Karya: SZ. Nufus
Telepon itu tak pernah diangkat. Sudah dua puluh kali aku mencobanya sejak pagi tadi. Hanya nada sambung yang menyambutku kemudian telepon terputus. Seolah seseorang yang aku cari sudah tak ada di seberang sana. Seseorang itu bernama Manzil. Laki-laki yang membuatku menemukan rumah. Ia seniorku di masa perkuliahan. Aku dan Manzil hanya terpaut lima tahun. Ia begitu banyak menginspirasiku sehingga lahirlah Cania versi update, seorang aktivis lingkungan yang sering dibilang sok keras.
Aku memandang dari jendela kamar kos. Suara klakson yang dulu bersahutan kini sesekali saja terdengar. Debu masih beterbangan, tapi jalan-jalan tak lagi ramai seperti dulu. Kota ini telah mati. Sejak rezim mengumumkan keruntuhannya di tahun 2030, perlahan kota-kota lainnya juga mengumumkan keruntuhannya. Kota ini sempat memperpanjang usianya hingga 2035. Enam bulan lalu, terjadi demo besar-besaran yang mengubah semuanya. Aku tak percaya menyaksikan sendiri cerita post-apocalyptic seperti anime-anime terkenal itu.
Ironisnya, kota ini bertahan karena masih bisa berdagang dengan negara lain melalui industri pertambangannya. Aku tak bisa berbuat apa-apa selain harus pensiun dini menjadi seorang aktivis lingkungan. Pekerjaan yang benar-benar kucintai meski hanya sanggup menghidupiku dari hari ke hari. Manzil selalu menyemangati saat akhirnya aku memutuskan untuk pensiun. Katanya, “Tak perlu bersedih. Pilihanmu sekarang karena hatimu yang tak sanggup melihat penderitaan orang lain. Bukannya itu sama dengan pilihanmu yang dahulu juga?”
Tiga hari lalu, sebuah paket datang. Kurir tampak terburu-buru, wajahnya kusam, mengenakan masker lusuh seperti banyak orang hari ini. Tak sempat memberi penjelasan. Hanya berkata, “Semua orang menerima ini. Katanya penting.” Paket itu kecil, dibungkus plastik hitam, dan di atasnya tertempel secarik kartu. Tulisannya, untuk yang masih menyisakan harapan.
Aku tak membukanya hanya membiarkannya tergeletak di meja. Aku masih tak bisa mengatasi rasa cemas jika membuka paket ini. Apalagi paket dengan janji-janji manis yang pernah kucicip saat pertama kali menggunakan hak pilih dalam pemilu. Rasanya, dunia ini runtuh karena janji-janji yang tak pernah ditunaikan oleh para pemimpin. Aku bahkan mulai merasa jenuh dengan kata-kata seperti perubahan, kesempatan, dan masa depan. Kata-kata itu kehilangan makna di tengah kerusakan ini.
Aku pikir bisa menanyakan hal ini pada Manzil. Mungkin ia tahu. Mungkin ia menerima paket yang sama. Namun, Manzil tak ada. Bukan, ia bukan avatar yang menghilang saat dunia mengalami keruntuhan. Ia hanya rumahku. Sesuai dengan arti namanya.
Aku teringat pesan terakhirnya melalui WhatsApp beberapa minggu lalu. Ia bertanya, “Kalau dunia ini harus mulai dari tanah, apa yang akan kamu tanam, Can?”
Aku tak membalasnya saat itu. Terlalu sibuk bertahan hidup dengan mengantre air bersih, menukar kupon pangan, menutup telinga dari sirine bantuan kemanusiaan. Aku terjebak dalam usaha bertahan, tanpa punya waktu untuk berpikir apa pun yang bersifat harapan. Kini, pertanyaan itu menggelitikku kembali. Kemungkinan paket di meja itu adalah jawabannya.
