Penggagas antologi puisi Abad Burung Gagak di Tanah Palestina (2015)
Seandainya bisa, Simpei akan menolak perintah itu—perintah dari orang yang paling dihormati, tetapi juga paling ditakuti dan dibenci oleh banyak orang. Namun, apalah daya, ini adalah sebuah perintah, bukan permintaan. Simpei hanyalah seorang cecunguk di bawah kekuasaan yang sangat besar.
Di sebuah ruangan yang cukup luas, Simpei duduk bersila. Ia menatap tiga orang tokoh di depannya: seorang Damang, Patati, dan Balian. Di belakang ketiga tokoh tersebut, duduk beramai-ramai warga desa. Semua berkumpul dengan satu tujuan, meminta kepastian.
“Jadi bagimana, bisakah ikam penuhi permintaan kami?” ucap Damang Ampong memulai percakapan. Ia adalah kepala adat dari suku Bukit di desa ini. Perawakannya besar, tegap, dan berwibawa. Ia mengenakan seraung di kepalanya dan sebilah mandau terselip di pinggangnya. “Kalau permintaan kami-kami ini tidak dituruti, kami siap mati mempertahankan tanah ulayat kami!”
Balai adat tiba-tiba menjadi lengang. Seluruh mata tertuju kepada pemuda berkulit sawo matang yang berada di hadapan sang kepala adat.
“Tenang saja, Datu. Apa yang menjadi permintaan Datu sudah kusampaikan ke Tuan Besar. Tetapi memang, Tuan Besar masih menimbang-nimbang. Kata beliau, harga yang ditawarkan itu sudah sangat layak karena tanah itu tidak ada surat-suratnya.”
BRAAK!
Datu Ekot—sang Balian—menggebrak lantai. Matanya yang tajam, nyalang menatap pemuda berambut gondrong di depannya itu. “Kamu ini benar-benar, Simpei! Anak tidak tahu diuntung! Belasan tahun menghilang, datang-datang malah jadi antek para bedebah itu!”
Simpei hanya diam. Ia tahu bahwa melawan dengan emosi bukan pilihan terbaik. Hari ini ia harus berhasil menyelesaikan negosiasi. Tuan Besar memberikan waktu hanya sampai malam. Besok ia sudah harus membawa kabar baik. Jika tidak, sesuatu yang tidak menyenangkan akan terjadi.
“Itu memang tanah desa, Simpei. Tanah ulayat. Warisan leluhur kita. Tanah itu dipakai untuk kemaslahatan kampung ini. Seluruh hasil buminya, ya, untuk membiayai kampung kita. Lihatlah rumah adat, lumbung padi, jalan, bahkan anak-anak yatim piatu seperti kamu dulu, itu hidup dari hasil tanah itu. Bagaimana mungkin tanah bersama dibuatkan surat atas nama satu orang!” Damang Ampong menatap Simpei tajam.
“Aku paham, Datu. Tapi, siapalah aku ini. Aku di sini cuma sesuruhan saja. Semua tetap tergantung sama Tuan Besar.”
“Kurang ajar!” Datu Ekot kembali menyela pembicaraan, “Seharusnya ikam sebagai bekas orang sini paham. Jangan jadi pengkhianat! Mentang-mentang sudah dikasih makan orang itu, ikam ikut-ikutan juga jadi serakah!”
Semua orang tampak menahan napas. Kata-kata Datu Ekot membuat takut semua yang hadir. Meskipun Simpei lahir dan besar di kampung ini, tetapi apa yang pernah ia alami membuat orang-orang takut apabila lelaki dengan mata setajam elang itu masih menyimpan dendam.
Namun, Simpei tetap tenang. Ia mencoba bersikap sabar. Sejak awal, ia sudah tahu bahwa negosiasi ini akan berjalan alot. Sebelum dirinya pun, sudah ada beberapa orang suruhan Tuan Besar yang pulang dengan tangan kosong. Berbicara dengan ketiga tokoh ini harus pelan-pelan, tidak boleh kasar, tidak boleh main srudak-sruduk, apalagi ancam-mengancam. Simpei sangat paham karakter ketiga sesepuh itu. Apabila mereka telah setuju, maka semua akan menjadi beres.
“Baiklah. Begini saja Datu, untuk masalah harga tanah itu, aku akan coba lobi lagi ke Tuan Besar. Tapi sepertinya, harganya tidak bisa setinggi itu. Semua tahu sendiri kan, kalau Tuan Besar punya kekuasaan dan uang. Semua pejabat takluk sama beliau. Daripada tanah itu lepas, diambil Tuan Besar tanpa desa ini dapat apa-apa, lebih baik kita selesaikan sekarang. Berikan harga yang sewajarnya!”
