Oleh: H. Muhammad Tambrin
Muasis/Pendiri Ponpes Al Fatih Pelaihari Tala
“Barang siapa yang makrifat kepada Allah maka dia akan menyaksikan Allah dengan mata hatinya pada setiap sesuatu, dan barang siapa yang fana dengan Allah maka hilang dari dia setiap sesuatu.”
Hikmah ke-162 Al Hikam Al Atha’iyyah Imam Ahmad bin Atha’illah As Sakandari Rahimahullah
****
Disyarahkan oleh Al Mukarram Al Allamah Al Arif Billah KH Muhammad Bakhiet, Imam Ahmad Ibnu Attha’illah menyebutkan dalam hikmah ini dua makam yang mulia diberikan Allah kepada hamba-hamba yang terpilih dan mendapatkan kecintaan yang khusus yaitu makam baqa dan makam fana.
Makam baqa adalah menyaksikannya seorang hamba bahwa adanya makhluk itu dengan ada-Nya Allah Swt. Bukan dengan diri sendiri.
Dia melihat makhluk itu ada karena diadakan oleh Allah Swt, dia melihat makhluk itu berdiri dengan wujudnya Allah, artinya tanpa diadakan oleh Allah maka makhluk itu tidak ada, tanpa ditegakkan oleh Allah makhluk itu tidak akan tegak. Jadi, segala sesuatu yang dia lihat maka dia melihat bahwa makhluk itu adalah tidak bisa terlepas dari penciptanya.
Apa pun yang dia lihat maka dia melihat itu adalah dikehendaki oleh Allah dan diketahui oleh Allah. Jadi, orang yang berada di makam baqa ini adalah orang yang melihat makhluk dan melihat khalik dengan mata hatinya.
Melihat apa pun dia, ingat dengan Allah bahwa di sana nampak kudrat dan iradat Allah Swt. Karena sesuatu itu tidak akan ada tanpa diadakan oleh Allah Swt. Dan sesuatu itu tidak akan lestari tanpa ditopang oleh Allah Swt. Kita tidak akan lepas dari dua nikmat yaitu nikmat ijad (penciptaan) dan imdad (keberlangsungan).
Makam baqa ini adalah makam Rasulullah dan para siddiqin, orang-orang yang dekat dengan Allah Swt.
Dan makam baqa ini diberikan setelah seseorang mendapati makam fana. Adapun makan fana adalah hilangnya seorang hamba dari dirinya sendiri dan dari pada makhluk seluruhnya dan dia tidak menyaksikan apa pun pada alam semesta ini kecuali Allah Swt.
Untuk mendekatkan pemahaman kita, ada tiga kedudukan hamba. Pertama seperti orang yang berada di satu sisi gunung seperti orang awam yang hanya melihat pada makhluk, sehingga muncul segala penyakit hati, karena hanya melihat ciptaan, tanpa melihat sebab adanya ciptaan tersebut, yakni musabbib Allah Swt. Orang seperti ini yang berpendapat nasi mengenyangkan, obat mengobati, uang membuat senang.
Sementara orang yang berada di puncak gunung adalah orang yang berada di makam fana. Dia tidak melihat kiri kanan depan belakang, dia hanya melihat Allah. Orang di makam fana tidak bisa makan dan minum, dia tidak mengingat apa pun selain Allah. Ketika orang yang fana ini turun ke sisi kiri gunung maka di sini lah makam baqa.
Jadi, orang yang ada di makam baqa itu sekilas sama dengan orang yang awam, sama-sama di posisi bawah gunung, tetapi orang baqa tidak lepas dari mengingat Allah sebagai pencipta segala makhluk, sedangkan orang awam ini yang dia ingat hanya makhluk lupa kepada khaliknya.
Perbedaan makam fana dan baqa adalah makam fana hanya ingat kepada khalik, sedangkan makam baqa adalah yang sempurna karena dia melihat yang dicipta dan mencipta.
Seorang hamba tidak akan bisa mencapai kedua makam yang mulia ini kecuali sesudah membersihkan dirinya dari sifat tercela dan menghiasi dirinya dengan sifat yang terpuji. Ini tidak bisa direkayasa, semuanya melalui proses dari dasar ke puncak.
Misalnya sifat tercela seperti cinta dunia harus diganti dengan sifat zuhud, tidak akan sampai ke makam fana orang yang cinta dunia. Orang yang sombong diganti dengan sifat tawadu’, dendam diganti dengan pemaaf, dengki diganti dengan nasihat, lupa diganti dengan zikir, riya diganti dengan ikhlas, kikir diganti dengan pemurah. Sifat-sifat yang baik menghiasi diri sehingga kita akan dibawa naik oleh Allah kepada maqam fana. Wallahu a’lam. (*)
Editor : Arief M