CERPEN: Sahari Nor Wakhid
“Apa gunanya menjadi pintar?” tanyaku dalam hati.
Bagiku, kepintaran hanyalah beban yang harus dipikul. Tidak ada keharusan bagi setiap orang untuk menjadi pintar. Lagipula, dunia ini tidak hanya dihuni oleh para jenius. Ada banyak orang biasa yang hidup bahagia tanpa harus bersusah payah mengejar pengetahuan.
Suasana kelas XI-A penuh dengan canda tawa dan obrolan ringan. Di tengah riuh rendah suara teman-teman, aku duduk menyendiri, memandang keluar jendela. Pikiranku melayang, tenggelam dalam pemikiran yang mendalam.
Saat jam istirahat tiba, aku berjalan keluar kelas dan duduk di bawah pohon besar di halaman sekolah. Di sana, aku bertemu dengan Lukman, sahabatku yang selalu bersemangat dalam hal belajar. Lukman adalah sosok yang rajin dan penuh antusiasme. Baginya, menuntut ilmu adalah kewajiban yang tidak bisa diabaikan.
“Kenapa kamu terlihat murung, Sahabatku?” tanya Lukman sambil duduk di sampingku.
“Aku hanya berpikir, apakah kita benar-benar perlu menjadi pintar? Bukankah hidup ini bisa berjalan tanpa harus memaksakan diri untuk belajar hal-hal yang sulit?” tanyaku.
“Sahabatku, tahukah kamu tentang konsep fardu kifayah?” Lukman melemparkan teka-teki baru sambil tersenyum bijak.
Aku mengerutkan kening, mencoba mengingat pelajaran agama yang pernah diajarkan. Meski aku tidak terlalu pintar, tapi tetap berusaha mengingat pelajaran yang bagiku menjadi dasar tuntunan.
“Bukankah itu kewajiban yang jika sudah dilakukan oleh sebagian orang akan menggugurkan kewajiban yang lain?” tanyaku memastikan agar tidak terlihat bodoh.
“Benar. Namun, dalam konteks ilmu pengetahuan, fardhu kifayah memiliki makna yang sangat mendalam. Bayangkan jika tidak ada seorangpun yang mau menjadi pintar. Siapa yang akan mengembangkan ilmu pengetahuan? Siapa yang akan menjadi dokter, guru, insinyur, atau ulama yang memberikan pencerahan kepada umat?”
Aku terdiam, merenungkan kata-kata Lukman. Dalam benakku terjadi pertengkaran hebat, mempertahankan pandanganku atau menerima kenyataan pahit yang baru saja disampaikan Lukman.
“Tapi, bukankah itu tugas orang-orang yang memang memiliki bakat dan minat di bidang tersebut? Mengapa harus memaksakan diri kita yang mungkin tidak memiliki kemampuan?” tanyaku semakin menyelidik.
“Sahabatku, setiap dari kita memiliki peran dalam masyarakat. Jika semua orang berpikir seperti itu, tidak akan ada yang mau mengambil tanggung jawab. Dalam sejarah Islam, para pemikir besar seperti Ibnu Sina, Al-Khwarizmi, dan Al-Farabi tidak lahir dari keengganan untuk belajar. Mereka menyadari pentingnya ilmu pengetahuan dan berusaha keras untuk mencapainya demi kemaslahatan umat,” Lukman menatapku dengan penuh kesungguhan.
Pikiran itu kembali menggema dalam benakku. Aku teringat akan kisah-kisah para pemikir Islam pada masa kejayaan. Bagaimana mereka mengabdikan hidup mereka untuk mencari ilmu, bukan hanya untuk diri mereka sendiri, tetapi untuk kebaikan umat manusia.
“Tetapi, Lukman, apakah kita harus mengorbankan kebahagiaan kita demi sesuatu yang mungkin tidak kita nikmati? Apakah itu adil?” tanyaku yang masih diliputi keraguan.
“Kebahagiaan sejati tidak selalu datang dari kenyamanan, Sahabatku. Terkadang, kebahagiaan datang dari melihat orang lain tersenyum karena bantuan kita. Menjadi pintar bukan hanya tentang kita, tetapi tentang kontribusi kita kepada dunia. Bukankah sebaik-baiknya manusia adalah yang dapat memberikan manfaat pada manusia lainnya.”
Saat itu, suara bel kembali berbunyi, menandakan akhir dari jam istirahat. Kami pun kembali ke kelas. Namun, diskusi kami tidak berhenti di situ. Pada pelajaran berikutnya, guru kami, Pak Hasan, memberikan kesempatan untuk berdiskusi tentang pentingnya pendidikan dalam Islam.
