Oleh: H. Muhammad Tambrin
Muasis/Pendiri Ponpes Al Fatih Pelaihari Tala
“Tenggelamkanlah pandangan makhluk kepada engkau dengan pandangan Allah kepadamu. Dan tenggelamkanlah daripada berhadapnya manusia padamu dengan berhadapnya Allah atas engkau.”
Hikmah ke-160 dan 161 Al Hikam Al Atha’iyyah Imam Ahmad bin Atha’illah As-Sakandari Rahimahullah
****
Disyarahkan oleh Al Mukarram Al Allamah Al Arif Billah KH Muhammad Bakhiet, maksud dari hikmah ke 161 ini adalah janganlah kita memperhatikan kepada pandangan makhluk dan menginginkan agar manusia memperhatikan kita. Tetapi perhatikanlah pandangan Allah kepada kita, bahwa Allah itu melihat setiap keadaan kita. Allah mengetahui atas yang paling tersembunyi dari yang tersembunyi dari keadaan kita. Sedangkan manusia tidak mengetahui dari diri kita melainkan yang tampak saja.
Mementingkan pandangan Allah inilah salah satu obat untuk menghilangkan sifat riya. Sehingga riya hilang sedikit demi sedikit dan amal yang kita kerjakan ikhlas karena Allah.
Allah Swt. Berfirman: "Tidaklah dia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat (segala perbuatannya)?" (Al Alaq: 14)
Berfirman-Nya pula: Dan apakah Tuhanmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu?" (Fushilat: 53)
Jadi, hendaknya kita merasa cukup ibadah kita disaksikan oleh Allah, perkara orang lain tahu atau tidak jangan jadi masalah, cukup saja Allah tahu karena Dia yang membalas. Orang lain tidak akan membalas apa yang kita kerjakan daripada ibadah itu.
Apabila Allah telah memandang kepada kita dengan pandangan kasih sayang dan cinta, maka tidaklah akan memudaratkan pandangan manusia meski dengan bala dan kebencian. Maknanya walaupun seluruh manusia di muka bumi ini memandang kita dengan sinis, maka seluruh pandangan makhluk itu tidak akan memudaratkan kita.
Sebaliknya, jika Allah memandang dengan pandangan bala dan kebencian, maka tidaklah berguna sedikit pun pandangan manusia, meski dengan penuh kasih sayang.
Ini adalah dalil yang utama, bahwa tidak perlu pandangan manusia dalam hal beribadah.
Allah Swt. Berfirman: Dan jika Allah menimpakan suatu bencana kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tidak ada yang dapat menolak karunia-Nya. Dia memberikan kebaikan kepada siapa saja yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya. Dia Maha Pengampun, Maha Penyayang." (Yunus: 107)
Walau seluruh alam menghalangi kita agar tidak naik derajatnya, tapi jika Allah menghendaki, maka itu terjadi. Ini yang menguatkan kita bahwa beribadah hanya karena Allah, karena itulah yang bermanfaat kepada kita.
Nabi Saw pernah berpesan kepada Ibnu Abbas sepupu beliau yang kemudian meriwayatkan hadis ini.
Dari Abul ‘Abbas ‘Abdullah bin ‘Abbâs Radhiyallahu anhuma , ia mengatakan, “Pada suatu hari, aku pernah dibonceng di belakang Nabi Saw, lalu beliau bersabda, ‘Wahai anak muda, aku akan mengajarkan kepadamu beberapa kalimat: ‘Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu. Jagalah Allah, maka engkau akan mendapati-Nya di hadapanmu.
Jika engkau memohon (meminta), mohonlah kepada Allah, dan jika engkau meminta pertolongan, mintalah pertolongan kepada Allah. Ketahuilah, bahwa seandainya seluruh umat berkumpul untuk memberi suatu manfaat kepadamu, maka mereka tidak akan dapat memberi manfaat kepadamu, kecuali dengan sesuatu yang telah ditetapkan Allah untukmu.
