Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Kawan Takut Kawin

admin • Sabtu, 28 Maret 2026 | 22:58 WIB

Photo
Photo

             CERPEN oleh: Muhamad Yusuf
             Guru Bahasa Indonesia di SMA Negeri I Banjarmasin 

Kawan Setiawan lelaki cukup tampan. Ia bersih, rapi, dan memiliki senyum yang membuat orang merasa nyaman. Murid-muridnya menyukai caranya mengajar. Ia mampu menjelaskan teori ekonomi dengan contoh sederhana yang dekat dengan kehidupan sehari hari. Ia sering berkata bahwa hidup adalah tentang keseimbangan antara kebutuhan dan kemampuan, antara keinginan dan kenyataan. Ironisnya, ia sendiri tidak pernah benar-benar mampu menyeimbangkan hal itu dalam hidupnya.

Ia seorang guru ekonomi di sebuah sekolah menengah atas negeri. Statusnya P3K, pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja, sebuah status yang sering ia anggap seperti cinta yang tidak pernah benar benar memiliki masa depan pasti. Usianya tiga puluh empat tahun, angka yang bagi sebagian orang sudah cukup untuk memikirkan rumah tangga, anak, dan masa tua yang tenang. Namun bagi Kawan, angka itu justru seperti cermin yang memantulkan kegagalan demi kegagalan.

Ia pernah jatuh cinta. Bahkan berkali kali. Namun semua kisah itu seperti grafik ekonomi yang selalu turun di ujung cerita. Tidak pernah benar benar mencapai titik keseimbangan.

Cinta pertamanya terjadi saat ia masih menjadi mahasiswa. Gadis itu sederhana dan penuh mimpi. Mereka pernah berjanji untuk saling menunggu sampai memiliki pekerjaan tetap. Namun ketika Kawan lulus dan masih berjuang mencari pekerjaan, gadis itu memilih menikah dengan pria lain yang sudah mapan. Kawan tidak menyalahkan siapa-siapa. Ia hanya menyimpan rasa kecewa yang perlahan mengendap seperti sedimen dalam air keruh.

Cinta kedua datang ketika ia sudah menjadi guru honorer. Mereka saling menguatkan dalam keterbatasan. Namun hubungan itu retak ketika keluarga si perempuan mulai mempertanyakan masa depan. Status honorer dianggap tidak cukup menjamin. Lagi-lagi Kawan kehilangan.

Cinta ketiga terasa berbeda. Perempuan itu bernama Rania. Ia bekerja di sebuah toko pakaian. Tidak terlalu tinggi pendidikannya, tetapi hangat dan penuh perhatian. Bersama Rania, Kawan merasa menemukan rumah yang selama ini ia cari. Mereka berbicara tentang masa depan dengan lebih serius. Tentang rumah kecil, tentang hidup sederhana, tentang kebahagiaan yang tidak harus mewah.

Namun hidup tidak pernah sesederhana rencana. Ketika pembicaraan tentang pernikahan mulai mengemuka, keluarga Rania mengajukan syarat yang membuat dada Kawan terasa sempit. Uang jujuran yang diminta tidak sedikit. Angka itu melampaui tabungan yang selama ini ia kumpulkan dengan susah payah. Bahkan jika ia menabung selama bertahun tahun lagi, ia tidak yakin bisa mencapainya dalam waktu dekat.

Ia mencoba tersenyum ketika mendengar angka itu. Ia mencoba tetap tenang, seolah semua masih bisa diusahakan. Namun di dalam dirinya, harapannya runtuh perlahan.

Malam-malamnya berubah menjadi panjang dan penuh gelisah. Ia duduk di kamar kecilnya, memandangi catatan keuangan yang ia tulis dengan rapi. Gajinya sebagai guru P3K cukup untuk hidup, tetapi tidak untuk memenuhi tuntutan yang tiba-tiba datang sebesar itu.

