CERPEN oleh: Moh. Hairud Tijani
“Biarlah hati tetap bebas dalam perjalanan panjang ini, karena bumi terlalu luas untuk terburu-buru dimiliki.” (HairudMh)
—---
Arjuno berdiri tegap, menantang langit yang belum sepenuhnya membuka matanya. Tubuhnya seperti ksatria tua yang menolak menunduk, memandang dunia dari punggung bumi dengan kesunyian yang agung. Di sebelahnya, Welirang menghembuskan napas putih, belerang yang menyelimuti udara dengan aroma rahasia, seakan menyimpan cerita yang tak pernah selesai. Ibarat jika pendaki adalah tamu maka hanya Arjuno yang tau siapa yang berhak jadi tamu nya.
Aku menapak tanah yang masih basah oleh embun, mendengar desah angin yang menembus pepohonan. Setiap batu yang diinjak seakan berbicara, menandai bahwa perjalanan ini bukan sekadar jarak yang ditempuh, tapi waktu yang harus dirasakan. Pagi itu, kabut masih menggantung rendah ketika Raka mengikatkan tali carrier di bahunya. Angin dingin menyelinap melalui jaketnya, membawa aroma pinus dan tanah basah. Di belakangnya, Sekar berdiri sambil merapikan buff di leher, matanya menatap jalur pendakian yang berliku.
“Masih yakin?” tanya Raka, menoleh.
Sekar tersenyum kecil. “Bukankah gunung selalu menunggu orang-orang yang yakin?”
Raka terdiam. Ia mengenal Sekar bukan sebagai pendaki pemula, tetapi sebagai seseorang yang selalu menaruh perasaan di tempat paling berbahaya termasuk pada gunung, dan mungkin… pada dirinya. Mereka memulai pendakian dari jalur Tretes. Langkah demi langkah menyusuri hutan yang rapat, suara ranting patah dan burung yang terkejut menjadi saksi. Jalur Arjuno tidak ramah, tapi jujur. Ia tidak menjanjikan kemudahan, hanya keindahan bagi mereka yang bertahan.
Di pos Lembah Kidang, mereka berhenti sejenak. Sekar membuka botol minum, napasnya sedikit terengah.
“Kamu ingat cerita Arjuno dan Welirang?” tanya Sekar tiba-tiba.
Raka mengangguk. “Dua gunung yang katanya dijodohkan alam, tapi terus saling menguji.”
“Kadang aku merasa,” lanjut Sekar pelan, “Manusia itu seperti dua gunung. Diam, kokoh, tapi menyimpan letupan.”
Raka menatap api kecil yang mereka nyalakan. Ada kata-kata yang ingin ia ucapkan, namun tertahan oleh takut dan ego. Seperti lava yang terkurung di perut gunung. Pendakian dilanjutkan. Semakin tinggi, jalur semakin curam. Angin berubah kasar, mencambuk wajah. Saat itulah langit mendadak menggelap. Awan tebal bergulung cepat terlalu cepat.
“Raka, awan naik!” teriak Sekar.
Belum sempat mereka berlindung, hujan turun deras disertai angin kencang. Jalur menjadi licin. Sekar terpeleset. “Sekar!” Raka refleks menarik tangannya. Namun tanah rapuh runtuh. Sekar tergelincir beberapa meter ke bawah, tubuhnya terbentur akar pohon. Raka menuruni jalur dengan tergesa, jantungnya berdentum lebih keras dari guntur.
“Jangan tidur! Lihat aku!” suara Raka bergetar.
Sekar meringis, kakinya berdarah. “Aku… nggak apa-apa,” katanya berusaha tegar, meski napasnya berat. Raka mengeluarkan P3K, tangannya gemetar saat membalut luka. Hujan belum reda. Mereka terjebak.
“Aku salah,” bisik Sekar. “Harusnya kita berhenti tadi.”
Raka menggeleng keras. “Tidak. Gunung tidak pernah salah. Kita hanya harus lebih jujur pada diri sendiri.”