***
Malam hari terjadi pemadaman listrik di lingkungan tempat tinggalku. Beberapa hari ini, tak ada sinar matahari yang cukup agar baterai panel surya terisi penuh. Begitulah kota ini bertahan hidup sampai menunggu kehancurannya. Kota yang berdagang batu bara tetapi masih menambang juga sinar matahari. Kota yang tampak seperti makhluk tanpa daya. Bangunan-bangunan kosong berdiri seperti kerangka, dan angin malam membawa bau logam dari reruntuhan pabrik di utara.
Aku meraba-raba di atas meja mencari lilin. Kemudian aku duduk di depan paket itu. Bayangannya terlihat besar dengan cahaya lilin. Kubuka perlahan. Sebuah cahaya samar menyala saat plastik terbuka. Jantungku berdetak cepat. Isinya sebuah bibit pohon dalam polybag kecil berwarna hijau gelap. Daunnya belum tumbuh. Hanya sejumput akar dan tunas kecil yang menyembul. Tapi ada sesuatu yang membuatnya… hidup. Bibit itu seolah bernapas. Seolah tahu ia sedang dipandang dan menunggu diperlakukan dengan layak. Di bawah bibit itu, aku menemukan selembar kertas kecil. Hanya dua kata tertulis dengan tinta samar, Urim dan Tumim. Aku mengenali istilah itu tapi lupa dari mana. Urim dan Tumim adalah dua batu suci ini dipakai para imam sebagai alat pertimbangan. Urim untuk terang, Tumim untuk sempurna. Alat yang dipakai saat manusia sudah kehabisan cara untuk memutuskan jalan.
Bibit itu seperti menatapku. Kami berdua berhadapan dalam keheningan. Aku tak tahu apakah ini semacam ujian, petunjuk, atau hanya prank orang iseng?. Tapi, orang gila mana yang masih kepikiran untuk melakukan hal iseng di tengah dunia pasca kiamat. Tiba-tiba aku teringat perbincanganku dengan Manzil berbulan-bulan lalu, saat kami berdiri di atap sebuah gedung tua yang kini telah runtuh. Ia menunjuk ke arah kota, berkata lirih, “Can, aku pikir di tengah kekacauan ini kita seperti imam-imam yang kehilangan arah. Kita berdiri di tengah reruntuhan dan berharap suara dari langit akan kembali. Tapi siapa yang akan membaca Urim dan Tumim hari ini, jika kita bahkan tak bisa mendengar satu sama lain?”
“Ya, aku ingat!”
Manzil yang mengenalkanku pada Urim dan Tumim. Malam ini aku mengerti maksudnya. Dunia ini tak lagi memberi petunjuk dengan jelas. Tak ada nabi, tak ada suara langit. Tapi mungkin, benda-benda kecil seperti bibit ini adalah cara baru semesta berbicara. Aku tersenyum samar. Bukan karena harapan, tapi karena kebingungan.
Apa yang harus kulakukan dengan ini?
Apa ini semacam tipuan baru dari pasar bebas yang memalsukan mimpi?
Atau justru… ini benar-benar sebuah jawaban?
Aku menatap lantai. Kos ini tak punya pekarangan. Aku tak tahu harus menanamnya di mana. Tapi terpenting, aku belum punya keyakinan untuk menanam ini.
Apa artinya menanam sesuatu di dunia yang tak lagi menjanjikan panen?
***
Bias-bias matahari membangunkan tidurku. Aku menoleh ke arah jam dinding. Jarum jam menunjukkan pukul delapan.
“Mungkin aku harus pergi ke taman.”
Aku bergegas keluar kos. Taman ini letakknya tak begitu jauh dari kos. Aku bisa menjangkaunya dengan berjalan kaki lima menit. Dulu, taman ini penuh bunga. Kini sebagian berubah jadi lapak pasar darurat. Tenda-tenda biru, suara teriakan penjual, aroma makanan cepat saji. Tapi masih ada satu sisi taman yang dibiarkan kosong, diapit tembok tinggi dan pohon ketapang yang mulai meranggas.
