Cerpen Oleh: Muhamad Yusuf
Hujan baru saja reda, ketika Siti menutup pintu rumah kayu kecilnya. Bau tanah basah masuk melalui celah jendela yang tak rapat. Dari sudut ruangan terdengar napas berat seorang lelaki yang berbaring di atas ranjang bambu.
Lelaki itu adalah Rahman, suaminya. Setahun lalu, Rahman masih berjalan tegap. Ia bekerja sebagai sopir angkutan. Setiap pagi berangkat membawa penumpang, dan setiap malam pulang dengan cerita jalanan yang panjang. Namun semuanya berubah sejak tubuhnya tiba-tiba kaku dan jatuh di depan rumah. Dokter menyebutnya stroke.
Sejak hari itu Rahman tidak lagi bisa berjalan. Tangan kanannya kaku, bicaranya tidak jelas, dan sebagian besar waktunya hanya terbaring memandang langit langit rumah. Siti menatapnya dari dapur kecil yang hanya diterangi lampu redup.
Di dalam hatinya ada perasaan yang tidak mudah dijelaskan. Luka. Bukan karena penyakit Rahman. Melainkan karena kenangan yang datang sebelum semua ini terjadi.
Beberapa tahun lalu, Siti pernah menemukan pesan di ponsel Rahman. Pesan dari seorang perempuan yang tidak ia kenal. Kata-katanya terlalu mesra untuk sekadar teman. Siti tidak pernah melupakan hari ketika Rahman akhirnya mengakui semuanya. Ia berselingkuh. Hari itu, hati Siti seperti dihantam batu besar. Dunia seakan runtuh. Ia pernah berpikir untuk pergi meninggalkan rumah itu. Namun dua anaknya membuat langkahnya berhenti.
Rafi yang waktu itu baru duduk di kelas lima SD, dan Laila yang masih kelas dua. Mereka masih terlalu kecil untuk memahami dunia yang retak. Sekarang, Rafi sudah duduk di bangku SMP, dan Laila kelas lima SD. Mereka tumbuh dalam rumah yang sempit, namun penuh perjuangan.
Siti mengambil baskom berisi air hangat dan berjalan menuju ranjang. Rahman memandangnya dengan mata yang samar. Siti mengangkat tangan suaminya yang kaku, lalu perlahan mengelapnya. Tidak ada kata yang keluar dari mulut Rahman. Hanya suara napas yang tersendat.
Kadang Siti ingin bertanya kepada dirinya sendiri. Mengapa aku masih di sini? Mengapa aku masih merawat lelaki yang pernah menghancurkan hatiku? Namun setiap kali pertanyaan itu muncul, ia melihat wajah anak anaknya. Dan jawabannya selalu sama. Karena keluarga tidak dibangun dari kesenangan semata. Setiap pagi, sebelum matahari muncul, Siti sudah bangun.
Ia menanak nasi. Lalu menyiapkan air minum untuk anak anaknya. Setelah itu, ia membantu Rahman duduk di tepi ranjang. Tubuh Rahman berat dan kaku. Siti harus menahan napas setiap kali mengangkatnya. Kadang punggungnya terasa seperti akan patah. Namun, ia tidak pernah mengeluh. Setelah semuanya selesai, ia berangkat ke pasar.
Siti bekerja apa saja yang bisa ia lakukan. Kadang membantu pedagang sayur. Kadang mencuci piring di warung makan. Kadang juga menerima jahitan kecil dari tetangga. Uangnya tidak banyak. Namun cukup untuk membeli beras, dan membayar uang sekolah anak-anaknya.
Suatu siang, ketika ia sedang mencuci piring di warung makan, dua perempuan yang duduk di bangku dekat dapur mulai berbisik. Suara mereka cukup keras untuk didengar.
“Kasihan Siti itu”. “Kasihan, kenapa?” “Suaminya dulu selingkuh. Sekarang stroke. Tapi dia masih saja merawatnya.”
“Kalau aku jadi dia sudah kutinggalkan lelaki seperti itu. Yang satunya tertawa kecil. “Benar. Buat apa setia pada lelaki yang tidak setia”.
Siti berhenti sejenak. Kata-kata itu seperti duri kecil yang menusuk hati. Namun ia tidak menoleh. Ia hanya menarik napas panjang. Lalu melanjutkan pekerjaannya. Di dalam hatinya ada suara yang berbisik pelan. Mereka tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi dalam hidupku.
Suatu malam listrik di kampung padam. Rumah rumah tenggelam dalam kegelapan. Siti duduk di lantai dengan lilin di depannya. Rafi sedang mengerjakan tugas sekolah. Sementara Laila membaca buku pelajaran. Suara jangkrik terdengar dari luar.