Ia mencoba meminjam ke bank, tetapi perhitungannya membuatnya semakin takut. Ia tidak ingin hidupnya nanti dipenuhi cicilan yang mencekik. Ia tidak ingin menikah hanya untuk kemudian terjebak dalam kesulitan yang lebih besar.

Ia mencoba berbicara dengan Rania.

“Apa bisa disederhanakan?” tanyanya dengan suara pelan.

Rania terdiam cukup lama sebelum menjawab. “Aku juga ingin sederhana. Tapi ini bukan hanya tentang aku. Ini tentang keluarga.”

Kata keluarga selalu menjadi tembok yang sulit ditembus. Kawan mengangguk. Ia memahami. Ia selalu berusaha memahami. Namun pemahaman tidak selalu mampu menghapus rasa sakit.

Hari hari berikutnya terasa berat. Setiap kali mereka bertemu, pembicaraan selalu berujung pada hal yang sama. Uang jujuran. Persiapan pernikahan. Harapan keluarga. Di tengah semua itu, Kawan merasa seperti orang yang semakin kecil.

Ia mulai merasa tidak cukup. Tidak cukup sebagai lelaki. Tidak cukup sebagai calon suami. Tidak cukup sebagai manusia.

Rania mulai berubah. Ia tidak lagi sehangat dulu. Mungkin lelah. Mungkin kecewa. Mungkin takut. Kawan tidak pernah benar benar tahu. Kini, ia measa, jarak di antara mereka semakin lebar.

“Aku ingin kepastian,” kata Rania suatu ketika.

Kepastian adalah sesuatu yang tidak bisa ia berikan saat itu.

“Aku sedang berusaha,” jawab Kawan.

“Semua orang juga berusaha,” balas Rania pelan, tetapi cukup untuk menusuk.

Percakapan itu menjadi salah satu titik yang tidak bisa kembali. Setelah itu, hubungan mereka seperti berjalan di atas garis retak yang siap pecah kapan saja.

Kawan mulai menghindari teman-teman. Ia tidak ingin ditanya kapan menikah. Ia tidak ingin mendengar candaan yang sebenarnya terasa seperti tekanan. Ia lebih banyak menghabiskan waktu di sekolah, tenggelam dalam pekerjaan, atau duduk sendiri di kamar tanpa tujuan.

Ia mulai mempertanyakan banyak hal. Tentang dirinya. Tentang hidup. Tentang arti kebahagiaan.

Sebagai guru ekonomi, ia mengajarkan tentang konsep permintaan dan penawaran. Tentang harga yang terbentuk dari interaksi keduanya. Namun dalam hidupnya, ia merasa seperti barang yang tidak pernah menemukan harga yang sesuai. Terlalu mahal bagi dirinya sendiri, terlalu murah bagi orang lain.

Ia sering memandangi cermin dan bertanya dalam hati, apa yang kurang dari dirinya.

Suatu malam, Rania datang dengan wajah yang tidak seperti biasanya. Tidak ada senyum, tidak ada kehangatan. Hanya ada kelelahan yang sulit dijelaskan.

“Aku tidak bisa menunggu terlalu lama,” katanya tanpa basa-basi.

Kawan menatapnya. Ia ingin mengatakan banyak hal. Tentang usahanya. Tentang perjuangannya. Tentang rasa cintanya. Namun semua kata itu terasa sia-sia di hadapan kenyataan.

“Aku mengerti,” jawabnya akhirnya.

Rania menunduk. “Maaf.”

Kata maaf itu terdengar sederhana, tetapi membawa beban yang berat. Kawan mengangguk pelan. Ia tidak marah. Ia tidak ingin marah. Ia hanya merasa kosong.

Setelah itu, semuanya berakhir. Tidak ada tangisan yang meledak. Tidak ada pertengkaran besar. Hanya keheningan yang perlahan memisahkan mereka.

Kawan pulang ke rumah dengan langkah yang terasa lebih berat dari biasanya. Ia duduk di kursi kayu di sudut kamar. Lampu menyala redup. Suasana hening. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia membiarkan dirinya merasakan semuanya tanpa berusaha kuat.

