Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Safarudin Takut Bermimpi

admin • Sabtu, 7 Maret 2026 | 21:32 WIB

Photo
Photo

       CERPEN oleh:  De Eka Putrakha*

 ****

            “Safar,Safar! Apa kau ada di rumah?”

            Teriakan dari luar tidak begitu dipedulikannya. Hal ini sudah acap kali mengganggu, terlebih dirinya tengah suntuk memikirkan pekerjaan yang belum kunjung didapatkan.

            Pemuda itu paham betul bahwa ibunya tidak begitu menuntutnya agar segera mencari pekerjaan. Hanya saja dirinya harus senantiasa rajin membantu orang tua satu-satunya itu menggarap sawah. Bukan sawah milik sendiri melainkan sawah orang yang dipercayakan dengan sistem bagi hasil.

            “Mak yakin kau akan sukses di kemudian hari. Tidak ada yang salah dengan kehidupan kita seperti ini selama kau masih punya keinginan untuk mengubah hidup lebih baik.”

            Petuah Amak terngiang kembali olehnya. Perempuan itu terbilang masih kuat tenaga dibandingkan yang sebaya dengannya. Dirinya meyakini bahwa menjalani rutinitas bertani sedikit banyak berdampak terhadap kesehatan emak yang sudah berumur itu.

            “Safaaar!”

            Kembali teriakan dari luar membuyarkan lamunannya. Rasa jengkel menariknya untuk segera membukakan pintu.

            “Ada apa Leman? Seperti kesetanan saja kau bertamu kemari!” hardiknya berang.

            “Maafkan saya, Far. Kau tahu kan Datuk Sumarak? Rumahnya kebakaran!”

            “Lalu apa hubungannya denganku? Maksudku tidak adakah orang-orang yang berdekatan membantu memadamkan api, sampai-sampai kau menjemputku ke sini?”

             “Bukan begitu, Far.” Jawab Leman terhenti kemudian mengambil tempat duduk di sisi tangga. Jidatnya tampak berkeringat, bisa jadi kawannya itu buru-buru menemuinya sambil berlari.

            “Kau ingat saat kita di lepau tempo hari? Ketika itu kau ceritakan tentang mimpimu bahwa ada rumah gonjong di muara sungai sana terbakar. Sekarang kejadian!” terang Leman panjang lebar.

            “Itu hanya mimpiku saja. Tak usahlah kau kait-kaitkan dengan kejadian itu,” sanggah Safar sekenanya saja.

            “Tapi, Far. Aneh saja rumahnya dekat sungai bisa kebakaran.”

            “Tidak ada yang aneh. Namanya takdir tiada yang tahu. Jadi bukan salahku juga.”

            “Bukan menyalahkanmu, Far. Ya, kenapa persis sama dengan mimpimu itu?’

            “Entahlah, Man. Aden mau ke sawah dulu, emak sudah lama menunggu.”

***

            “Far, apabila engkau punya keinginan untuk pergi merantau maka pergilah.”

            Pemuda tanggung itu tidak begitu menggubris apa yang baru saja diucapkan emaknya. Sesaat dirinya menatap kepada perempuan yang telah melahirkannya seperempat abad yang lalu itu.

            “Belum terpikirkan, Mak. Bermimpi pun tidak.” Jawab Safarudin sambil jemarinya mencabuti benih padi untuk kemudian ditanam.

            “Mulai sekarang pikirkanlah ...”

            Jujur dalam hatinya selalu membayangkan dirinya mencari pekerjaan yang jauh dari kampung halaman. Itu artinya dirinya harus merantau. Namun bagaimana dengan emak? Apakah akan ditinggalkan seorang diri?”

            “Bagi Amak tinggal sendirian pun tak jadi soal, asal kau sukses di negeri orang. Doakan saja Amak setiap saat agar kau dapat menemui emak ketika pulang dari rantau nanti.”

            Tiba-tiba Safarudin terkejut. Bukan lantaran jawaban emaknya yang terkesan sangat bijaksana itu, melainkan seakan-akan emaknya dapat membaca isi pikirannya.

            Lagi, ditatapnya lekat-lekat perempuan paruh baya yang ada di hadapannya. Senyuman tulus dilemparkan padanya, dirinya ikut tersenyum. Di sisi hatinya selalu berharap emaknya sehat selalu.

