Beradab dengan Allah, Mengapa Kita Tidak Bisa Melihat Allah

admin • Dipublikasikan Jumat, 2 Oktober 2026 | 09:39 WIB
H. Muhammad Tambrin
H. Muhammad Tambrin

Oleh: H. Muhammad Tambrin
Muasis/Pendiri Ponpes Al Fatih Pelaihari Tala

“Sesungguhnya yang menghijab engkau daripada melihat Allah oleh karena sangat dekatnya Dia kepadamu. Sesungguhnya terdinding Allah dari mata kita karena bersangatan tampaknya Allah dan Dia tersamar dari penglihatan kita karena besarnya cahaya nur-Nya.”

Hikmah ke-164-165 Al-Hikam Al-Atha’iyyah Imam Ahmad bin Atha’illah As-Sakandari Rahimahullah

    ****

Disyarahkan oleh Al Mukarram Al Allamah Al Arif Billah KH Muhammad Bakhiet, sangat dekatnya Allah kepada kitalah yang membuat kita tidak bisa melihat-Nya. Itulah yang membuat kita tidak bisa mengingat-Nya. Maksud dekat antara hamba dengan Tuhannya di sini bukanlah jarak, seperti dekatnya kita dengan yang lain. Karena mengambil tempat Allah itu adalah mustahil.

Kalau berjarak sekian centimeter misalnya, berarti bertempat, sementara bertempat atas Allah itu adalah mustahil. Sebab Allah Swt ada sebelum adanya tempat kanan, kiri, atas, bawah, muka dan belakang.

Jadi pengertian Allah dekat dengan hamba-Nya itu tidak dimaksud dengan bertempat dan berjarak.

Maksud dekat-Nya Allah dengan hamba-Nya adalah bahwa hamba itu terus ada dengan Allah, yaitu dengan ilmu, kudrat, iradat dan pemeliharaan Allah Swt. Sekejap mata saja kita lepas dari ilmu, kudrat, iradat dan pemeliharaan Allah Swt, niscaya kita menjadi binasa, hilang tidak menjadi apa-apa.

Dan adakah kedekatan yang lebih dekat kepada hamba daripada Allah Swt? Sebab apa pun gerak-gerik kita dan yang kita lakukan selalu diawasi Allah Swt.

Allah Swt berfirman: "Sungguh, Kami benar-benar telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh dirinya. Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya." (Qaf: 16)

Orang yang paling dekat sekalipun dengan kita jaraknya, tidak akan tahu gerak hati kita, tapi Allah tahu. Ini menunjukkan bahwa Allah sangat dekat dengan hamba-Nya.

Tetapi karena terlalu dekat Allah dengan kita, sehingga kita banyak lupa, karena kebiasaan manusia hanya ingat yang jauh, tapi yang dekat terlupakan.

Padahal sifat-sifat yang ada di diri kita ini tidak lepas daripada Allah. Kita lupa bahwa kita bisa melihat, mendengar, bergerak, berkehendak dengan Allah. Sehingga kita mengaku kita yang bisa melihat, mendengar, membaca.

Maka tidaklah bisa menyaksikan akan Allah kecuali orang yang ditempatkan Allah mereka itu pada makam fana dan baqa. Orang yang diberi Allah makam demikian yang bisa menyaksikan Allah.

Sehingga orang-orang yang belum diberi Allah maqam tersebut, dia akan lalai kepada Allah, walaupun dia berzikir, shalawat, baca Alquran, melakukan amal kebaikan tapi hatinya lupa kepada Allah karena sangat dekat-Nya Allah.

Kalau datang ingat kepada Allah, hanya seperti kilat menyambar, sedikit saja. Karena kita belum diberikan kedudukan yang terhormat ini.

Orang-orang yang diberi Allah makam fana adalah orang-orang yang hilang di dalam hatinya selain Allah, dia tidak menyaksikan yang ada ini kecuali Allah. Sedangkan makam baqa ini adalah orang yang mata hatinya bisa menyaksikan Allah meliputi dan berdiri dengan segala sesuatu.

Apabila kita belum diberi Allah makan fana dan baqa, tapi kita sudah meyakini bahwa Allah selalu memperhatikan dan mengetahui apa pun dari kita sekecil apa pun. Maka keyakinan yang kuat seperti itu di dalam hati kita akan menimbulkan adab yang baik kepada Allah pada diri kita.

Orang-orang berkeyakinan kuat seperti ini, maka orang ini beradab dengan Allah, salah satu adabnya adalah dia pasti akan bersegera melaksanakan perintah Allah dan segera menjauhi larangan Allah.

Mengapa kita bisa lalai mendengar seruan Allah, lambat meninggalkan apa yang dilarang Allah? Itu karena dari kurangnya yakin tentang dekatnya Allah kepada kita. Apabila yakin pasti segera melaksanakan perintah dan segera menjauhi larangan Allah, karena yakin Allah mengetahui akan hal ihwal diri kita.

Dan adab lain dikatakan oleh para ulama, orang yakin ini adalah banyak diamnya daripada bicaranya. Contoh saja kita saat bertemu dengan tokoh besar misalnya, pasti tidak akan banyak bicara karena menjaga adab, apalagi dengan Allah lebih lagi.

Adab lain dikatakan lagi, menyucikan pikiran. Kenapa? Karena Allah tahu apa yang dia pikirkan. Dia tidak akan berani berpikir negatif kalau dia yakin Allah dekat.

Jadi, kalau kita sudah beradab dengan Allah tentunya ada pertimbangan kita akan diberikan makam fana dan baqa tadi. Kalau kita tidak beradab kepada Allah tidak mungkin Allah memberikan makam fana dan baqa.

Selanjutnya dalam hikmah ke-165 disebutkan yang menjadi dinding penghijab penglihatan kita adalah karena sesuatu itu sangat tersembunyi atau karena sangat tampak.

Allah Swt tidak dapat dilihat mata kepala kita karena sangat tampak Allah Swt. Seperti matahari, cahaya matahari itu cahaya yang sangat kuat dibanding cahaya. Kuatnya cahaya matahari itulah yang mendinding mata manusia yang lemah daripada melihat matahari yang sebenarnya. Matahari saja kita tidak bisa melihatnya? Bagaimanakah lagi mata kita bisa melihat Sang Pencipta. Allahu A'lam. (*)

Editor : Arief M
Tarbiyah