Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Monolog “Wisa” Juara Nasional Tampil di Satui Tanah Bumbu, Ingatkan Bahaya Iri dan Dengki⠀

Zulqarnain RB • Minggu, 15 Februari 2026 | 15:06 WIB
TEGANG: Gandewo Utomo membawakan monolog “Wisa” dalam Sarasehan Seniman dan Sastrawan Kalimantan Selatan di Satui, Tanah Bumbu. (Foto: Zulqarnain/Radar Banjarmasin)
TEGANG: Gandewo Utomo membawakan monolog “Wisa” dalam Sarasehan Seniman dan Sastrawan Kalimantan Selatan di Satui, Tanah Bumbu. (Foto: Zulqarnain/Radar Banjarmasin)

Dentingan gamelan makin cepat. Dalam sekejap, seorang pria menusukkan mandau ke perutnya sendiri.

ZULQARNAIN, Batulicin

Seorang pria duduk bersila di atas tikar. Tubuhnya diselimuti kain kuning yang menjuntai dari bahu, sementara dada dan lengannya dibiarkan terbuka dengan guratan kapur. Asap tipis mengepul dari wadah kecil di depannya.

Pria itu kemudian berlutut dengan satu kaki terangkat. Kedua tangannya mengangkat mandau ke atas kepala. Wajahnya menegang. Matanya terpejam. Mulutnya terbuka seperti menahan jerit.

Tubuhnya lalu berputar. Mandau diayunkan ke kanan, ditarik ke kiri, lalu disabetkan ke udara kosong. Putarannya makin liar. Dentingan gamelan semakin cepat. Napasnya terengah-engah. Anak-anak di sekitarnya menjauh ketakutan.

Tiba-tiba ia berhenti. Mandau dihadapkan ke perutnya. Bilah itu ditusukkan ke tubuhnya sendiri. Ia ambruk.

Pria itu lalu bangkit perlahan. Matanya melotot ke depan. Ia tertawa keras. Tangannya memukul-mukul tanah. Suaranya memekik seperti orang kesurupan.

“Wisa masih ada. Tak kasat mata. Bersembunyi di balik senyum manis. Siapa tahu yang kau anggap prestasi hari ini adalah wisa!” teriaknya.

Penampilan tersebut merupakan monolog berjudul Wisa yang ditulis oleh Hadani Had dan diperagakan oleh Gandewo Utomo, siswa kelas XII SMAN 1 Kintap, Kabupaten Tanah Laut. Pertunjukan ini merupakan persembahan Dewan Kesenian Tanah Laut.

Pertunjukan digelar dalam Sarasehan Seniman dan Sastrawan Kalimantan Selatan di Kecamatan Satui, Kabupaten Tanah Bumbu, Sabtu (14/2) malam.

Karya ini sebelumnya meraih juara pertama Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N) tingkat nasional jenjang SMA sederajat tahun 2025.

Dalam cerita itu, wisa digambarkan sebagai racun gaib yang lahir dari rasa cemburu dan niat jahat. Dalam sebagian keyakinan masyarakat di Kalimantan, wisa dipercaya sebagai gangguan spiritual yang dapat menyerang tubuh dan jiwa seseorang akibat kebencian orang lain. Penyembuhannya kerap dikaitkan dengan ritual adat dan doa.

Kisahnya berpusat pada Basnari, seorang pemuda dari Pegunungan Meratus yang dikenal sebagai anak berprestasi di kampungnya. Ia kemudian merantau untuk melanjutkan pendidikan ke luar daerah.

Namun keberhasilan Basnari justru memantik iri dan dengki dari orang sekitarnya. Ia kemudian pulang ke kampung dalam keadaan sakit misterius. Tubuhnya menggeliat kesakitan setiap malam, sementara desas-desus menyebar bahwa ia terkena wisa.

Ketika pengobatan medis tak mampu menyembuhkan, keluarganya memanggil Damang Udas, seorang balian suci, yang menggelar ritual pemanggilan roh leluhur.

Dalam pertempuran spiritual yang menguras jiwa dan raga, Damang Udas mengorbankan nyawanya untuk menyelamatkan Basnari.

Basnari akhirnya sembuh. Ia menyadari bahwa kepercayaan, doa, dan keyakinan lebih kuat daripada sihir mana pun. Namun ia juga mengingatkan bahwa wisa tetap ada dan dapat menyerang siapa saja.

Selepas pertunjukan, Gandewo tampak masih mengatur napas. Penampilan monolog yang mengandalkan gerak tubuh dan emosi intens itu menuntut energi besar sepanjang pementasan.

Bagian paling menguras tenaga terlihat pada adegan ketika Basnari mengalami kesakitan dan konflik batin. Gerakan patah-patah dengan ekspresi tegang menuntut konsentrasi tinggi agar tetap meyakinkan tanpa kehilangan kendali di tengah pertunjukan.

Sebelum memilih Wisa, kata Gandewo, tim sempat mempertimbangkan membawakan monolog berjudul Parang Maya untuk tingkat nasional. Dalam cerita rakyat di Kalimantan, parang maya merujuk pada ilmu magis yang dipercaya mampu melukai lawan dari jarak jauh tanpa kontak fisik langsung.

Ilmu itu kerap dikaitkan dengan kekuatan gaib masyarakat Dayak dan digambarkan dapat menyebabkan kelumpuhan atau luka misterius. Kisahnya diwariskan secara turun-temurun dalam tradisi lisan dan dianggap sebagai bagian dari warisan mistis Kalimantan.

“Mungkin karena terlalu berat dibawakan untuk sekelas SMA. Isinya membunuh, penuh darah. Jadi kami dapat evaluasi dari juri provinsi,” ujarnya.

Pilihan itu akhirnya diurungkan. Ia bersama tim memutuskan membawakan Wisa karena dinilai lebih relevan dan memiliki pesan sosial yang lebih kuat tentang iri dan dengki dalam kehidupan sehari-hari. Keputusan itu terbukti tepat. Wisa tak hanya memikat penonton saat itu, tetapi juga meraih juara pertama FLS3N tingkat nasional.

Sementara itu, budayawan Tanah Bumbu, Bambang Sucipto, mengucapkan terima kasih kepada para sastrawan dan seniman Kalimantan Selatan yang telah hadir di Lalandangan Rindu Ngosongo.

“Ini menjadi ajang silaturahmi dan mempererat kebersamaan. Kita ingin budaya Banjar menjadi tuan rumah di kampungnya sendiri,” ujarnya.

Selain penampilan monolog, acara tersebut juga diisi pembacaan puisi oleh para sastrawan serta masyarakat yang ingin ambil bagian. Sejumlah peserta tampil secara bergantian membacakan karya masing-masing. Rangkaian sarasehan kemudian ditutup dengan pagelaran Wayang Banjar yang berlangsung hingga dini hari.

Editor : Arif Subekti
#monolog #karya #juara #IRI