***

            Malam itu pikiran Safarudin tidak tenang. Kedua matanya tak kunjung mengantuk. Ada banyak hal yang bersarang dalam kepalanya. Memutuskan untuk pergi merantau atau segera menceritakan mimpinya kemarin malam. Ah tidak, tidak keduanya! Batinnya membantah. Belum waktunya, simpulnya kemudian meraih guling dan mendekapnya lebih erat.

“Sudah lama kau menunggu, Man?”

            “Ah tidak juga, sehabis rokok di tanganku.” Jawab Leman mengangkat badannya berdiri.

Pagi begitu cerah. Syukur dua hari berturut-turut dirinya dan emak dapat menyelesaikan empat petak sawah untuk ditanami. Jadi hari ini bisa bernapas lega untuk sesaat menghilangkan penat. Ajakan Leman pergi mengopi ke lepau disanggupinya.

“Ayo, kita berangkat!” jemarinya menepuk pundak sahabatnya itu. Walaupun badannya sedikit gempal berisi, namun fisiknya tidak kalah prima. Berlari jauh pun sanggup, kuat mengopi pula. Decak Safarudin sesaat.

Suasana di lepau begitu ramai. Seakan tempat mengopi itu berubah menjadi pusat informasi tentang apa saja. Mulai dari soal kebijakan pemerintah sampai perihal isi dapur orang.

Safarudin memesan segelas kopi susu kesukaannya, meskipun Leman kerap melemparkan pendapatnya bahwa kopi hitam dengan sedikit gula jauh lebih nimat. Ucapan itu selalu diiringi kepulan asap rokok hingga memenuhi langit-langit lepau Mak Tuah yang tidak seberapa besar itu.

Baru beberapa sesapan kopi susu yang masih menyisakan uap, telinga Safarudin menangkap bunyi gemuruh dari kejauhan. Pertanda hujankah? Namun cuaca cukup cerah. Lambat laun ditajamkannya indra pendengarannya. Bunyi gemuruh tersebut terasa aneh. Sayup-sayup terdengar teriakan orang-orang.

“Galodo! Galodo! Air besar dari atas bukit!”

Sontak seisi lepau berhamburan keluar. Safarudin menyaksikan di depan mata kepalanya gulungan hitam bercampur air dan segala yang terbawa menghantamnya dengan keras.

            “Aaahhh!”

            Safarudin terbangun dari tidurnya. Mimpinya kali ini seakan nyata. Napasnya masih terengah-engah seiring terdengar suara azan subuh dari surau di tepian danau.

***

            “Kulihat kau jarang bercerita lagi, Far,” ucap Leman sesaat setelah Mak Tuah menghidangkan minuman yang mereka pesan. Tanpa menjawab Safarudin meraih kopi susu yang dipesannya tadi.

            “Apa kau tidak pernah bermimpi lagi?” tanya sahabatnya itu menelisik.

            “Aku takut bermimpi.”

            Jawab Safarudin singkat sambil meniup uap di permukaan gelas yang dipegangnya. Leman tampak masih menunggu jawaban yang menggantung itu. Ditambah dengan sikap Safarudin yang terlihat gusar.

            “Kau takut menceritakannya.” Tuduh Leman.

            “Entahlah, Man.” Jawab Safarudin berlalu keluar. Matanya sibuk mengamati sekeliling. Tampak petakan sawah menghijau terbentang hingga kaki bukit. Sementara di sisi lain danau begitu tenang. Hanya sesekali riak kecil terlihat saat ada sampan yang berlalu.

            Dirinya menyimpan rapat mimpinya semalam agar tidak menimbulkan kegaduhan dalam kampung. Dicermatinya juga ucapan Leman bahwa setiap mimpi yang diceritakannya itu selalu nyata terjadi. Semoga mimpi buruk itu tidak terjadi, harapnya kemudian kembali masuk ke lepau melanjutkan mengopi.

            “Aku ingin merantau, Man.”

            Safarudin mengalihkan topik. Sejenak dua pemuda itu saling bersitatap. Apapun yang menjadi keinginan mereka akan saling mendukung.

            “Cobalah, Far. Agar pengalamanmu bertambah. Aku pernah dua tahun tidak berada di kampung. Itulah masa merantauku dulu, meskipun sebentar dan tidak begitu jauh.” Ucap Leman penuh keyakinan.

