atap rumah lebih sering dipukul suara air.

Pohon-pohon di halaman tampak lebih hijau.

Pada suatu pekan, jadwal telepon Salsa tidak kunjung datang.

Hari pertama, Aris tidak terlalu memikirkan.

Hari kedua, ia mulai beberapa kali melihat layar ponselnya.

Hari ketiga, ia mencoba menghubungi nomor kantor pondok.

Tidak tersambung.

Mungkin jaringan.

Pikirnya.

Hari keempat, ia mencoba lagi.

Tetap gagal.

Di luar rumah hujan turun deras.

Angin membuat ranting-ranting pohon bergoyang.

Aris duduk di ruang tamu dengan ponsel di tangan.

Perlahan-lahan, kegelisahan yang selama ini hanya berupa bayangan mulai tumbuh menjadi sesuatu yang lebih nyata.

Dan untuk pertama kalinya sejak mengantar Salsa ke pesantren, ia merasakan ketakutan yang tidak bisa lagi diusir hanya dengan alasan-alasan yang masuk akal.

*

Keesokan paginya langit masih mendung.

Setelah sarapan, Aris mengambil kunci mobil.

Istrinya yang sedang menyeduh teh memandangnya sebentar.

"Mau ke pondok?"

Aris mengangguk.

"Tidak tenang."

Istrinya tidak berusaha melarang.

Selama bertahun-tahun hidup bersama, ia tahu ada kegelisahan yang hanya bisa selesai jika seseorang melihat sendiri kenyataan di depan matanya.

"Kalau bertemu Salsa, bilang Umma kangen."

Aris tersenyum tipis.

"Insyaallah."

Perjalanan menuju pesantren terasa lebih panjang dari biasanya.

Di kiri-kanan jalan, sawah dan kebun tampak basah oleh hujan beberapa hari terakhir. Langit menggantung rendah. Sesekali gerimis turun lalu berhenti lagi.

Sepanjang perjalanan, pikirannya dipenuhi berbagai kemungkinan.

Sebagian masuk akal.

Sebagian tidak.

Begitulah ketakutan bekerja.

Ia mengambil satu pertanyaan kecil, lalu menumbuhkannya menjadi puluhan bayangan yang sulit dibedakan dari kenyataan.

Ketika gerbang pesantren akhirnya terlihat, jantung Aris berdetak sedikit lebih cepat.

Namun yang ditemuinya justru suasana yang biasa.

Sangat biasa.

Beberapa santriwati berjalan menuju kelas sambil membawa kitab. Seorang ustazah sedang berbicara dengan petugas kebersihan. Di dekat dapur umum, beberapa santriwati mengangkat ember berisi cucian.

Tidak ada kegaduhan.

Tidak ada kepanikan.

Tidak ada apa pun yang menyerupai bayangan dalam kepalanya selama beberapa hari terakhir.

Di kantor pengurus, seorang ustaz menjelaskan bahwa jaringan telepon sempat terganggu akibat cuaca buruk. Selain itu, beberapa kegiatan pondok membuat jadwal penggunaan telepon harus ditunda.

"Kami sebenarnya sudah mencoba menghubungi beberapa wali santri melalui nomor cadangan," katanya.

"Barangkali ada yang belum tersambung."

Aris mengangguk.

Tiba-tiba ia merasa sedikit malu.

Bukan karena datang ke pesantren.

Melainkan karena membiarkan ketakutannya tumbuh tanpa memberi ruang yang cukup bagi penjelasan lain.

Ia duduk menunggu di teras kantor.

Dari tempat itu tampak pohon mangga tua yang sering diceritakan Salsa.

Batangnya besar dan sedikit miring. Beberapa akar muncul di permukaan tanah. Daun-daunnya bergerak pelan diterpa angin.

Tak lama kemudian bel istirahat berbunyi.

Santriwati mulai keluar dari kelas.

Dan di antara mereka, Aris melihat Salsa.

Anak itu membawa beberapa buku yang dipeluk di dada. Kerudung putihnya sedikit miring. Ujung sepatunya penuh bercak tanah karena halaman masih basah.

"Abah!"

Wajahnya langsung berseri.

Ia berlari kecil menghampiri.

"Abah kok datang?"

"Abah khawatir karena tidak ada telepon."

Salsa tampak memahami.

"Oh, itu."

Ia tertawa kecil.

"Tiga hari ini memang susah, Bah."

Mereka duduk di bawah pohon mangga.