Para tokoh dan warga kampung terdiam mendengar perkataan Simpei. Memang apa yang dikatakan Simpei ada benarnya. Siapa pun yang berurusan dengan Tuan Besar, jika berkaitan dengan tanah, pasti akan merugi. Orang dengan kekayaan triliunan itu dapat melakukan apa saja. Mau benar atau salah, ia tetaplah pemenangnya. Hukum sudah seperti ada di telapak kakinya.
“Baiklah kalau begitu. Kita akan bicarakan ini baik-baik. Kami harap, Tuan Besar mau menerima permintaan kami,” pungkas Damang Ampong kembali. Kali ini ia harus mengalah. Tanah di ujung selatan desa ini hampir semuanya sudah dikuasai oleh Tuan Besar. Tanah-tanah itu sudah berubah menjadi lubang-lubang raksasa. Beberapa bahkan diambil secara paksa. Penduduk desa sebagai pemilik tanah ulayat tidak mendapatkan sepeser pun ganti rugi.
“Lalu, bagaimana dengan syarat-syarat lain yang katanya juga harus kami penuhi?” tanya Simpei.
Damang Ampong melirik Datu Ekot, kemudian beralih ke Patati Lingga yang sejak tadi hanya diam.
“Kecuali Patati Lingga, kami berdua sudah bulat mengajukan syarat.” Damang Ampong kembali mengisap rokoknya, lalu menghembuskan asapnya ke udara. “Tanah ulayat yang kalian ambil tidaklah seluruhnya. Ada beberapa bagian yang tidak boleh kalian serobot. Batas kalian adalah bukit di seberang sungai itu. Tidak lebih! Jangan sampai kalian merusak aliran sungai di hulu karena sungai adalah kehidupan kami!”
Simpei mengangguk-anggukan kepalanya. Ia mendengarkan beberapa syarat lagi dari Damang Ampong. Ia akhirnya setuju karena syarat-syarat itu menurutnya masih masuk akal. Ia yakin kalau Tuan Besar pun pasti akan menyetujuinya.
“Tapi tunggu dulu! Masih ada satu syarat lagi!” ucap Damang Ampong tiba-tiba.
Simpei yang sudah bersiap menghubungi Tuan Besar kembali mengurungkan niatnya.
“Patati Lingga, katakanlah,” perintah Damang Ampong.
Patati Lingga menatap mata Simpei. Mulutnya setengah terbuka. Namun, ada keraguan di sana. Ia takut jika pemuda di depannya itu akan menolaknya.
“Simpei,” Patati Lingga berbicara dengan suara sedikit bergetar, “Aku ingin kamu menikahi cucuku, Berinai Puti!”
Bagai tersengat lebah, tubuh Simpei menegang. Telinganya memerah. Simpei tak mampu berkata-kata. Mendengar nama Berinai Puti disebut membuat kerongkongannya seperti tersangkut duri.
“Bukannya Rinai sudah....” Simpei tercekat. Perempuan tua di depannya menatapnya penuh harap. “Ah, maaf, Datu. Aku tidak bisa menjawabnya sekarang.”
Simpei gegas berdiri. Ia melangkah pergi dengan hati berkecamuk. Perasaannya campur aduk. Belasan bodyguard yang dibawanya sigap mengiringinya.
Simpei naik ke atas motor trailnya. Dengan sekali hentakan, motor itu meraung. Jalanan berbatu membuat tubuhnya terguncang-guncang. Pikiran Simpei berkelana, menembus cahaya merah keemasan, memeluk lubang-lubang raksasa yang telah lama ditinggalkan. Ia mendesah. Memorinya singgah ke masa belasan tahun yang lalu, saat usianya masih dua puluhan.
***
“Tidak salah bukan, bila aku mencintai Berinai Puti!” Simpei menggeram marah, menatap Patati Lingga dan beberapa tokoh yang hadir di Balai Adat.
Bukan tanpa sebab Simpei begitu marah. Satu-satunya wanita yang ia cintai akan dinikahkan dengan lelaki dari desa seberang. Hanya karena lelaki itu adalah anak dari kepala suku, Patati Lingga dengan entengnya langsung menerima pinangannya.
“Ikam tidak berhak mengatur-atur kami, Simpei. Masalah dengan siapa Rinai menikah itu urusanku. Ia cucuku. Aku lebih tahu apa yang terbaik untuknya!”