Di bawah pohon ketapang terdapat bangku panjang dengan kayu yang mulai reyot. Aku memilih duduk di bangku itu dan mengeluarkan bibit dalam totebag. Totebag yang kupakai ke banyak acara dari seminar, pelatihan, bahkan demonstrasi terakhirku bersama Manzil.
Seorang anak kecil mendekat. Jenis kelaminnya laki-laki. Usianya sekitar tujuh atau delapan tahun. Wajahnya penuh rasa ingin tahu.
“Mbak, itu tanaman?”
Aku mengangguk. “Tapi aku belum tahu namanya.”
Anak itu memandang bibit itu lama sekali, seolah bisa mendengar sesuatu yang tak kudengar.
“Tanam aja, Mbak. Siapa tahu nanti dia jadi pohon besar. Bisa buat berteduh.”
Aku tersenyum kecut. “Kalau dia nggak tumbuh gimana?”
Anak itu mengangkat bahu. “Ya, nggak apa-apa. Tapi kalau nggak ditanam, dia nggak akan tumbuh beneran.” Setelah menghantamku dengan kalimat itu, ia pergi. Sederhana, tapi dalam. Anak-anak memang sering kali menyampaikan kebenaran tanpa merasa perlu meyakinkan siapa pun.
Aku mengalihkan pandangan ke langit. Langit masih biru. Tapi bumi sudah tak sama lagi. Kemudian, aku memperhatikan satu demi satu orang yang lalu lalang. Seorang ibu tua dengan gerobak sayur. Seorang bapak muda yang memunguti botol plastik. Pasangan muda yang masih bisa tertawa di antara tumpukan masalah. Semua orang tampaknya sedang menanam sesuatu. Meskipun tak selalu dalam bentuk bibit.
Angin bertiup kencang ke arahku membawa lembaran poster rusak dan iklan pekerjaan yang lebih parah dari menjadi admin judi online. Seorang laki-laki tua duduk di sebelahku. “Itu tanaman, Mbak?”
Aku mengangguk tipis. “Dari paket aneh yang dikirimkan ke semua orang.”
“Mungkin dunia sedang menyuruh kita menanam lagi. Setelah terlalu lama menebang.” Kalimat itu singkat tapi membawa pikiranku berkelana sampai tak menyadari laki-laki tua itu telah pergi.
“Mungkin, kali ini aku hanya perlu membaca Urim dan Tumim-nya.”
Keputusanku bulat untuk menanam bibit tanaman ini. Aku mengeluarkan sekop kecil dari totebag untuk menggali tanah. Aku ingin bibit ini tetap hidup karena ditanam di bawah pohon ketapang yang meranggas. Setelah beberapa lama menggali terdapat ruang yang cukup untuk menanam bibit ini. Perlahan aku menaruhnya lalu menutupi kembali dengan tanah. Tak ada cahaya yang turun dari langit ke arahku. Tak ada keajaiban yang mengantarkanku pada sebuah wahyu.
“Cuma begini?”
Tapi untuk pertama kalinya, setelah berbulan-bulan aku mendapatkan ketenangan kembali. Aku seperti mencapai garis akhir layaknya pelari yang sedang mengikuti lomba marathon. Aku tak punya harapan apapun terhadap bibit ini. Mungkin ia tumbuh. Mungkin ia mati.
Aku mengirim pesan pada Manzil. “Kalau dunia harus mulai dari tanah, aku akan menanam keberanian. Meski sendirian.” Pesan telah terkirim. Tak tahu akan dibalas atau tidak. Tapi, kali ini aku tak sedang menunggu jawaban. Karena aku sudah berhasil menyelesaikan pertanyaan. (*)
Tentang Penulis:
SZ Nufus, yang juga dikenal dengan nama Aya, lahir di Samarinda. Ia merupakan salah satu penyair yang tergabung dalam Buku Antologi Lapis Penyair Kalimantan Timur. Tulisan-tulisannya dapat ditemukan di berbagai media daring seperti Kaltim Today, Ghibahin.id, Sastra Media, Semilir, Janang.id, dan Laune. Kini bergiat di Ruang Sastra Kaltim
Editor : M. Ramli Arisno