CERPEN oleh: Sahari Nor Wakhid*
Di tengah kemilau senja yang menjingga, Masjid Al-Hikmah tampak anggun dan megah. Sinarnya yang lembut memeluk permukaan air kolam wudu, menciptakan bayang-bayang yang menari di atasnya. Waktu asar telah tiba, memanggil para jamaah untuk sujud kepada-Nya.
****
Di teras masjid, terdapat sekumpulan pemuda yang sedang bersiap untuk mengambil wudu. Di antara mereka, ada seorang pemuda bernama Malik, yang sering menjadi pusat perhatian karena keinginannya yang tak kenal lelah untuk mencari ilmu. Setiap kali ia berbicara, teman-temannya selalu mendengarkan dengan penuh antusiasme.
“Apa kau tahu, Malik? Setiap kali kita mengambil wudu, sebenarnya kita tidak hanya menyucikan diri, tetapi juga membuka pintu bagi ilmu pengetahuan untuk meresap ke dalam diri kita,” ujar Hasan, sahabat karibnya.
“Maksudmu bagaimana, San?” Malik menatapnya dengan penuh minat.
Hasan tersenyum, mengambil air wudu dan membasuh wajahnya. Lalu, ia berkata,
“Bayangkan air wudu ini seperti tetes ilmu. Setiap tetes yang kita basuhkan ke tubuh kita, seperti setiap tetes pengetahuan yang kita serap. Namun, tetes demi tetes takkan cukup jika hanya berasal dari satu sumber.”
“Aku semakin tak mengerti. Apa maksudmu dengan satu sumber?” tanya Malik, matanya berkilat dengan rasa ingin tahu.
“Bekas air wudu satu orang tidak akan mampu menyucikan diri kita. Sama seperti pengetahuan, kita tak bisa hanya bergantung pada satu sumber. Kita harus mencari dari berbagai sumber agar bisa benar-benar memahami,” ucap Hasan seraya menatap bayangannya di permukaan air.
“Ah, sudahlah. Nanti kita bahas lagi setelah salat,” balas Malik menyudahi pembicaraan.
Percakapan mereka terhenti sejenak ketika azan asar berkumandang. Suara muazin yang merdu menggema, memanggil setiap hati untuk kembali pada Yang Maha Kuasa. Para jamaah segera bersiap, berbaris rapi di saf-saf yang telah disediakan. Malik dan Hasan berdiri berdampingan, siap menunaikan salat asar.
Selepas salat, Malik mendekati Ustaz Arif, seorang ulama yang dihormati di masjid tersebut. Pikiran Malik masih dipenuhi teka-teki dari jawaban Hasan sebelum melaksanakan salat.
“Ustaz, bolehkah saya bertanya sesuatu?” tanya Malik dengan hormat.
“Tentu, Malik. Apa yang ingin kau tanyakan?” Ustaz Arif tersenyum ramah, menunjukkan pribadinya yang penuh kebijaksanaan.
“Saya ingin tahu lebih banyak tentang konsep wudu sebagai simbol penerimaan ilmu pengetahuan. Apakah benar bahwa kita harus mengumpulkan ilmu dari berbagai sumber untuk benar-benar memahaminya?”
Ustaz Arif mengelus janggutnya sejenak, merenungkan pertanyaan Malik. Dalam benaknya, muncul kekaguman terhadap pemuda yang haus akan ilmu ini.
“Benar sekali, Malik. Air wudu adalah simbol penyucian diri, tetapi juga bisa kita analogikan sebagai simbol pengumpulan pengetahuan. Ketika kita membasuh diri, kita sedang mempersiapkan diri untuk menerima ilmu dengan hati dan pikiran yang bersih.”
Malik mengangguk, merasa puas dengan penjelasan itu. Namun, tiba-tiba dari arah lain, seorang pemuda bernama Farid, yang sering berbeda pandangan dengan Malik, menghampiri mereka.
“Aku tidak setuju. Mengapa kita harus mencari ilmu dari banyak sumber jika satu sumber sudah cukup memberikan kita kebenaran?” kata Farid tegas.
Malik tersentak mendengar pernyataan itu, tetapi Ustaz Arif tetap tenang.
“Farid, dalam pencarian ilmu, satu sumber mungkin memberikan kebenaran, tetapi bagaimana kita bisa yakin bahwa itu satu-satunya kebenaran tanpa membandingkannya dengan sumber lain?”
“Tapi Ustaz, bukankah terlalu banyak sumber bisa membingungkan kita?” tanya Farid lagi seraya menatap dengan kerutan di dahi.
