Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Perempuan dari Bekasi

admin • Sabtu, 27 Desember 2025 | 23:52 WIB
Photo
Photo

                  CERPEN: Depri Ajopa

     MEMASUKI kampung terpencil itu melewati dua jembatan gantung yang mencopot jantung. Awal tinggal di situ, Alisa yang baru pindah selalu ketakutan jika ke luar menuju kampung sebelah yang mengharuskan ia melewati dua jembatan yang bergoyang-goyang itu. Untung saja ada Sakib yang setia menemaninya jika suaminya tak sempat.

Selama ini Sakib tidak tergolong pada kelompok laki-laki yang kurangajar di kampung itu. Tidak pernah sekali pun ia macam-macam bikin keributan, apalagi gara-gara perempuan. Ia tidak genit, seperti kebanyakan pemuda di situ. Ia yang tinggal di kampung terpencil, tidak pernah sekali pun buat onar. Itulah yang membuatnya terpilih jadi ketua pemuda.

Mengenai ia yang jarang bicara kecuali yang penting-penting saja, menaikkan derajatnya di mata masyarakat, menjadikan ia dipandang sebagai pemuda yang berwibawa. Ia jarang sekali masuk warung duduk bersama orang-orang pencerita yang suka membual. Tapi setelah kedatangan Alisa, perempuan dari Bekasi, Sakib yang tersihir pada kecantikan perempuan itu berubah drastis. Ia jadi bahan omongan di kampungnya karena ia ketahuan telah bermain api dengan Alisa.

     Selama ini ia tak pernah terseok-seok mencari cinta seperti lelaki setia. Bahkan ia tak tahu apa itu arti cinta. Ia berubah seketika setelah kenal dengan Alisa yang bermata lentik, kulit bersih dan putih. Badannya tidak terlalu tinggi, dan bukan berarti ia perempuan pendek. Alismatanya seksi, bibirnya tipis bergaris, rambutnya lurus dan panjang.

Sakib yang terpesona tidak bisa membendung perasaannya. Pertama kalinya ia mencintai seorang perempuan, kenapa harus perempuan yang sudah bersuami. Anehnya ia terus mengikuti jalannya yang salah, jatuh cinta pada istri orang. Apakah ia harus siap-siap kehilangan cintanya sebelum ia mendapatkan cinta itu nanti. Soalnya ia sudah pernah berterus terang tentang hasrat hatinya waktu ia dan Alisa jalan ke pasar malam bersama putra Alisa yang masih berumur tiga tahun.

Waktu itu suami Alisa yang tidak pernah menaruh rasa curiga sedikit pun, sering ke luar kota karena ada keperluan. Setiap kali Sakib mengutarakan isi hatinya, Alisa tak pernah menggubris. Kali ini Sakib berusaha kembali untuk mendendangkan kata-katanya, dan ia ingin mendengarkan jawaban jujur dari perempuan itu.

     “Aku serius mencintaimu Alisa,” ia memegang tangan perempuan itu dalam keramayan, cepat-cepat Alisa melepasnya.

     “Apa? Kau mencintaiku, Mas. Ha…ha……..,” perempuan itu tertawa-tawa menutup mulut dengan tangan kanannya. Sementara tangannya yang satu lagi, tetap memegang ertat anaknya.

     “Kenapa kau tertawa Alisa?” tawa perempuan Bekasi semakin menjadi-jadi. Sakib merasa dipermainkan. Sepertinya ia tak menerima kelakuan perempuan itu terhadapnya. Bukankah selama ini mereka sering jalan berdua, dan pulang larut malam kalau suaminya tidak lagi di rumah. Sakib juga sekali-sekali pernah memeluk perempuan itu jika ada kesempatan.

Bahkan ia pernah mencium bibir perempuan bekasi itu. Alisa sendiri pun membalasnya dengan melumat bibir Sakib sampai berdecak-decak, dan ia tidak pernah melakukan lebih dari itu, walaupun ia yakin pasti akan berhasil jika ia memintanya pada Alisa. Ia yang merasa cocok mengobrol apa saja dengan perempuan itu, dan obrolan mereka selalu nyambung, dan semakin hari semakin hidup, ia menyimpulkan itu terjadi karena mereka saling mencintai. Mengenai perempuan bermata lentik itu yang sudah bersuami, ia tak peduli.

Ia yakin cintanya yang kuat tidak akan bisa lagi terjadi pada perempuan lain, sampai akhir hayatnya. Dan sudah tergambar dalam imajinasinya, bagaimana ia nanti untuk seterusnya mencintai perempuan itu lebih bergairah lagi.

     “Kau ini aneh Alisa. Apa kau menganggapku bercanda Selama ini?” tawa perempuan itu, sungguh-sungguh melukai hatinya.

     “Yang aneh itu kamu Mas, bukan aku,” jawab Alisa masih dalam keadaan tertawa. Tapi kali ini ia tidak lagi menutup mulutnya seperti tadi. Tawanya lepas begitu saja.

     “Kenapa kau bilang begitu?”