“Tapi, Datu, aku dan Rinai sama-sama saling mencintai.”
“Tidak! Sekali kataku tidak, ya, tidak! Ingat dirimu, Simpei. Ikam itu berasal dari mana? Cuma anak yatim piatu yang tidak jelas hidupnya, yang hanya mengandalkan bantuan. Bagaimana nanti mau menghidupi cucuku? Sudahlah, keputusanku sudah bulat. Rinai akan aku nikahkan dengan Dehen. Titik!”
Dengan langkah gontai, Simpei akhirnya kembali ke rumahnya yang sederhana. Sambil merebahkan diri, Ia mengatur rencana untuk membawa Rinai lari. Ia yakin, Rinai pasti bersedia untuk ikut kemana pun ia pergi. Oleh karena itu, di tengah malam yang gelap, Simpei, mengendap-endap di bawah jendela kamar Rinai.
“Rinai, mari kita pergi saja dari sini!” ajak Simpei setelah wajah perempuan yang dicintainya itu muncul dari balik jendela.
“Maaf, Simpei, aku tidak berani melawan bua.” Rinai memandang Simpei dengan tatapan sendu.
“Tapi...”
“Sudahlah, kamu pulang saja! Mungkin kita memang tidak berjodoh. Masih banyak perempuan lain yang akan menerimamu. Lupakan saja aku!” Tanpa menunggu jawaban Simpei, Rinai menutup jendelanya.
Tepat setelah itu, terdengar teriakan salah satu warga yang memergoki Simpei. Penduduk kampung pun beramai-ramai menangkapnya. Simpei disidang. Ia diputuskan bersalah. Ia diusir dari kampung. Tidak ada satu pun warga yang membelanya. Ia benar-benar sendirian. Hatinya dipenuhi oleh luka dan kebencian mendalam. Akhirnya, ia pun pergi terlunta-lunta tanpa arah. Kemudian, tanpa sengaja, ia bertemu dengan Tuan Besar, orang yang akhirnya ia ikuti.
***
Selepas Isya, Simpei kembali ke desa yang berada di lereng pegunungan meratus. Cahaya lampu dari motor trail yang dikendarainya membelah malam yang gelap. Kali ini ia langsung menuju ke rumah Patati Lingga. Keputusannya sudah bulat. Ia akan menolak syarat dari perempuan tua itu. Baginya, masa lalu tidak bisa diulang. Ia akan meminta syarat lain, syarat yang lebih masuk akal.
Simpei memarkirkan motornya di depan rumah panggung berdinding kayu. Selama belasan tahun, hampir tidak ada yang berubah dari rumah itu. Hanya lebih terkesan gelap dan suram. Simpei mengetuk pintu. Sepi. Rumah tua di depannya itu seperti tidak berpenghuni.
“Simpei,” panggil seseorang dari balik punggungnya. Patati Lingga tiba-tiba saja sudah berdiri di belakangnya. “Masuklah,” ucap Patati Lingga setelah membukakan pintu.
Patati Lingga menyuruhnya duduk di atas tikar, lalu berjalan menuju sebuah kamar.
“Rinai, keluarlah, Nak. Ada tamu untukmu!”
Tidak berselang lama, seorang perempuan bertubuh kurus dan berwajah tirus keluar dari kamar. Cahaya lampu parafin menyinari wajahnya yang pucat. Sedetik kemudian, empat pasang mata saling bersitatap. Simpei menelan ludah. Mata perempuan itu basah. Terdengar sesenggukan lirih dari perempuan itu.
“Simpei...” bisiknya. Tiba-tiba perempuan itu limbung. Tubuhnya ambruk menghantam lantai papan yang dingin.
“Rinai!” teriak Patati Lingga. Dengan cepat perempuan tua itu mendekap tubuh cucunya yang kini hanya tinggal tulang berbalut kulit.
Simpei hanya mematung. Ia bimbang. Apa yang ia pikirkan bertolak belakang dengan apa yang ia rasakan. Akankah ia harus memilih, antara hati yang terlanjur luka atau membuka lagi perasaan lama?
Simpei menatap tubuh kurus perempuan itu—perempuan yang hingga saat ini terkadang masih muncul dalam mimpinya. Matanya tiba-tiba berembun. Sepertinya, Ia harus segera mengambil keputusan. Keputusan yang akan membuat semua orang bahagia, mungkin juga dengan dirinya. (*)
Editor : Arief