Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Pengakuan Seorang Pencuri

admin • Senin, 18 Mei 2026 | 20:17 WIB
ilustrasi
ilustrasi
 

CERPEN OLEH: Muhamad Yusuf 

Siang ini, Samsul sengaja makan di kedai soto di pertigaan pasar karena bosan dengan menu di kantin kantornya yang itu-itu saja. Aroma kuah kaldu yang bercampur jeruk nipis dan bawang goreng membuatnya sedikit lupa pada tumpukan laporan yang menunggu di meja kerja. Di sampingnya duduk seorang lelaki sebaya dengannya, berwajah kusut dengan kemeja lengan panjang yang tampak pudar dimakan usia. Lelaki itu beberapa kali melirik Samsul seolah ingin mengatakan sesuatu, tetapi urung. Saat penjual soto meletakkan semangkuk pesanan di hadapan lelaki itu, dengan ekspresi tidak senang.

Tiba-tiba lelaki itu lalu berkata tegas, tanpa jelas ditujukannya kepada siapa, “Saya pernah mencuri uang dua puluh juta milik teman sendiri.”

Samsul yang baru saja menyendok kuah soto langsung terdiam. Di tengah riuh suara pasar dan bunyi klakson truk yang bersahutan, pengakuan itu terdengar begitu ganjil, seperti batu yang dilempar ke permukaan air tenang. Lelaki itu kemudian menoleh ke arah Samsul.  Samsul hanya mengangguk dan tersenyum datar. Ia tak ingin akrab dengan lelaki yang gerak-geriknya tampak mencurigakan sejak tadi. Mata lelaki itu sering bergerak ke kanan dan kiri seperti sedang mengawasi seseorang, sementara jemarinya sebentar-sebentar mengetuk meja kayu yang sudah kusam dimakan usia. Sesekali ia tertawa kecil tanpa sebab yang jelas. Lalu kembali memasang wajah muram.

Samsul memilih fokus pada sotonya, meski dalam hati muncul rasa tidak nyaman. Pengakuan tentang pencurian itu terasa terlalu gegabah untuk diucapkan kepadanya yang baru ditemui beberapa menit.

Lelaki itu menggeser duduknya dan mendekati Samsul, lalu berbisik pelan. “Saya bukan mau membanggakan dosa, Pak. Saya cuma tak sanggup menyimpannya sendiri.” Kalimat itu membuat Samsul perlahan meletakkan sendoknya. Untuk pertama kalinya, ia mulai merasa bahwa lelaki di sampingnya bukan sekadar orang aneh yang mencari perhatian, melainkan seseorang yang sedang dikejar sesuatu yang jauh lebih menakutkan daripada polisi.

Lelaki itu kembali menyeruput teh hangatnya sebelum berkata lirih, “Di dunia ini dipenuhi pencuri.” Aku tersentak mendengarnya. Kalimat itu terasa kasar dan seolah menyamaratakan semua orang. Aku tak suka cara bicaranya yang seperti sedang menghakimi dunia. Keningku langsung berkerut. Sementara di luar kedai suara pedagang jajanan dan deru sepeda motor berlalu-lalang tanpa peduli pada percakapan aneh di meja kami.

Lelaki itu menatapku sebentar, lalu tersenyum tipis seperti memahami keberatanku. “Ada yang mencuri uang, ada yang mencuri kepercayaan, ada juga yang mencuri kebahagiaan orang lain.” lanjutnya pelan. Aku mendecakkan lidah dan berniat segera menghabiskan soto agar bisa pergi dari sana. Namun entah mengapa, ucapan lelaki itu justru seperti kail kecil yang diam-diam menancap di pikiranku.

Ia kembali menunduk sambil memainkan sendok di tangannya. “Ada juga yang mencuri waktu orang lain, mencuri kesempatan hidup orang,” katanya pelan, nyaris tenggelam oleh suara hujan gerimis yang mulai jatuh di atap seng kedai.

Lagi-lagi perkataannya membuat dadaku terasa sesak. Aku bagai ditampar sesuatu yang tak terlihat. Tiba-tiba pikiranku melayang pada banyak hal yang selama ini kuanggap sepele. Pada bawahan di kantor yang idenya pernah kuambil saat rapat tanpa menyebut namanya. Pada janji kepada anak yang berkali-kali kutunda karena sibuk lembur. Pada ibuku yang sering menunggu kepulanganku setiap akhir pekan, tetapi malah kuberi alasan pekerjaan. Lelaki itu mungkin memang pernah mencuri uang, tetapi saat itu aku mulai sadar bahwa diriku sendiri belum tentu lebih bersih darinya.

