Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Ahmad Fitriadi dan Kesetiaan pada Kata

Jumain Radar Banjarmasin • Sabtu, 17 Januari 2026 | 18:32 WIB
Photo
Photo

DI KANCAH kesenian Kalimantan Selatan, Ahmad Fitriadi dikenal sebagai penyair dengan kedalaman makna dan kejernihan sajak. Seniman kebanggaan Bumi Saijaan, Kotabaru, ini telah mendedikasikan hidupnya untuk merawat literasi Banua melalui puisi-puisi yang tajam, jujur, dan menyejukkan.

Bagi Ahmad, puisi bukan sekadar hobi, melainkan nafas kehidupan. Melalui kata, ia memotret realitas sosial dan alam Kalimantan yang terus berubah. Ketertarikannya pada dunia sastra tumbuh sejak masa SMA di Kotabaru. Bakat alamnya dalam mengolah kata terlihat dari keterlibatannya di berbagai lomba baca puisi yang kerap ia menangi.

Perjalanan kepenyairan itu berlanjut ketika Ahmad menempuh studi di Fakultas Hukum Universitas Lambung Mangkurat (ULM) sejak 1992. Alih-alih larut sepenuhnya dalam dunia hukum, ia justru menjadi penggerak kesenian kampus. Ahmad aktif berdiskusi dan berproses kreatif di Gedung Olah Seni Kayutangi, hingga pada 1994 menjadi salah satu tokoh kunci pendirian Forum Apresiasi Sastra, cikal bakal UKM Forum Apresiasi Seni (FAS) FH ULM. Kiprah seninya terus berlanjut hingga studi pascasarjana di UGM Yogyakarta dan pengabdiannya di Dewan Kesenian Kotabaru.

Sebagai penyair kontemporer, Ahmad Fitriadi melahirkan Trilogi Sastra yang menjadi referensi penting puisi Kalimantan Selatan. Munajat Rindu (2023) merekam rindu spiritual, kenangan masa muda, serta penghormatan kepada orang tua. Kirimkan Aku Surga (2024) menyoroti kegelisahan sosial dan ketidakadilan yang menggerus nilai spiritual masyarakat Banua. Sementara Bumi Kalamantana (2025) menjadi karya ekologis yang lantang menyuarakan kegelisahan atas eksploitasi alam Kalimantan.

“Puisi adalah potret realitas,” tutur Ahmad. Ia percaya seni harus berdampak. Karena itu, ia aktif mengembangkan musikalisasi puisi untuk merangkul generasi muda. Karyanya Duka Kalamantana telah tampil di sejumlah panggung sastra regional.

Di balik tugasnya sebagai Inspektur Pemkab Kotabaru, Ahmad tetap berperan sebagai penjaga kebudayaan. Ia rutin membagikan buku puisinya ke sekolah-sekolah dan perpustakaan daerah. Kini, karya-karyanya tersedia di toko buku Banjarmasin dan mendapat tempat di gerai “Penulis Banua”, menegaskan posisinya sebagai salah satu pilar sastra Kalimantan Selatan.

Editor : Arief
#buku #Literasi