“Benar, Farid. Terlalu banyak sumber bisa membingungkan jika kita tidak memiliki dasar yang kuat. Namun, dengan dasar yang kuat, kita bisa menyaring dan memahami setiap informasi yang kita terima. Seperti air yang mengalir, jika kita memiliki penampung yang baik, kita bisa menyimpan air yang jernih dan membuang yang keruh.”
Malik menatap Farid, berharap pemuda itu mengerti maksud Ustaz.
“Kita harus terbuka terhadap berbagai perspektif, Farid. Hanya dengan begitu kita bisa benar-benar memahami kebenaran,” tambah Malik.
“Aku mengerti maksud kalian, tapi aku masih merasa sulit untuk menerima. Bagaimana jika kita tersesat di jalan yang salah karena terlalu banyak mendengar pendapat yang berbeda?” tanya Farid yang masih dipenuhi keraguan.
“Kekhawatiranmu valid, Farid. Namun, di sinilah pentingnya memiliki guru dan panduan. Seperti kita berwudu di tempat yang bersih dan terjaga, begitu pula dengan pengetahuan. Kita harus memastikan sumber-sumber kita juga bersih dan terpercaya.”
Percakapan itu terhenti sejenak. Cahaya senja kian meredup dan berganti petang yang semakin menutupi masjid dengan keheningan yang damai. Malik merasakan ada sesuatu yang mendalam dari percakapan ini, sesuatu yang lebih dari sekadar mencari ilmu. Ini tentang bagaimana menyucikan hati dan pikiran untuk menerima kebenaran, dari mana pun asalnya.
Mereka berdiri dalam keheningan, merenungkan makna dari setiap kata yang telah diucapkan. Farid mengangguk pelan, tanda bahwa ia mulai memahami dan menerima pentingnya keterbukaan dalam mencari ilmu.
Tiba-tiba, seorang pria tua yang duduk di sudut masjid, mengangkat tangannya.
“Izinkan aku berbicara,” katanya dengan suara bergetar namun penuh wibawa.
“Silakan, Pak!” balas Ustaz Arif.
“Aku telah melalui banyak hal dalam hidupku. Satu hal yang aku pelajari adalah bahwa pengetahuan itu seperti air hujan. Kita perlu wadah yang bersih untuk menampungnya. Jika wadah kita kotor, sebersih apa pun air hujan, ia akan tetap menjadi kotor.”
Semua mata tertuju pada pria tua itu, mendengarkan dengan penuh perhatian. Ia melanjutkan, “Ingatlah! Air hujan turun dari langit, mengalir ke sungai, danau, dan laut. Kita tidak bisa menampung semuanya dalam satu ember. Kita butuh banyak wadah dan tempat yang berbeda untuk menyimpannya.”
Kata-kata pria tua itu seperti menyentuh setiap hati yang hadir. Malik merasa ada kebijaksanaan yang mendalam dalam analogi tersebut. “Terima kasih, Pak Tua. Kata-kata Anda sangat berarti,” kata Malik dengan penuh rasa hormat.
“Kita semua belajar, anak muda. Teruslah mencari ilmu dan menyucikan diri. Jangan takut untuk menerima dari banyak sumber, tetapi pastikan wadahmu selalu bersih. Keharusan untuk berwudu atau bersuci semestinya kita lakukan. Sebagaimana sumber ilmu harus selalu kita sucikan, terlepas datangnya dari mana dan kapan saja,” tambah Pak Tua sambil tersenyum.
Malam itu, di bawah langit yang bertabur bintang, Malik, Hasan, Farid, dan semua jamaah yang hadir di Masjid Al-Hikmah merasakan kedamaian yang mendalam. Mereka menyadari bahwa pencarian ilmu adalah perjalanan yang tak pernah usai. Setiap tetes pengetahuan yang mereka terima harus disaring dengan hati yang bersih dan pikiran yang jernih.
Di tengah keheningan malam, gema perdebatan mereka menghilang, digantikan oleh suara lembut angin yang membawa pesan bahwa dalam setiap tetes air wudu, tersimpan makna mendalam tentang kesucian dan pengetahuan. Azan magrib pun berkumandang. Semua jamaah melaksanakan salat dengan khusyuk. (*)
*) Sahari Nor Wakhid, Guru SMP Negeri 5 Sangatta Utara, Kutai Timur. Mulai menekuni dunia kepenulisan sejak tahun 2020. Telah menerbitkan 9 buku solo dan 36 antologi bersama. Buku paling mutakhirnya adalah Perempuan yang Menuju Dermaga (Novel 2025). Bisa dikontak melalui IG @saharienwe
Editor : Arief