Aku menatap lelaki itu lekat-lekat sebelum bertanya dengan nada pelan, nyaris seperti berbicara kepada diri sendiri, “Kalau begitu, siapa di dunia ini yang bukan pencuri?” Sejujurnya aku tak berharap ia menjawab. Pertanyaan itu hanya keluar begitu saja karena kepalaku mulai penuh oleh kata-katanya yang aneh dan menusuk. Namun lelaki itu justru tersenyum tipis, lalu menunjuk dada kurusnya sendiri. “Orang yang mau mengaku,” katanya tenang. Aku terdiam. Ia lalu melanjutkan, “Pencuri paling berbahaya bukan yang mengambil uang atau barang. Tapi yang terus merasa dirinya paling jujur.” Jawaban itu menghantamku lebih keras daripada pengakuannya sejak awal. Untuk beberapa detik aku bahkan lupa rasa soto di mulutku. Di hadapanku, lelaki yang tampak lusuh dan mencurigakan itu tiba-tiba terasa seperti cermin yang memperlihatkan sisi diriku yang selama ini mati-matian kusembunyikan.

Setelah selesai makan, aku berniat segera kembali ke kantor. Aku segera berdiri sambil meraih dompet, berharap percakapan aneh itu berakhir sampai di sana. Namun tiba-tiba lelaki itu berbisik pelan, “Tolong bayarkan makan saya.” Aku menangguk ringan tanpa berkata sepatah pun. Entah karena iba atau karena merasa berutang pada kata-katanya yang sejak tadi mengusik pikiranku. Setelah membayar di kasir, aku berjalan menuju areal parkir yang becek oleh gerimis. Lelaki itu mengikuti beberapa langkah di belakangku. Kukira ia hendak mengucapkan terima kasih, tetapi sesampainya di dekat mobil, ia justru berkata lirih tanpa kuduga, “Dompet Bapak jatuh di dekat meja kasir.” Seketika tubuhku menegang. Tanganku spontan meraba saku celana dan benar, dompetku tak ada di sana. Lelaki itu lalu mengeluarkan dompet hitam milikku dari balik kemejanya. “Kalau saya masih pencuri seperti dulu, mungkin hari ini Bapak pulang tanpa dompet.” Aku tercekat.  Aku merasa sedang berdiri di depan seseorang yang baru saja memenangkan pertarungan paling berat dalam hidupnya, yaitu melawan dirinya sendiri.

Tiba di kantor, kulihat sebagian pegawaiku masih nongkrong di kantin, taman belakang, dan duduk lesehan di ruang santai sambil tertawa kecil menikmati sisa waktu istirahat. Biasanya pemandangan seperti itu selalu membuat darahku naik. Aku dikenal sebagai atasan yang keras soal disiplin. Sedikit saja pegawai terlambat kembali bekerja, teguranku bisa terdengar sampai lorong depan. Namun kali ini langkahku justru terasa berat. Aku masuk ke ruang kerja dengan dada bergetar, lalu melirik arloji di pergelangan tangan. Pukul 14.05. Artinya aku sendiri terlambat tiga puluh lima menit masuk kerja.

Aku perlahan duduk di kursi, menatap tumpukan map di meja yang mendadak terasa asing. Kata-kata lelaki di kedai soto itu kembali berdengung di telingaku. “Ada yang mencuri waktu orang lain.” Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun menjadi pimpinan, aku merasa sedang menangkap seorang pencuri yang selama ini lolos dari pengawasanku. Pencuri itu adalah diriku sendiri.

Tiba-tiba seorang pegawaiku mengetuk pintu, lalu langsung masuk tanpa menunggu jawabanku. “Pak, ada seseorang mencari Bapak. Sudah menunggu di lobi,” katanya singkat. Aku mengernyit heran karena jarang ada tamu datang tanpa janji lebih dulu. Dengan perasaan malas dan kepala yang masih dipenuhi percakapan di warung soto tadi, aku segera bangkit dari kursi. Namun begitu tiba di lobi, langkahku mendadak terhenti. Dadaku seperti dipukul sesuatu yang keras. Lelaki lusuh yang kutemui di kedai soto itu kembali duduk di sofa tamu sambil memegang gelas air mineral. Ia tersenyum kecil saat melihatku datang. Aku benar-benar tak menyangka ia berani datang ke kantor ini. Beberapa pegawai tampak melirik kami dengan wajah penasaran. Lelaki itu lalu berdiri perlahan dan berkata pelan, “Maaf, Pak. Ada satu pengakuan lagi yang belum saya selesaikan sejak tadi.”

Lelaki itu berdiri perlahan dari sofa lobi. Wajahnya tampak lebih tenang dibanding saat di warung soto tadi. Sementara aku justru merasa gelisah tanpa alasan yang jelas. Beberapa pegawai yang lewat mulai memperhatikan kami diam-diam. Aku tak suka menjadi pusat perhatian, apalagi bersama lelaki asing berpakaian lusuh seperti itu.

“Apa lagi?” tanyaku pendek.

Ia menghela napas panjang sebelum menjawab, “Saya datang bukan mau meminta uang atau bantuan.”

“Lalu?”

“Saya cuma ingin mengembalikan sesuatu.”

Keningku berkerut. Lelaki itu merogoh tas kain kecil yang sejak tadi diselempangkannya di bahu. Dari dalam tas itu ia mengeluarkan sebuah map cokelat yang sudut-sudutnya mulai kusam. Begitu melihat map itu, aku menjadi bingung.