“Anak-anak, hari ini kita akan membahas tentang fardu kifayah dalam konteks pendidikan. Apakah ada yang bisa menjelaskan apa itu fardu kifayah?” tanya Pak Hasan memulai diskusi.
Lukman dengan cepat mengangkat tangan dan menjelaskan dengan lugas. Pak Hasan mengangguk puas dan melanjutkan, “Sekarang, mari kita diskusikan mengapa menuntut ilmu bisa dianggap sebagai fardu kifayah. Apa pendapat kalian?”
Beberapa murid mulai memberikan pandangan mereka. Ada yang setuju, ada yang merasa terbebani dengan konsep tersebut. Aku, yang masih dibayangi oleh percakapan dengan Lukman, akhirnya angkat bicara.
“Pak, apakah tidak apa-apa jika kita memilih untuk tidak menjadi pintar? Bukankah kita bisa hidup bahagia tanpa harus memaksakan diri untuk belajar hal-hal yang sulit?”
“Pertanyaan yang bagus. Kita hidup dalam masyarakat yang saling bergantung satu sama lain. Jika tidak ada yang mengambil tanggung jawab untuk mempelajari ilmu-ilmu yang sulit, siapa yang akan menolong kita saat kita butuh? Siapa yang akan memimpin kita ke arah yang lebih baik?”
Pak Hasan berhenti sejenak, menatap seluruh kelas dengan mata yang penuh makna.
“Ilmu pengetahuan adalah cahaya yang membimbing kita dalam kegelapan. Dalam sejarah Islam, para ulama dan cendekiawan berusaha keras untuk menguasai berbagai ilmu bukan untuk kebanggaan diri, tetapi untuk kebaikan umat. Mereka menyadari bahwa tanggung jawab itu harus diemban oleh seseorang agar semua dapat merasakan manfaatnya.”
Diskusi itu terus berlanjut dengan berbagai pendapat yang muncul dari teman-teman sekelas. Aku mulai memahami bahwa tanggung jawab untuk menjadi pintar bukanlah semata-mata untuk diri sendiri, tetapi untuk kepentingan bersama. Namun, dalam hatiku masih tersimpan kegelisahan.
Aku terus merenungkan makna dari percakapan itu. Bel pulang sekolah berbunyi. Aku menyempatkan diri ke perpustakaan untuk meminjam buku. Saat sedang membaca buku, aku menemukan sebuah kisah tentang Al-Khwarizmi, seorang ilmuwan muslim yang mengembangkan dasar-dasar aljabar.
Ia tidak hanya berbakat, tetapi juga bekerja keras dan berdedikasi. Ia menyadari pentingnya ilmu bagi kemajuan umat manusia.
Dengan tiba-tiba, sebuah pemahaman baru muncul dalam benakku. Aku menyadari bahwa kepintaran bukanlah sekadar tentang kemampuan individu, tetapi tentang tanggung jawab sosial. Jika tidak ada yang mau belajar dan mengembangkan ilmu pengetahuan, seluruh masyarakat akan menderita.
Tanpa kusadari, Lukman juga sedang berada di perpustakaan. Aku memutuskan untuk berbicara lagi dengan Lukman.
“Aku mengerti sekarang. Menjadi pintar bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi untuk semua orang. Jika menjadi pintar bukan sebagai tanggung jawab kita, siapa yang akan menanggungnya?”
“Aku senang kamu menyadarinya, Sahabatku. Kepintaran adalah anugerah sekaligus tanggung jawab. Dengan berbagi ilmu, kita bisa membuat tempat di sekitar kita menjadi lebih baik,” jawab Lukman tersenyum hangat.
“Mulai sekarang, aku akan berusaha lebih keras untuk belajar. Bukan hanya untuk diriku, tetapi untuk semua orang yang bergantung pada ilmu pengetahuan,” balasku penuh tekad.
Kami meninggalkan perpustakaan dengan membawa buku pinjaman masing-masing. Dalam perjalanan pulang, aku merasa beban yang selama ini mengimpitku perlahan-lahan menghilang. Aku merasa lega dan lebih bersemangat untuk menghadapi hari esok.
Fardu kifayah, sebuah konsep yang awalnya terasa berat, kini memberikan makna baru dalam hidupku. Aku menyadari bahwa dengan menjadi pintar, aku bisa memberikan kontribusi yang berarti bagi masyarakatku. Bagiku, itulah kebahagiaan sejati yang tak ternilai harganya. (*)
Editor : Arief