Menjaga Amal dari Riya, Perkara yang Sangat Berat dan Wajib Dihilangkan Dalam Hati

admin • Dipublikasikan Kamis, 3 September 2026 | 22:38 WIB
H. Muhammad Tambrin (tengah)
H. Muhammad Tambrin (tengah)

 Oleh: H. Muhammad Tambrin
Muasis/Pendiri Ponpes Al Fatih Pelaihari Tala

“Keinginanmu untuk diketahui manusia, tentang suatu keistimewaan yang ada pada dirimu, merupakan bukti/dalil atas ketidakbenaran pada kehambaan engkau.”

Hikmah Ke-159 Al Hikam Al Atha’iyyah Imam Ahmad bin Atha’illah As-Sakandari Rahimahullah

        ****

Disyarahkan oleh Al Mukarram Al Allamah Al Arif Billah KH Muhammad Bakhiet, apabila Allah Swt telah memberikan kepada engkau suatu kelebihan seperti wara’ yakni menjauhi segala sesuatu baik perkataan dan perbuatan yang subhat.

Kemudian zuhud yang lebih tinggi makamnya dari wara, artinya adalah orang-orang yang meninggalkan yang halal karena khawatir bahwa mengganggu hubungannya dengan Allah, ma’rifat atau karamah, kemudian engkau mengingini bahwa manusia tahu dengan kelebihan itu, maka yang demikian itu menunjukkan atas adanya riya yang tersembunyi dalam hati engkau dan itu bukti bahwa engkau tidak benar menjadi hamba Allah Swt.

Jadi, kita ingin tahu bahwa kita punya keistimewaan, maka jika demikian kita ada riya yang tersembunyi di dalam hati dan pertanda bahwa kita belum benar jadi hamba Allah.

Misalnya, kita salat tengah malam (tahajud) ini adalah keistimewaan karena tidak sembarang orang bisa bangun tengah malam salat tahajud, lalu dia ingin orang lain tahu bahwa dia ahli tahajud, sekalipun tidak ada yang tahu hanya ingin, maka yang demikian itu tahajudnya ada riya dan dia belum benar menjadi hamba Allah.

Sama halnya dengan sedekah, hadiah, wakaf, dia ingin orang lain tahu bahwa dia yang bersedekah, berhadiah, berwakaf dia ingin orang tahu dia yang bersedekah. Maka ibadah ini adalah mengandung riya yang tersembunyi di dalam hatinya dan kehambaanya tidak benar.

Begitu pula dengan ibadah-ibadah yang lain. Karena jika benar kehambaan niscaya tidak suka melihat amal-amal tersebut diketahui oleh selain Allah Swt.

Artinya, kelebihan diri itu baik dikisahkan kepada orang ataupun tidak, tetapi hanya hatinya ingin orang tahu maka berarti kehambaannya tidak benar.

Berkata Imam Ahmad bin Abdul Khawari: “Barang siapa suka/ingin dia dikenal dengan sesuatu kebaikan atau dia ingin disebut dengan kebaikan berarti dia telah menyekutukan pada ibadahnya itu kepada Allah Swt.”

Jika dia ingin namanya disebut sebagai orang yang berbuat kebaikan, baik itu diutarakannya atau terbersit hatinya ingin seperti itu.

Misalnya, seseorang berwakaf satu juta dan hatinya ingin diumumkan walaupun tidak dia utarakan keinginannya itu, maka berarti dia telah menyekutukan Allah dalam ibadahnya.

Jadi, riya itu banyak macamnya, ada yang besar dan nada yang kecil seperti contoh ini, riya tersembuyi.

Barang siapa yang ingin bahwa mengetahui manusia atas amalnya, maka itulah yang dinamakan riya. Dan barang siapa yang menginginkan atas hal-nya, maka dia adalah seorang pendusta (dalam hal itu).”

Misalnya, orang yang diberi Allah hal fana dan dia ingin orang tahu bahwa dia mempunyai hal itu, maka itu bukan hal namanya. Karena kalau orang yang benar mempunyai hal yang benar dia tidak akan suka diketahui oleh selain Allah Swt.

Kalau kita tidak ingin diketahui manusia lalu orang-orang tahu maka hal itu tidak jadi masalah, karena Allah yang mengumumkan kepada sekalian hambanya sehingga menjadi tahu.

Kita hanya fokus dengan ibadah kepada Allah, tidak menghendaki orang tahu dengan ibadah itu dan kita gembira karena Allah lalu kita bersyukur kepada Allah maka ini kebaikan yang berlipat ganda. Asal jangan sampai seperti awal tadi kita yang ingin untuk orang tahu sekalipun tidak kita tampakkan keinginan kita itu.