Ia menatap Sekar basah, terluka, namun tetap berusaha tersenyum. Saat itulah Raka sadar, ia lebih takut kehilangan Sekar daripada gagal mencapai puncak. Malam datang tanpa permisi. Mereka berteduh di balik batu besar, berbagi jaket dan sisa makanan. Angin menderu seperti raungan gunung yang marah.
“Raka,” kata Sekar lirih, “kalau kita selamat… aku ingin jujur.”
Raka menahan napas. “Aku juga.”
“Manusia selalu bertemu manusia, tapi langkah tidak selalu harus sejalan. Dan itu tak apa”(HairudMh)
Alas Lali Jiwo
Malam datang tanpa permisi. Suhu turun drastis. Mereka mencari tempat yang agak terlindung dan akhirnya berhenti di balik batu besar, cukup untuk memotong arah angin. Raka mengeluarkan flysheet darurat dari tas dan membentangkannya seadanya, diikat ke batu dengan tali.
Sekar duduk bersandar, napasnya masih teratur meski wajahnya pucat.
“Kaki kiri aku nyeri, tapi masih bisa digerakkan,” katanya, jujur.
Raka mengangguk. Ia memeriksa pergelangan Sekar dengan senter kepala. Tidak ada tulang menonjol, hanya memar dan lecet. Ia membersihkan luka dengan air minum, lalu membalutnya rapat. “Kita nggak lanjut malam ini,” kata Raka. “Besok turun pelan-pelan.”
Sekar mengangguk tanpa membantah. “Iya. Aku juga mikir gitu.”
Mereka duduk berdampingan, berbagi jaket tebal. Raka memastikan Sekar tetap hangat—memberinya minum hangat dari termos kecil yang masih tersisa. Angin masih kencang, tapi setidaknya tidak langsung menghantam mereka.
Beberapa saat tak ada yang bicara. Hanya suara angin dan kain flysheet yang bergetar.
“Rak,” kata Sekar pelan, “makasih.”
Raka menoleh. “Karena?”
“Karena kamu berhenti.”
Raka menarik napas panjang. “Gunung ngajarin aku, berhenti itu juga keputusan.”
Sekar menyandarkan kepalanya sebentar, lalu duduk lagi.
“Kita gagal puncak.”
“Iya,” jawab Raka. “Tapi kita masih aman.”
Malam itu mereka tidur bergantian, saling membangunkan setiap satu jam untuk memastikan tidak kedinginan berlebihan. Tidak ada pengakuan besar, tidak ada janji. Hanya keputusan sederhana: bertahan sampai pagi, lalu turun.
Dan di gunung, keputusan seperti itu sering kali adalah bentuk keberanian paling nyata……
“Di punggung Arjuno dan Welirang, angin mengajariku bahwa ketinggian bukan untuk ditaklukkan, tapi untuk dirasakan.” (HairudMh)
Penunjuk Jalan
Pagi datang pelan. Kabut masih menggantung rendah, tapi hujan sudah berhenti. Raka bangun lebih dulu, mengecek sekitar. Jalur yang semalam mereka lewati tampak samar tertutup daun basah dan lumpur.
Saat mereka bersiap berkemas, suara kepakan tiba-tiba terdengar dari arah semak. Seekor burung berukuran sedang melonjak keluar, terkejut oleh gerakan mereka. Bulu sayapnya memercikkan sisa embun. Burung itu terbang rendah, lalu hinggap beberapa meter di depan, di atas dahan yang mengarah ke jalur lebih terbuka.
Sekar menoleh. “Itu… jalur?”
Raka menyipitkan mata. Ia memperhatikan kontur tanah. Di balik semak yang selama ini mereka anggap rapat, ternyata ada bekas pijakan samar jejak sepatu, ranting patah, dan tanah yang lebih padat.
“Mungkin jalur lama,” kata Raka. “Atau jalur orang nyasar.” Burung itu terbang lagi, masih rendah, mengikuti garis lereng yang lebih landai. Tanpa disengaja, arah terbangnya sejalan dengan jalur yang terlihat paling aman. Mereka saling pandang sebentar. Tidak ada keyakinan berlebihan, hanya logika: jalur itu lebih jelas dan tidak curam.