     “Ya, lah Mas. Aku kan sudah punya suami, sudah punya anak juga. Jadi tak pantas jika Mas bilang begitu padaku.”

Sakib menggaruk-garuk kepalanya. Ia membayangkan apa yang telah mereka lakukan selama ini. Ia ingin mempertanyakan itu pada Alisa.

     “Terus.”

     “Terus apa?” Sakib ingin mengatakan sesuatu, tapi ia tahan karena tak berani.

     “Mungkin Mas mau bilang, terus kenapa kamu mau aku peluk Alisa, cium kening dan bahkan lebih dari itu?” Perempuan itu menggoyang -goyang tubuhnya.

     “Iya,” jawab Sakib.

     “Jawabannya tidak Mas harus tahu sekarang, yang penting kita jalani dulu.”

     “Sampaik kapan?”

     “Sampai bosan.”       

Sakib mendesah, tapi tetap ia belum mau membawa pulang perempuan dengan anaknya itu. Ia belum percaya keputusan Alisa, ia anggap Alisa lagi tidak serius.                                               

* * *

    Suami Alisa baru saja pulang dari luar kota. Ia dapat cerita dari orang-orang tentang istrinya telah bermain serong dengan seorang laki-laki bernama Sakib di kampung itu. Ia bilang tak kenal dengan Sakib, dan ia tidak ada niat untuk menuntut lelaki itu. Cerita miring itu tidak mengganggu pikirannya. Dan ketika ia berduaan dimeja makan dengan istrinya, ia cerita pada Alisa apa yang disampaikan orang-orang, membuat istrinya yang terkejut ketakutan, dan ia tidak ada harapan lagi bisa bertemu Sakib pemuda yang sebenarnya ia cintai selain dari suaminya. Bahkan bisa berujung, ia akan diceraikan suaminya ketika itu juga. Ia yang menunggu keputusan apa yang diambil suaminya setelah mendengar cerita itu semakin deg-degan. Ia pura-pura tak merasakan apa-apa, seolah ia tak bersalah. Padahal hatinya bergetar.

     “Aku percaya denganmu Alisa. Aku tidak mau direpotkan, apalagi bikin pusing gara-gara cerita-cerita sampah yang tidak ada pembuktiannya. Aku juga tidak ada niat untuk menelusurinya, benar atau tidaknya cerita itu. Aku percaya padamu sepenuh hatiku, kau pasti menjaga cinta kita seperti janjimu dulu,” ia yang merasa napasnya berhenti sesaat, sekarang ia bisa bernapas dengan lega menuju dapur.

       Tak lama kemudian ia membawa secangkir kopi, meletaknya di atas meja. Suaminya yang duduk santai di kursi mengaduk-aduk secangkir kopi itu yang asabnya masih mengepul terbang diseret angin. Ia tak berkata apa-apa lagi. Ia juga tak membahas tentang yang lain pada istrinya yang tidak bertanya tentang proses perkembangan bisnisnya yang pernah hancur. Setelah menghidupkan TV, suami Alisa menghidupkan rokoknya, meghisabnya penuh kenikmatan, sambil mencicipi cemilan yang baru saja diletak istrinya di atas meja itu.

   “Kenapa semudah itu percaya padaku, Mas?” Tanya istrinya berhati-hati..

     “Sudahku bilang, aku tidak mau pusing gara-gara mendengar cerita menjijikkan seperti itu,” Alisa mengangguk-angguk.

     “Bagaimana kalau cerita itu benar?” Pertanyaan itu membuat suaminya terperanjat. Ia terbayang pada seorang perempuan bernama Finka, perempuan selingkuhannya mantan kekasihnya dulu. Ia yakin istrinya juga pasti sudah melakukan perselingkuhan seperti dirinya. Jika ia tahu tentang kebenaran itu, ia tak akan marah pada istrinya. Ia tanggung jawab dengan perbuatannya yang juga mengkhianati istrinya.                   Pertama kali ia selingkuh, ia yakin suatu saat akan ada risiko yang harus ia hadapi, tapi tetap ia melakukan perselingkuhan itu. Ia yakin dengan pesan Tuhan yang tertulis, apa yang kau perbuat, itulah yang akan kau terima.

           Waktu ia di luar kota saja, Finka hadir di sana. Mereka menginap berdua di homestay. Ia lebih dulu melakukan perselingkuhan sebelum istrinya melakukannya. Perselingkuhannya itu, ia tutup rapat-rapat. Jika ia digerebek dan istrinya sempat tahu, pasti Alisa sudah mengerti kenapa suaminya tidak cemburu ketika ia mendengar kabar tentang istrinya telah bermain serong.  (*)

       **

Penulis merupakan seorang cerpenis yang karyanya diterbitkan di sejumlah media. Novel terbarunya Pengakuan Seorang Novelis. Ia bergiat di Komunitas Suku Seni Riau dan mengajar di Pesantren Basma Darul Ilmi Wassa’dah, Kepenuhan Barat Mulya, Rokan Hulu, Riau, sebagai guru Bahasa Indonesia.

Editor : Arief
#cerpen