Maqam Mahabbah

admin • Dipublikasikan Jumat, 25 September 2026 | 10:19 WIB
H. Muhammad Tambrin
H. Muhammad Tambrin

Oleh: H. Muhammad Tambrin
Muasis/Pendiri Ponpes Al Fatih Pelaihari Tala

”Barang siapa yang cinta kepada Allah, dia tidak akan mengutamakan sesuatu yang lainnya atas Allah”.

Hikmah ke-162 Al Hikam Al Atha’iyyah Imam Ahmad bin Atha’illah As Sakandari Rahimahullah

       ****

Orang yang cinta kepada Allah, dia tidak akan mengutamakan sesuatu di atas Allah. Orang seperti ini disebut berada di makam mahabbah.

Dia tidak akan mengutamakan atas Allah sesuatu dari keinginan dirinya dan atau pun hal-hal lainnya.

Misalnya, kita suka tidur semalam suntuk, tetapi Allah suka kita bangun di tengah malam beribadah. Maka kalau cinta, kita akan bangun mengunggulkan kesukaan Allah daripada kesukaan kita.

Selama Allah kita nomor duakan, maka banyak kehendak kita yang kita loloskan. Walaupun itu bertentangan dengan Allah. Artinya kita belum diberi Allah makam cinta ini.

Banyak yang dicintai Allah, kita tinggalkan. Misal demi kecintaan kita kepada istri, anak, dan keluarga maka kita jauh dari makam cinta kepada Allah SWT.

Orang yang mahabbah adalah orang yang cinta kepada Allah, cinta kepada sesuatu yang dicintai oleh Allah, dan cinta orang-orang yang dicintai oleh Allah (otomatis). Benci sesuatu yang dibenci Allah, dan orang-orang yang dibenci oleh Allah. Jika menyelisihi yang demikian, kita bukan termasuk orang yang ada di makam cinta.

Jika disimpulkan dari hikmah edisi sebelumnya, maka ada tiga makam. Pertama makam baqa, kedua makam fana, ketiga makam mahabbah.

Berkata sebagian ulama: “Awal yang Allah lemparkan pada hati hamba-Nya yang Allah kehendaki memilih hamba itu adalah cinta kepada Allah”.

Ini adalah modal. Kalau Allah ingin mengangkat orang itu jadi wali, maka pertama yang dimasukkan Allah ke hati orang itu adalah cinta kepada Allah. Sebelum makam fana dan baqa tadi, inilah yang pertama.

Orang yang cinta senantiasa menunaikan kefarduannya, memperbanyak yang sunah-sunah, banyak berzikir, dia bersihkan dirinya dari yang tidak disukai oleh Allah, dan menghiasi dirinya dengan yang dicintai oleh Allah. Akhirnya dia mendapatkan cinta khusus dari Allah SWT.

Sebelum salat, memperbanyak amalan yang sunah. Maka mestinya kita diberi Allah cinta terlebih dahulu. Kalau sudah diberi cinta maka kita rajin beribadah yang fardu dan sunah. Sungguh-sungguh membersihkan diri dan  menghiasi diri dengan yang dicintai Allah.

Maka apabila Allah sudah cinta kepadanya, Allah beri makam fana. Apabila sudah diberi fana, selanjunya akan diberi makam baqa (maka dia bisa melihat Allah dan ciptaannya). Maka jadilah hamba adalah hamba yang kenal dengan Allah, wali bagi Allah SWT.

Inilah jalan untuk menuju makam wali (kenal dengan Allah).

Makam baqa ini adalah makam mursyid (orang yang membimbing manusia) makamnya Rasulullah SAW. Seseorang tidaklah dikatakan mursyid kalau belum mencapai makam baqa, yakni dia memandang pada Allah dan dia memandang pada ciptaan Allah SWT.(*

Editor : Arief M
Tarbiyah