BATULICIN - Tahulah pian, istilah wisa dan sangga bukan sekadar racun atau kekuatan mistis yang diyakini dapat mempengaruhi manusia.
Keduanya adalah cara lama masyarakat Kalimantan membaca penyakit, mengenali bahaya alam, dan memberi nama pada pengalaman yang belum memiliki bahasa ilmiah.
Dalam cerita lisan, wisa awalnya merupakan peringatan bahwa hutan, tanah, air, dan pohon tidak selalu aman.
Pengetahuan ini lahir dari pengalaman panjang hidup di lanskap tropis, jauh sebelum orang mengenal istilah medis modern.
Di wilayah pedalaman Banjar seperti Hulu Sungai, wisa dipahami sebagai sakit akibat “bisa alam” yang tak terlihat.
Orang yang masuk hutan, berteduh di bawah pohon tertentu, atau berinteraksi dengan lingkungan tertentu dipercaya bisa terkena wisa.
Gejalanya beragam, mulai dari tubuh melemah, sakit berkepanjangan, hingga menguning seperti penyakit hati.
Dalam bahasa sehari-hari, wisa menjadi tanda kewaspadaan ekologis. Ia mengingatkan bahwa alam menyimpan risiko yang tak selalu tampak.
Penjelasan mengenai wisa dan sangga ini terdapat dalam jurnal yang ditulis oleh Masrudi Muchtar dan Aulia Muthiah dari Universitas Achmad Yani Banjarmasin, yang terbit di Cangkal: Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora pada 2025.
Konsep ini berkaitan dengan pengalaman masyarakat menghadapi racun alami dan penyakit lingkungan.
Penelitian lain oleh Jay H. Bernster (2016) menemukan adanya tanaman sakang yang menghasilkan minyak beracun, sementara sangga dipahami sebagai penawarnya.
Temuan ini memberi gambaran bahwa apa yang disebut “racun gaib” berawal dari pengetahuan lokal tentang racun alami dan pengobatan herbal.
Seiring waktu, makna sangga berkembang. Dalam tradisi Banjar dan Dayak Meratus, sangga sering dikaitkan dengan penyakit kuning atau gangguan hati dan diobati melalui praktik tradisional seperti batimung.
Dari sudut pandang medis, gejala tersebut sebenarnya cukup dekat dengan malaria, infeksi parasit, atau gangguan hati. Risiko kesehatan ini memang tinggi di lingkungan hutan tropis.
Dalam arti tertentu, wisa dan sangga menjadi terjemahan budaya atas persoalan kesehatan yang belum memiliki bahasa ilmiah pada masanya.
Perubahan muncul ketika wisa tak lagi dipahami hanya sebagai penyakit alam, tetapi juga sebagai energi yang bisa dikirim.
Di sebagian kepercayaan, racun sangga berkembang menjadi narasi santet yang dipahami sebagai perlindungan, balas dendam, atau penegakan keadilan adat.
Gambaran wisa sebagai kekuatan mistis ini bisa dilihat dalam monolog berjudul Wisa karya Hadani Had.
Karya ini meraih juara pertama Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional tingkat SMA sederajat pada 2025.
Kisah ini mengikuti Basnari, pemuda Pegunungan Meratus yang dikenal berprestasi di kampungnya.
Saat ia merantau untuk melanjutkan pendidikan, keberhasilannya justru memantik iri dan dengki orang sekitar. Ia tiba-tiba mengalami sakit misterius.
Tubuhnya menggeliat kesakitan tiap malam. Sementara desas-desus di kampung menyebar bahwa ia terkena wisa.
Hingga akhirnya, Damang Udas, balian suci, harus mengorbankan nyawanya untuk menyelamatkan Basnari.
"Wisa itu tidak kasat mata. Tapi, kepercayaan dan doa lebih kuat dari sihir manapun," kata Gandewo Utomo, pemeran Basnari, mengambil hikmah dari monolognya.
Namun tafsir ini tentu tak seragam. Banyak masyarakat tetap melihat wisa sebagai pengetahuan lokal tentang bahaya lingkungan, bukan ilmu hitam.
Muhammad Noval, alumni Institut Agama Islam Darussalam Martapura, bercerita bahwa dia bersama teman-temannya pernah menjalani KKN di Desa Paramasan Bawah, Kecamatan Paramasan, Kabupaten Banjar pada 2022.
Saat pertama datang pada Ramadan tahun itu, mereka mendapat cerita tentang wisa dari tokoh masyarakat setempat.
Pendatang disebut tak dianjurkan tidur pagi setelah subuh karena bisa terkena wisa, yang dipercaya dapat menyebabkan sakit tiba-tiba.
Cerita tersebut merujuk pada pengalaman mahasiswa KKN sebelumnya.
Mengikuti peringatan tersebut, mereka pun tak tidur lagi setelah salat subuh selama beberapa saat.
“Itu bertahan sekitar tiga hari pertama. Setelah itu kami mulai tidur lagi,” ujarnya.
Editor : Arif Subekti