Raka memutuskan. “Kita ikuti, tapi pelan.” Langkah demi langkah, mereka bergerak. Jalur itu ternyata memutar sedikit ke kanan, menjauh dari lereng terjal. Tanahnya lebih stabil. Beberapa menit kemudian, bau belerang tipis mulai tercium tanda mereka mendekati area yang lebih terbuka.
Perjalanan Terakhir
Di hadapan mereka terbentang sebuah spot lapang di lereng tanah datar dengan pemandangan terbuka ke arah lembah. Dari sana, siluet Welirang terlihat jelas, mengepul pelan di kejauhan. Angin berhembus tenang, berbeda jauh dari malam sebelumnya.
Sekar berhenti. “Aku nggak nyangka… ada tempat kayak gini.”
Raka mengangguk. “Ini spot aman buat istirahat. Mungkin jalur evakuasi lama.”
Belum sempat mereka duduk, terdengar suara logam beradu. Lalu suara orang. “Eh… ada orang?” Dua pendaki muncul dari balik batu, membawa nesting dan senter kepala. Wajah mereka terkejut, lalu lega.
“Kalian bermalam di atas?” tanya salah satunya.
“Iya,” jawab Raka. “Kaki teman saya cedera ringan.” Pendaki itu mengangguk cepat. “Kami bermalam di sini sejak semalam. Jalur depan masih bisa dilewati turun, tapi harus muter. Sinyal ada dikit kalau naik ke batu sana.” Sekar menghela napas panjang bukan karena lelah, tapi lega.
Untuk pertama kalinya sejak badai, mereka tidak sendirian. Mereka duduk bersama, berbagi air hangat dan cerita singkat. Tidak ada heroisme, tidak ada keajaiban. Hanya kebetulan, keputusan yang tepat, dan sedikit keberuntungan.
Raka menatap Sekar. “Kita hampir nggak sampai sini.”
Sekar tersenyum tipis. “Tapi kita sampai.” Dan di gunung, sampai ke tempat aman sering kali jauh lebih penting daripada sampai ke puncak.
Keesokan paginya, badai mereda. Kabut menipis, menyisakan jalur yang masih licin namun bisa dilalui. Dengan bantuan tongkat dan tali, mereka bergerak perlahan. Setiap langkah adalah pertaruhan. Saat akhirnya mereka mencapai punggungan, pemandangan terbuka luas. Arjuno berdiri gagah di hadapan mereka, sementara Welirang mengepul lembut di kejauhan—dua gunung yang tampak berhadapan, seolah sedang berbincang dalam bahasa yang hanya alam pahami.
Sekar berhenti. “Indah, ya.” Raka mengangguk. Ia menatap Sekar, lalu berkata dengan suara mantap, “Aku mencintaimu. Bukan karena kita sampai di sini, tapi karena aku ingin selalu pulang bersamamu dari gunung mana pun.”
Sekar tersenyum, matanya berkaca-kaca. “Aku juga. Cinta itu bukan tentang puncak, tapi tentang bertahan saat jalur runtuh.” Angin berembus pelan, seolah Arjuno dan Welirang mengangguk setuju. Dua gunung yang tak pernah menyatu, namun selalu berdampingan—seperti dua hati yang memilih berjalan bersama, meski tak selalu mudah.
Mereka turun dengan langkah lebih ringan. Di belakang mereka, gunung tetap berdiri, menyimpan cerita. Dan cinta, seperti alam, akan selalu menemukan jalannya—melalui badai, luka, dan keberanian untuk jujur.
“Manusia memang begitu ada yang menipu dengan cover nya ada juga yang mengejutkan kita dengan dengan isinya. Kadang keindahan tak selalu ada di puncak atau langit malam, tapi di setiap langkah yang kita jalani. Terima kasih, Gunung Arjuno–Welirang (HairudMh)”
Tentang Penulis:
Moh. Hairud Tijani adalah seorang akademisi, penulis, dan peneliti yang aktif menulis tentang isu sosial, budaya, dan sejarah, serta baru saja menyelesaikan studi Sarjana Sosial di Prodi Pengembangan Masyarakat Islam, Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Akun Medsos: IG @hairudtjnn_
Editor : Arief