Air matanya jatuh tanpa suara.

Ia tidak hanya kehilangan Rania. Ia merasa kehilangan harapan yang selama ini ia bangun perlahan. Ia merasa seperti kembali ke titik awal, atau mungkin lebih jauh ke belakang.

Hari hari berikutnya terasa seperti berjalan tanpa arah. Ia tetap mengajar, tetap tersenyum di depan murid muridnya, tetap menjelaskan tentang ekonomi dengan semangat yang sama. Namun di dalam dirinya, ada ruang yang kosong.

Ia mulai merasa takut. Takut untuk mencintai lagi. Takut untuk berharap lagi. Takut untuk menghadapi kenyataan yang sama.

Teman-temannya mulai menyadari perubahan itu. “Kawan, kau kenapa?” tanya salah satu rekan guru. Kawan hanya tersenyum. Ia tidak ingin menjelaskan. Ia tidak ingin membuka luka yang belum sembuh.

Di sela sela kesibukan mengajar, pikirannya sering melayang. Ia teringat percakapan dengan Rania. Teringat angka uang jujuran itu. Teringat bagaimana ia merasa tidak berdaya.

Ia mulai berpikir bahwa mungkin pernikahan bukan untuknya. Pikiran itu awalnya datang seperti bisikan kecil. Namun lama-lama menjadi semakin kuat. Ia mulai meyakini bahwa ia tidak siap, tidak mampu, tidak layak.

Kawan Setiawan, seorang guru ekonomi, yang seharusnya memahami logika kehidupan, justru terjebak dalam ketakutan yang sulit dijelaskan. Ia takut kawin. Bukan karena ia tidak ingin bahagia. Bukan karena ia tidak percaya pada cinta. Tetapi karena ia takut tidak mampu memenuhi harapan yang datang bersama pernikahan.

Ia takut menjadi lelaki yang gagal.

Suatu sore, setelah mengajar, ia duduk di bangku panjang di halaman sekolah. Angin berhembus pelan. Murid murid sudah pulang. Suasana sepi.

Ia memandangi langit yang mulai berubah warna. Dalam diam, ia berbicara dengan dirinya sendiri. Apa hidup harus selalu diukur dengan angka? Apa cinta harus selalu dibayar dengan harga? Apa kebahagiaan hanya milik mereka yang mampu?

Pertanyaan-pertanyaan itu tidak memiliki jawaban pasti. Namun setidaknya, ia mulai berani menghadapinya.

Ia menyadari bahwa selama ini ia terlalu keras pada dirinya sendiri. Ia terlalu sering menyalahkan keadaan, tanpa benar-benar menerima bahwa hidup memang tidak selalu adil. Ia menarik napas panjang.

Mungkin ia belum siap. Mungkin ia memang belum menemukan jalan yang tepat. Atau mungkin, ia hanya perlu waktu untuk menyembuhkan diri. Kawan bangkit dari duduknya. Langkahnya masih terasa berat, tetapi tidak lagi seputus sebelumnya.

Ia tahu, luka itu tidak akan hilang dalam waktu singkat. Namun ia juga tahu, ia tidak bisa terus menerus bersembunyi di balik ketakutan. Ia masih seorang guru. Ia masih memiliki tanggung jawab. Ia masih memiliki hidup yang harus dijalani. Mungkin, suatu hari nanti, ia akan kembali berani. Berani mencintai. Berani berharap, atau mungkin berani kawin Namun untuk saat ini, ia memilih berdamai dengan dirinya sendiri.

Tiba-tiba pesan dari teman lamanya masuk di WhatsApp, “Kapan kawin?” tulisnya diiringi emoji tertawa. Kawan hanya menatap layar ponselnya cukup lama, dadanya terasa sesak namun kali ini bukan seperti luka yang menganga, melainkan seperti bekas yang masih perih jika disentuh, lalu perlahan ia tersenyum tipis, mengetik balasan sederhana, “Nanti kalau aku sudah tidak takut lagi.”

Editor : Arief
#cerpen