“Maka wajib atas seorang hamba apabila diberi keistimewaan oleh Allah maka wajib atasnya menyembunyikannya dan merahasiakannya kecuali kepada gurunya atau kepada muridnya.

Seperti perkataan Sayyidina Isa As:  “Apabila puasa salah seorang kamu minyakilah janggutmu, basahilah bibirmu sehingga kalau kamu keluar rumah orang mengira kamu tidak puasa.”

Puasa ini satu keistimewaan, maka kita diperintahkan untuk menutupinya itu.

Kepada guru kita boleh membuka keistimewaan yang sudah pernah ia alami yang diberikan oleh Allah Swt. Misalnya, bermimpi Rasulullah Saw. di dalam tidurnya maka ceritakan saja kepada sang guru. Maka dengan menceritakan kepada guru akan diberi nasehat dan petunjuk bagaimana menanggapi tentang hal yang dialaminya.

Seorang guru juga bisa membuka kelebihannya kepada muridnya tapi tidak semua murid, murid yang ditampakkan keistimewaan ini adalah murid yang mungkin belum memantapkan berguru dengan guru itu sendiri, maka untuk memantapkan dia berguru dengan guru yang tepat maka seorang guru memperlihatkan keistimewaannya.

Jika dia menampakan kelebihan bukan kepada guru atau murid maka dia dalam bahaya yang besar (meruntuhkan amal ibadahnya).

Kecuali bila adalah seorang hamba itu sudah mantap ma’rifatnya kepada Allah, musyahadah wahdaniyah kepada Allah mendarah daging maka orang ini tidak jadi masalah membuka kelebihan-kelebihan dirinya karena tidak dikhawatirkan lagi bersifat riya.

Ada sebagian ulama dahulu berkata, aku salat malam tadi sekian ratus sampai ribu rakaat dan membaca Alquran sekian khatam, lalu dikatakan tidak takut riya kah kalau diceritakan? Celakalah kamu, apa pendapat engkau apakah bisa riya seseorang dengan amal orang lain?

Karena orang ini sudah tidak merasa lagi apa yang diperbuatnya ini (amal baik) bukan dari dirinya. Orang ini sudah dalam makam yang tidak ada berbuat kecuali Allah.

Maka orang yang sudah mantap dalam kedudukan ini walaupun bercerita tentang amal ibadahnya tidak akan terjerumus dalam riya karena dia merasa yang beramal bukan dia hanya semata-mata daya dan upaya Allah Swt. maka orang yang belum ada di makam ini akan riya apabila menceritakan amal kebaikannya itu.

Imam Abu Al-Quraisy berkata: “Setiap orang yang belum merasa cukup pada perbuatan dan perkataannya dengan pendengaran dan penglihatan Allah maka masuklah atasnya riya tidak terelakkan.”

Orang yang belum merasa cukup didengar dan dilihat Allah pasti dimasuki riya dalam ibadahnya. Kalau sudah merasa cukup akan hal itu maka sudah hilang riya di dalam hatinya.

Jadi, perkara riya ini perkara yang sangat berat dan wajib kita menghilangkannya di dalam hati kita, oleh karena itu para ulama berbagai macam cara dan teori untuk menghilangkan riya ini, baik lewat ilmu dan amal atau amal dan doa.

Pertama, amal kebaikan yang disembunyikan. Kedua, setiap kali kita beramal cukup Allah yang tahu (ilmu). Ketiga, amaliyah dan doa, Rasulullah Saw. memberikan satu doa kepada Abu Bakar As. Karena beliau khawatir kalau riya dalam beribadah, padahal sekelas beliau sudah bergelar As-Sidiq masih khawatir, bagaimana dengan kita? Apa doa yang diberikan Rasulullah yang bisa membersihkan sifat riya yang ada di dalam hatinya itu?

Jadi, artinya bahwa menghilangkan riya ini tidak cukup hanya dengan ilmu, maka perlu amaliyah doa, minta pertolongan kepada Allah.

“Ya Allah sesungguhnya aku berlindung dengan-Mu dari menyekutukan-Mu sedangkan aku tahu. Dan aku memohon ampunan dari-Mu bagi apa saja yang tidak aku ketahui.”

Setiap kali setelah salat baca lima kali sehari misalnya. Maka doa dan ilmu digabungkan untuk menghilangkan riya yang ada di dalam hati kita. (*)

Editor : Arief M
Tarbiyah