“Apa itu?” suaraku tercekat.

Lelaki itu mengangguk pelan. “Dua puluh dua tahun lalu, saya mencurinya dari meja kerja, Bapak Samsir,  ayah Bapak.”

Dunia seperti berhenti bergerak sesaat.

Tanganku perlahan menerima map itu. Di sudut kanan atas masih tertulis nama ayahku dengan tinta biru yang mulai pudar. Aku mendadak teringat masa-masa ketika ayahku pulang larut malam dengan wajah murung. Ia pernah dituduh menggelapkan uang proyek kantor karena dokumen penting hilang. Atasannya tak percaya pada penjelasannya. Karier ayahku hancur pelan-pelan setelah kejadian itu. Ia memilih pensiun dini dan lebih banyak diam di rumah sampai meninggal beberapa tahun kemudian.

Aku menatap lelaki itu tajam. “Jadi selama ini, Anda …?”

Matanya berkaca-kaca. “Saya office boy di kantor ayah Bapak waktu itu. Saya disuruh mencuri map ini.”

“Disuruh siapa?”

Lelaki itu menunduk lama sekali sebelum menjawab lirih, “Atasan ayah Bapak sendiri.”

Aku menggenggam map itu erat sampai jemariku bergetar. Amarah yang bertahun-tahun tertimbun mendadak bangkit seperti api disiram bensin.

“Kenapa baru sekarang?” tanyaku dengan suara meninggi.

“Karena saya pengecut.”

Jawaban itu membuat lobi mendadak terasa sunyi.

“Saya dibayar untuk diam. Setelah ayah Bapak jatuh, saya pindah kerja ke mana-mana. Uangnya habis, hidup saya berantakan. Saya kira dosa itu juga akan ikut hilang seiring waktu. Tapi ternyata tidak.” Ia tersenyum pahit. “Semakin tua, dosa ini malah semakin berat.”

Aku tak sanggup berkata apa-apa. Di dalam map itu masih ada dokumen asli yang dulu bisa menyelamatkan nama ayahku. Bukti bahwa ayahku tidak bersalah.

Lelaki itu melanjutkan dengan suara gemetar, “Tadi saat melihat Bapak di warung soto, saya langsung mengenali wajah Bapak. Wajah Bapak mirip sekali dengan Bapak Samsir.”

Dadaku semakin sesak.

“Saya sudah berkeliling terlalu lama membawa map ini” katanya lagi. “Saya sudah lelah menjadi pencuri.”

Mataku terasa panas. Selama bertahun-tahun aku hidup dengan keyakinan bahwa dunia memang tidak adil kepada ayahku. Aku tumbuh menjadi lelaki keras karena tak ingin diinjak seperti beliau dulu. Aku memarahi pegawai, menuntut disiplin tanpa ampun, bahkan sering merasa paling benar. Namun siang itu, di lobi kantor yang dingin oleh pendingin ruangan, seorang mantan pencuri justru mengajariku sesuatu yang tak pernah kupahami, sebelumnya. Sebuah pengakuan membutuhkan keberanian yang lebih besar daripada menyembunyikan kesalahan.

Lelaki itu kemudian membungkuk pelan kepadaku. “Maafkan saya kalau masih bisa dimaafkan.”

Aku menatapnya lama. Untuk sesaat, yang kulihat bukan lagi lelaki mencurigakan di warung soto, melainkan manusia tua yang kelelahan memikul dosa selama puluhan tahun. Anehnya, di detik itu pula, aku merasa ayahku akhirnya pulang dengan nama yang bersih.

Dari balik jendela ruang kerjanya, Samsul melihat lelaki lusuh itu berjalan ringan di atas aspal yang mengkilap oleh sisa hujan, seolah beban puluhan tahun baru saja lepas dari pundaknya. Langkahnya pelan, tetapi wajahnya tampak jauh lebih tenang dibanding saat pertama kali duduk di warung soto siang tadi. Diam-diam Samsul mengamatinya dari balik kaca. Gerimis tipis kembali turun membasahi halaman kantor. Namun baru beberapa detik berselang, sebuah Avanza melaju kencang dari arah tikungan dengan gerakan tak terkendali. Mobil itu langsung menghantam tubuh lelaki itu hingga terpental ke tepi jalan.

“Pak!” jerit Samsul spontan, suaranya pecah oleh panik.

Samsul tak kuasa bergerak dari tempatnya berdiri. Tubuhnya membeku, sementara dadanya sesak seperti dihimpit sesuatu yang berat. Sesaat kemudian ia melihat orang-orang berhamburan keluar dari warung, kantor, dan trotoar sekitar jalan. Beberapa berlari mendekati tubuh lelaki itu, sebagian lagi berteriak meminta tolong. Di tengah gerimis yang makin rapat, Samsul hanya mampu menatap nanar. (*)

 

Tentang Penulis:

Muhamad Yusuf, S.Pd. Cerpenis yang merupakan Pengajar Bahasa Indonesia di SMA Negeri 1 Banjarmasin.

Editor : Arief
#cerpen