            Safarudin melayangkan senyum kepada sahabatnya itu. Sebetulnya itulah yang pernah dimimpikannya dulu, walaupun hanya sepotong kecil yang secara tidak langsung “diceritakannya” dalam percakapan biasa. Namun, ada kelanjutan mimpi itu yang terus terngiang dalam ingatannya.

***

            “Setelah panen padi nanti, Safar akan merantau, Mak”

            “Mak sudah yakin kau akan mengatakan hal itu pada Mak. Kejarlah mimpimu selagi masih muda.” Senyuman ketulusan dari Amak sedikit banyak mengurai kekusutan pikirannya.

            “Safar memang pernah memimpikan akan pergi merantau, dan ...”

            Sekarang Safarudin gusar untuk menceritakan kelanjutan mimpinya itu. Apa benar mimpi yang diceritakan akan menjadi kenyataan seperti yang diucapkan Leman padanya?

            “... dan apa?”

            “Dalam mimpi itu Safar dibawa jauh oleh kapal yang begitu besar, sampai akhirnya terdampar di seberang lautan”

            “Bagi Mak, tak apa kau berjalan jauh mencari peruntungan di negeri orang. asalkan kau masih ingat jalan pulang, ingat kampung juga ingan Amak. Terpenting ingat Tuhan selalu”

            “Tapi bagaimana dengan Amak?”

            “Usah kau risaukan, malah Amak bangga padamu. Itu sebabnya Mak namakan kau ‘Safarudin’ agar kelak kau bepergian ke tempat jauh meninggalkan kampung halaman. Pengalaman mesti kau cari, Nak. Sekarang jangan takut bermimpi lagi.”

            Kata-kata Amak terdengar begitu dalam baginya. Serupa pesan yang akan dibawanya selalu ketika melangkah. Namun akhir mimpinya naik kapal itu urung diceritakannya. Dirinya masih takut kalau-kalau kejadiannya menjadi nyata.

            Semakin disimpannya rapat-rapat mimpi itu, semakin membuatnya bertambah kalut. Seakan mimpi itu kian jelas, dirinya yakin benar mengingat jelas kejadian itu dengan runut tanpa lupa sedikitpun. Diingat-ingatnya ada beberapa mimpi yang sempat diceritakannya kepada siapapun. Lantas peristiwa  itupun terjadi, walaupun tidak begitu disadari oleh orang lain. Hingga Leman datang mengabari perihal kebakaran rumah yang sontak membuatnya yakin ada kesamaan dengan mimpi yang diceritakannya itu. Meskipun dirinya menyanggah berkali-kali.

***

            “Safar akan pergi merantau ya, Mak. Doakan Safar selalu ...”

            Tampak di halaman Leman sudah memarkirkan motornya untukmengantarkan Safar ke terminal. Kesempatan panggilan kerja kali ini harus disanggupinya meskipun jauh. Ini bukan hanya soal uang akan tetapi pengalaman.

            “... dan dalam mimpi itu terlihat kampung kita terdampak longsor. Jalan putus. Dari kejauhan terlihat Amak melambaikan tangan.” Ucap Safar spontan menceritakan akhir mimpinya. Sebab dirinya tidak takut bermimpi lagi. Semua diserahkan hanya kepada Sang Pencipta.

            Sesampainya di rantau. Berita longsor dan banjir bandang menghiasi laman pemberitaan. Termasuk kampung halamannya. Kabar yang diterimanya bahwa Amak tengah berada di pengungsian dan dalam keadaan baik-baik saja. Mungkin itu maksud lambaian tangan pada akhir mimpi itu. Safar berharap semua akan baik-baik saja sampai nanti dirinya akan kembali ke kampung halaman. (*)

 

Tentang Penulis:

DE EKA PUTRAKHA berasal dari Bukittinggi, Sumatera Barat. Tulisannya termuat dalam beberapa buku antologi bersama serta media cetak dan online (Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam dan Singapura). Profilnya pernah dimuat media sastra negeri jiran yaitu e-Jurnal DoeaJiwa Bil.11/2023. Sajak “Melangkah pada Pijakan Kaki” menjadi Juara Sayembara Nyala - Sastera Hijau 2024— Majalah KayuApi, Singapura. Buku terbarunya kumpulan puisi “Ketika Semua Orang Sengaja Melupakan Setelah Kucari Cara Agar Selalu Mengingat Mereka” (Penerbit Lumpur, Mei 2025). Dapat disapa melalui facebook De Eka Putrakha dan instagram @deekaputrakha.

Editor : Arief
#cerpen