Tiba-tiba Rahman mengeluarkan suara pelan dari ranjang. Siti segera mendekat. “Apa yang kau inginkan?” Rahman mencoba menggerakkan bibirnya. “Maaf”. Hanya satu kata itu yang berhasil keluar. Siti terdiam.
Kata itu seperti membuka kembali luka lama yang selama ini ia tutup rapat. Ia ingat malam ketika Rahman pulang terlambat dengan bau parfum yang bukan miliknya. Ia ingat tangisan yang ia sembunyikan agar anak-anak tidak mendengar. Ia ingat rasa hancur yang tidak pernah benar-benar sembuh. Siti memejamkan mata sejenak. Lalu ia berkata pelan. “Tidurlah!”.
Rahman menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Siti mematikan lilin. Lalu kembali duduk di dekat anak-anaknya. Di dalam dadanya ada perang yang tidak terlihat. Sebagian hatinya masih marah. Sebagian lainnya merasa iba. Dan di antara keduanya ada sesuatu yang lebih kuat. Tanggung jawab.
Hari-hari terus berjalan. Suatu pagi Rafi pulang dari sekolah dengan wajah murung. Siti sedang menjahit ketika anak itu masuk rumah. “Ada apa?”
Rafi meletakkan tasnya dengan kasar. “Teman-teman bilang Ayah tidak berguna. Katanya Ayah hanya jadi beban”.
Kata-kata itu seperti batu yang dilemparkan ke dalam hati Siti. Ia melihat mata anaknya yang penuh amarah. Siti menarik napas panjang. “Ayahmu memang sakit. Tapi bukan berarti beliau tidak berharga”.
Rafi menunduk. “Aku ingin berhenti sekolah saja Bu. Biar aku bekerja membantu Ibu”.
Siti langsung menggeleng keras. “Tidak!”. Rafi terkejut melihat ketegasan ibunya. “Kamu harus tetap sekolah. Ibu akan bekerja lebih keras kalau perlu.” “Tapi Bu …”
“Dengar Ibu baik-baik. Sekolah adalah satu-satunya jalan agar hidup kalian tidak seperti ini kelak”.
Siti menahan air mata. Ia tidak ingin anak-anaknya tumbuh dengan nasib yang sama. Rafi akhirnya mengangguk pelan. Di sudut ruangan Rahman menatap mereka dengan mata yang basah.
Listrik menyala kembali. Hujan tak reda tapi setia turun dengan rintik yang lembut. Atap seng rumah kecil itu berbunyi pelan seperti irama yang berulang-ulang. Siti baru saja selesai merapikan dapur ketika ia melihat Rahman tertidur dengan napas yang berat. Tubuh suaminya tampak semakin kurus. Wajah yang dulu keras, kini terlihat rapuh. Siti memandangnya lama. Di dalam dadanya ada perasaan yang tidak mudah dijelaskan. Luka masa lalu masih ada, tetapi waktu perlahan mengubahnya menjadi sesuatu yang lebih tenang. Ia tidak lagi marah seperti dulu. Ia hanya merasa hidup telah membawa mereka ke jalan yang tidak pernah mereka bayangkan.
Rafi dan Laila sudah tertidur di tempat mereka belajar. Buku-buku pelajaran berserakan di depan mereka. Lampu redup di sudut ruangan menerangi wajah mereka yang polos. Siti duduk di dekat kedua anaknya. Ia memandang kedua anaknya bergantian. Siti tiba-tiba merasa waktu berjalan sangat cepat. Anak-anak yang dulu digendongnya, kini sudah mulai mengerti pahitnya hidup. Siti menarik napas panjang.
Beberapa hari kemudian cobaan lain datang. Warung tempat Siti biasa mencuci piring tiba-tiba tutup, karena pemiliknya pindah ke kota lain. Pagi itu, Siti pulang dengan langkah lebih lambat dari biasanya. Di tangannya tidak ada lagi ember plastik atau kain lap seperti hari-hari sebelumnya. Ia duduk lama di depan rumah sebelum akhirnya masuk. Di dalam kepalanya berputar pertanyaan yang sama: dari mana ia akan mendapatkan uang untuk minggu depan.
Kesulitan itu mulai terasa di rumah. Persediaan beras menipis, dan Siti harus menanak nasi dengan porsi lebih sedikit. Suatu malam Laila berkata pelan, “Bu, besok aku ada iuran sekolah”. Siti terdiam beberapa detik. Ia tersenyum tipis agar anaknya tidak melihat kegelisahan di matanya. “Nanti Ibu usahakan”. Namun setelah anak-anak tidur, Siti duduk lama di dapur sambil memandang dompetnya yang hampir kosong.