Sebaliknya, jika mereka berkumpul untuk menimpakan suatu kemudharatan (bahaya) kepadamu, maka mereka tidak akan dapat menimpakan kemudharatan (bahaya) kepadamu, kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan atasmu. Pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering.’” (HR. at-Tirmidzi)
Maksud menjaga Allah di sini adalah menjaga hukum-hukum Allah, menjaga yang diperintahkan untuk dikerjakan dan menjauhi larangan Allah. Kalau kita memelihara ini, walaupun kita tidak meminta maka kita sudah dipelihara Allah. Kalau sebaliknya, walaupun meminta kita tidak akan diterima dan dijaga.
Ulama pensyarah hadist kemudian menjelaskan, meminta sesuatu ini ada dua keadaan. Pertama sesuatu yang kita tidak boleh meminta, kecuali hanya kepada Allah, seperti kesehatan, keafiatan, kemakmuran, takwa, iman, islam, ihsan. Jangan meminta kepada seorang jua pun. Bahkan kepada awli sekalipun, misalnya: wahai wali berilah hamba husnul khatimah. Maka ini tidak boleh.
Kedua, sesuatu yang secara adat berlaku kepada manusia dan kita boleh meminta, tetapi sebelumnya kita diperintahkan untuk meminta agar diberikan kemudahan oleh Allah.
Misalnya, minta mengangkat barang yang berat dan kita minta tolong kepada buruh panggul. Maka jangan meminta ‘Ya Allah bawakan barang saya’, kata seperti ini tidak dibenarkan. Harusnya seperti ini, ‘Ya Allah mudahkanlah agar barang hamba sampai ke tempat hamba’, baru minta tolong kepada buruh.
Selanjutnya dalam hikmah ke-161 Imam Ahmad bin Atha’illah melanjutkan, “Dan tenggelamkanlah daripada berhadapnya manusia padamu dengan berhadapnya berhadapnya Allah atas engkau.”
Artinya jangan sampai kita menghendaki berhadapnya manusia kepada kita dan memintanya. Tetapi yang diharapkan adalah berhadapnya Allah atas diri kita.
Kita cari cara agar Allah menghadap (memandang kepada, Red) kita, sayang dan ridha kepada kita. Jangan mencari yang disenangi manusia, berhadap kepada kita dan memberi penilaian bagus, jangan. Sudah dijelaskan tadi jika pun manusia seluruhnya memuliakan kita tapi jika Allah merendahkan kita maka tidak akan mulia. Jadi, tiada guna ibadah kita kalau mengharapkan penghormatan manusia.
Beliau juga menasihatkan agar tidak peduli dengan berhadapnya atau membelakanginya manusia. Misalnya ada orang yang mengolok-olok ataupun memuji jangan peduli. Karena cukuplah sudah pandangan Allah kepada kita.
Kalau bisa demikian, maka inilah ikhlas dalam beribadah. Tidak peduli ibadah itu dilaksanakan di tengah manusia ataupun di tempat sunyi, tidak memberi pengaruh kepada orang yang demikian, kecuali hanya berhadapnya ia kepada Allah Swt.
Selama kita masih berkepentingan dengan manusia, kita beranggapan manusia bisa memberikan manfaat dan mudarat, maka ini sudah tidak bisa ikhlas. Di tengah manusia baik, kalau tidak ada manusia keluar sifat aslinya yang buruk.
Banyak di antara kita bagus dalam pergaulan di masyarakat dan organisasi misalnya, tapi istrinya tahu bahwa suaminya sangat pemarah. Di rumah adalah sifat aslinya.
Jangan pula kita mencari keridhaan manusia, tapi berharaplah ridha Allah. Sebab mencari ridha manusia pasti tidak akan cukup seluruh badan dan waktu kita, tidak akan cukup.
Maka janganlah kita mencari yang tidak bisa kita gapai. Tetapi haraplah ridha Allah atas diri kita, karena menyenangkan Allah tidak sulit, Tuhan hanya satu, tidak sulit menyenangkan yang satu. Yang sulit itu menyenangkan orang banyak.
Semoga kita bisa menjadi orang yang ikhlas dalam beribadah kepada Allah Swt. (*)
Editor : Arief M