Oleh: H. Muhammad Tambrin
Muasis/Pendiri Ponpes Al Fatih Pelaihari Tala
“Jangan jadikan tuntutan engkau (permohonan/doa) kepada Allah menjadi sebab kepada pemberian Allah, sehingga pemahaman engkau tentang-Nya menjadi sedikit, dan hendaklah permohonan itu untuk menampakkan kehambaanmu (ubudiyah) dan memenuhi hak-hak ketuhanan (rububiyah).”
Hikmah ke-166 Al Hikam Al Atha’iyyah Imam Ahmad bin Atha’illah As Sakandari Rahimahullah
Maksud dari hikmah ini menurut syarah Al Mukarram Al Allamah Al Arif Billah KH Muhammad Bakhiet, adalah jangan sampai kita beritikad bahwa doa itu sebab untuk menghasilkan tuntutan kepada Allah. Jika kita berkeyakinan seperti itu, maka itu menunjukkan bahwa kita tidak paham rahasia perintah Allah Swt pada hamba-Nya. Dimana kita memang diperintahkan untuk berdoa dan meminta.
Jika kita mengerti rahasia mengapa Allah memerintahkan kita berdoa niscaya kita tidak menganggap bahwa doa itu suatu sebab untuk hasil yang dicapai dan diminta kepada-Nya.
Dalam artian, jangan sampai kita berkeyakinan sebab diriku berdoa setiap hari di tengah malam, akhirnya berhasil. Kalau demikian keyakinan kita, berarti kita tidak paham bahwa yang dimaksud oleh Allah tentang doa itu.
Karena ketika Allah Swt memerintahkan hamba-Nya untuk meminta, sejatinya untuk menampakkan akan berhajatnya mereka kepada Allah dan untuk mendirikan hak-hak ketuhanan, bukan untuk menjadi sebab dari hasilnya yang mereka minta.
Sabda Rasulullah: “Doa itu adalah otaknya ibadah.” (HR Tirmizi).
Ibadah banyak, ada salat, zikir, dsb. Tapi doa adalah otaknya, karena di dalamnya ada dua pengakuan, yaitu pengakuan diri kita ini lemah dan tidak berdaya dan mengakui Allah Maha Perkasa.
Inilah paham orang yang makrifat dengan Allah dan keadaan mereka, tidak memandang kabul tidaknya, terpenting adalah sudah mengagungkan Allah dan mengakui kehinaan diri.
Karena itu pula, seorang yang arif meski Allah sudah memberikan apa yang dia pinta, ia tidak akan berhenti meminta permintaan itu. Misalnya, minta sehat afiat, walaupun sudah diberi sehat afiat tidak akan henti-hentinya meminta.
Lain halnya dengan kita yang tidak makrifat ini, jika meminta dan Allah beri maka kita berhenti meminta. Misalnya, saat meminta mudah dalam melunasi hutang, saat hutang itu lunas maka kita berhenti meminta permintaan tersebut, ini dikarenakan kita masih berkeyakinan bahwa doa itu adalah sebab lunasnya hutang.
Maka jadilah orang arif itu hamba Allah pada seluruh keadaan, sebagaimana Allah itu Tuhannya pada seluruh keadaan.
Baik dalam keadaan sakit, sehat, kaya, miskin dia hamba Allah. Berbeda dengan orang belum dapat ma’rifat itu mereka bertuhan Allah hanya saat sengsara/diuji, saat dia lapang kadang tidak bertuhan Allah lagi, buktinya apa? Dia tidak berdoa lagi saat yang dia pinta sudah didapatkan.
Maka faidah doa itu menurut orang yang makrifat ada dua macam. Pertama, menjunjung perintah Allah dengan doa, kedua, menghiasi anggota zahir dengan ibadah karena doa itu daripada ibadah.
Adapun keadaan awam manusia kebanyakan mereka mengitikadkan bahwa doa itu satu sebab pada menghasilkan tujuan mereka dari Allah Swt. Bagi awam kondisi ini dibolehkan, tetapi tetap dituntut untuk menjaga adab-adab dan syarat-syarat doa.
Di antara menjaga adab dan syarat doa antara lain adalah tidak meminta kepada Allah sesuatu yang mustahil secara akal dan dilarang oleh syara. Misalnya, seperti meminta kepada Allah menurunkan makanan dari langit kepada Siti Maryam. Juga memintakan ampunan bagi orang kafir atau mengatakan orang kafir dengan sebutan almarhum.
Berikutnya adalah meminta kepada Allah sesuatu yang diperintahkan Allah untuk memintanya. Yakni meminta masuk surga, selamat dari api neraka, keampunan, ditetapkan iman, ilmu yang bermanfaat, memohon kebaikan disisi Allah, dsb.
Lantas bagaimana dengan meminta kaya, kedudukan, panjang umur? Maka memintanya harus disertai dengan kebaikan yang Allah suka. Seperti “Ya Allah panjangkan lah umur hamba untuk berbuat taat kepada Engkau, Ya Allah berilah hamba rezeki yang luas untuk beribadah kepada Engkau”. Atau ditambah kalimat “Jika itu membawa kebaikan kepada hamba”. Misalnya Ya Allah jadikanlah hamba pejabat jika itu membawa kebaikan kepada hamba.
Walhasil, hikmah ini mengajarkan kepada kita bahwa, pertama, berdoa kepada Allah tujuannya adalah untuk menampakkan kelemahan kita dan mengakui bahwa Allah maka kaya dan kuat.
Kedua, berdoa kepada Allah untuk menjunjung perintah Allah dan memperhiasi diri dengan ibadah. Urusan doa diterima atau tidak bukan tujuan. wallahu a'lam. (*)
Editor : Arief M