Di tengah kesulitan itu muncul seseorang dari masa lalu. Suatu sore seorang lelaki bernama Farid datang ke rumahnya. Ia adalah teman lama Rahman sebelum menikah. Farid sekarang bekerja di kota, dan kebetulan pulang ke kampung. Mereka berbincang sebentar di teras rumah. Farid memandang kondisi Rahman yang terbaring di dalam rumah dengan wajah iba. “Kalau kau butuh pekerjaan, aku bisa membantu,” katanya pelan. “Kau tidak harus menanggung semuanya sendirian”.
Kata-kata itu membuat hati Siti bergetar. Untuk sesaat, ia membayangkan hidup yang lebih ringan. Pekerjaan tetap, penghasilan yang cukup, mungkin juga kehidupan yang tidak lagi dipenuhi beban seperti sekarang. Namun ketika ia menoleh ke dalam rumah dan melihat Rahman terbaring lemah, bayangan itu perlahan memudar.
Konflik lain datang dari keluarganya sendiri. Beberapa hari kemudian, kakak Siti datang berkunjung. Setelah melihat keadaan rumah, kakaknya berkata dengan nada serius, “Kau terlalu memaksakan diri. Rahman sudah tidak bisa bekerja. Lebih baik kau pindah saja ke rumah orang tua, dan biarkan keluarga Rahman yang merawatnya”. Kata-kata itu membuat suasana rumah mendadak sunyi. Siti tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap lantai kayu yang mulai lapuk.
Malam itu, Siti tidak bisa tidur. Ia duduk di dekat ranjang Rahman sambil mendengar napas suaminya yang berat. Kata-kata kakaknya terus berputar di kepalanya. Mungkin hidupnya memang akan lebih mudah jika ia pergi. Namun setiap kali pikiran itu muncul, hatinya terasa seperti ditarik kembali ke tempatnya. Ia sadar bahwa luka yang ia bawa selama ini tidak pernah benar-benar hilang. Tetapi meninggalkan Rahman dalam keadaan seperti ini terasa seperti menambah luka baru.
Menjelang subuh Rahman tiba-tiba terbangun dan mengeluarkan suara lirih yang sulit dimengerti. Siti mendekat dan mencondongkan telinganya. Dengan napas yang terputus-putus Rahman berkata, “Kalau... kau ingin pergi... pergilah. Aku tidak pantas menahanmu”. Siti terdiam lama. Ia memandang wajah lelaki yang pernah melukai hatinya. Lalu perlahan merapikan selimut di tubuh suaminya. Tanpa berkata apa-apa, ia bangkit menuju dapur untuk menyiapkan sarapan pagi.
Di tengah kehidupan yang terasa berat itu, dua orang saudara Rahman datang dari kampung seberang sungai. Mereka datang menjelang siang, ketika Siti sedang menjemur pakaian di halaman. Pertama adalah Abidin, kakak tertua Rahman, dan yang kedua adiknya, Jamal. Wajah mereka terlihat serius. Setelah duduk di ruang tamu yang sempit, Abidin memandang Rahman yang terbaring lemah, lalu berkata pelan namun tegas, “Kami datang bukan hanya untuk menjengukmu. Kami ingin membicarakan rumah ini. Tanahnya masih atas nama orang tua kita. Kalau kau sudah seperti ini, mungkin lebih baik rumah ini dijual saja untuk biaya perawatanmu”.
Kata-kata itu membuat dada Siti terasa seperti dipukul. Rumah kayu kecil itu memang sederhana, tetapi di situlah ia membesarkan anak-anaknya dan merawat Rahman setiap hari. Rafi yang mendengar pembicaraan itu dari pintu kamar langsung berdiri dengan wajah tegang. “Kalau rumah ini dijual, kami harus tinggal di mana?” tanyanya dengan suara bergetar. Abidin tidak segera menjawab. Ia hanya saling pandang dengan Jamal, seolah persoalan itu hanyalah urusan angka dan tanah, bukan tentang sebuah keluarga yang selama ini berjuang bertahan di dalamnya. Setelah terdiam sesaat, Siti berkata, “Rumah ini memang berdiri di atas tanah keluarga kalian, tetapi bertahun-tahun ia juga berdiri di atas kesabaran dan usaha kami. Di rumah kecil inilah Rahman dulu bekerja keras, berangkat pagi pulang malam demi anak-anaknya, dan sekarang ketika tubuhnya tak lagi kuat, rasanya tidak adil jika kita hanya melihatnya sebagai beban, atau rumah ini sekadar tanah yang bisa dijual”
*****
Tentang Penulis:
Muhamad Yusuf, Cerpenis sekaligus Guru Bahasa Indonesia di SMAN 1 Banjarmasin
Editor : Arief