Untuk pertama kalinya Aris melihat tempat yang selama ini hanya hadir dalam cerita-cerita singkat lewat telepon.

Di bawah pohon itu beberapa santriwati membaca. Yang lain mengobrol pelan. Dari kejauhan terdengar suara hafalan yang diulang-ulang.

Suasana yang sederhana.

Tetapi justru karena kesederhanaannya terasa menenangkan.

"Betah di sini?" tanya Aris.

Salsa berpikir sejenak.

"Kadang capek."

"Lalu?"

"Kadang kangen rumah."

"Lalu?"

Anak itu tersenyum.

"Tapi senang juga."

Jawaban itu membuat Aris tertawa.

Hidup memang jarang terdiri dari satu perasaan saja. Bahkan anak berusia dua belas tahun tampaknya sudah memahami hal itu.

Ia memperhatikan putrinya.

Tubuhnya masih kecil.

Wajahnya masih sama seperti beberapa bulan lalu.

Namun ada sesuatu yang berubah.

Sesuatu yang sulit dijelaskan.

Mungkin kepercayaan diri.

Mungkin kemandirian.

Atau mungkin sekadar pengalaman hidup yang perlahan mulai menulis dirinya sendiri.

Sebelum kembali ke kelas, Salsa berdiri dan merapikan bukunya.

"Salam untuk Umma."

"Iya."

"Jangan lupa bilang saya baik-baik saja."

"Iya."

Kemudian ia berhenti sejenak.

"Abah."

"Ya?"

"Jangan terlalu khawatir."

Kalimat itu begitu sederhana.

Namun entah mengapa membuat Aris terdiam beberapa saat.

Anaknya yang berusia dua belas tahun sedang berusaha menenangkan dirinya.

Bel berbunyi lagi.

Salsa melambaikan tangan lalu berlari kecil menuju kelas.

Aris memperhatikannya sampai menghilang di balik koridor.

Di atasnya, daun-daun mangga bergerak perlahan.

Seolah sedang mengucapkan sesuatu yang tidak perlu diterjemahkan ke dalam kata-kata.

Dalam perjalanan pulang, hujan kembali turun.

Tipis.

Hampir seperti kabut.

Aris mengemudi dengan perasaan yang berbeda dari pagi tadi.

Kekhawatiran tidak sepenuhnya hilang.

Ia tahu dunia tidak pernah benar-benar aman.

Anak-anak tetap perlu dijaga.

Orang tua tetap perlu hadir.

Komunikasi tetap harus dipelihara.

Kepercayaan bukan berarti menutup mata.

Namun ia juga menyadari sesuatu yang lain.

Jika ketakutan dibiarkan tumbuh tanpa batas, manusia akan kehilangan kemampuan melihat kebaikan yang masih ada di sekitarnya.

Padahal kehidupan tidak hanya berisi berita buruk yang muncul di layar telepon.

Ada pula guru-guru yang bekerja dengan tulus.

Ada orang-orang yang menjaga amanah dengan sungguh-sungguh.

Ada tempat-tempat yang setiap hari berusaha mendidik anak-anak agar menjadi manusia yang lebih baik.

Sesampainya di rumah, istrinya langsung menyambut di teras.

"Bagaimana?"

Aris tersenyum.

"Baik."

Hanya satu kata.

Tetapi cukup untuk menjelaskan semuanya.

Malam itu hujan turun lagi.

Aris duduk di teras sambil mendengarkannya.

Entah mengapa ia teringat pada gerbang pesantren.

Gerbang yang dulu tampak seperti batas antara dirinya dan putrinya.

Kini ia memahaminya secara berbeda.

Gerbang itu bukan pemisah.

Ia hanya penanda bahwa seorang anak sedang berjalan menuju masa depannya, sementara orang tuanya belajar mengikuti dari kejauhan.

Dengan perhatian.

Dengan doa.

Dan dengan komunikasi yang tetap terjaga.

Di kejauhan terdengar azan magrib berkumandang.

Aris memejamkan mata sejenak.

Lalu tersenyum.

Karena akhirnya ia memahami bahwa melepaskan bukan berarti kehilangan.

Kadang-kadang, melepaskan hanyalah cara lain untuk mencintai. (*)

 

Tentang Penulis:

Ibu rumah tangga biasa, tinggal di Banjarbaru, yang punya putri kesayangan mondok di Pesantren.





Editor : Muhammad Rizky
#cerpen keluarga #PondokPesantren #KisahInspiratif #PendidikanAnak