Melawan Riya, Ia Tetap Bisa Masuk Meski Tidak Dilihat Makhluk Dalam Beribadah

admin • Dipublikasikan Jumat, 28 Agustus 2026 | 10:04 WIB
H. Muhammad Tambrin
H. Muhammad Tambrin

Oleh: H. Muhammad Tambrin
Muasis/Pendiri Ponpes Al Fatih Pelaihari Tala

“Terkadang riya itu masuk pada dirimu dari arah yang tidak ada orang yang melihat kepadamu,"

Hikmah ke-158 Al Hikam Al Atha’iyyah Imam Ahmad bin Atha’illah As Sakandari Rahimahullah

                ****

Disyarahkan oleh Al Mukarram Al Allamah Al Arif Billah KH Muhammad Bakhiet, riya itu bisa masuk kepada kita sekalipun kita sendiri dan sedang tidak dilihat oleh makhluk dalam beribadah. Jadi, riya itu bukan hanya bisa masuk saat kita beribadah di tengah orang tetapi riya juga bisa masuk kepada kita saat beribadah padahal sedang sendirian.

Menurut pendapat sebagian ulama, riya itu adalah bermaksud menuju selain Allah dengan amal shaleh (ibadah), baik amal itu tampak bagi manusia atau tidak.

Sehingga jika perbuatan tersebut bukan ibadah dan kita bermaksud menuju selain Allah, maka bukan dinamakan riya. Misalnya, seorang memakai pakaian bagus dan tujuannya agar dipuji dan disanjung manusia, maka itu bukan riya. Karena memakai pakaian bagus bukan amal shaleh.

Riya ada tiga macam. Pertama, dia bermaksud menuju makhluk dengan amal shalehnya, jikalau tidak ada makhluk niscaya dia tidak beramal.

Ini adalah bentuk riya terbesar. Dia beribadah bukan termotivasi oleh perintah Allah dan mengharapkan balasan-Nya, tetapi beribadah karena makhluk dan dia mengharapkan balasan dari makhluk berupa pujian ataupun materi.

Kedua, dia beribadah kepada Allah tujuannya untuk dipuji, disanjung, dihormati dan dicintai oleh manusia sekalipun orang lain tidak melihat apa yang dia lakukan. Misalnya, ada orang yang membaca satu surah, tujuannya untuk dihormati oleh manusia. Sekalipun dia beramal sedang sendiri dan orang tidak melihatnya. Inilah yang dimaksud dalam hikmah ini.

Setiap riya itu tidak akan mendapatkan balasan dari Allah akan tetapi diancam dengan siksa. Lalu jika dia mengamalkan amalan yang di atas tadi agar dapat kemuliaan dan sebagainya dan berhasil, maka ini bukan diterima amalnya tetapi ini adalah bentuk lanjuran (istidraj) dari Allah Swt.

Ketiga, dia beramal karena Allah dan dia berharap dengan amal itu masuk surga dan selamat dari neraka, ini pun menurut orang arif adalah riya karena ibadahnya bukan karena Allah walaupun di kalangan orang awam dari muslimin masih bisa dikatakan ikhlas.

Bagi orang-orang riya ada beberapa tanda, di antaranya rajin beribadah saat di keramaian dan malas saat sendirian.

Misalnya, salat kalau orang banyak rajin, tapi kalau sendirian malah malas, walaupun masih salat juga. Berarti riya tingkat rendah. Yang bahaya tadi sudah riya tingkat atas, dia beramal kalau ada orang dan tidak beramal kalau tidak ada orang.

Tanda riya pula jika rajin ketika dipuji dan malas ketika dicela. Misalnya, salat berjamaah kalau dipuji bertambah rajin, sedangkan saat dicela dia malas dan hilang semangat dalam berjamaah. Dicela jadi malas saja sudah masuk riya, apalagi sampai meninggalkan ibadahnya.

Atau dia memantapkan amal ketika dilihat manusia dan sebaliknya sembarangan dalam beramal kalau tidak ada manusia.

Misalnya, saat baca surah dalam salat. Saat ada orang dia bagus dalam bacaannya, saat tidak ada orang dia sembarangan saja, maka jika demikian ada alamat riya dalam ibadahnya itu.

Rasulullah Saw. bersabda: Artinya: “Sesungguhnya paling Aku takutkan atas kalian itu adalah syirik yang kecil, para sahabat bertanya: apa syirik kecil itu ya Rasulullah? Beliau menjawab: riya.”

Kenapa dikatakan syirik? Secara zahir dia beribadah dan menyembah Allah, tetapi hatinya bukan menuju kepada Allah, hatinya menuju kepada makhluk mengharapkan pujian, pemberian dan penghormatan dari manusia, ini menyekutukan Allah.

Sabda Nabi Saw., lagi: Artinya: “Allah tidak menerima amal ibadah yang pada ibadah itu  ada sekecil dzarrah sekalipun dari riya.”

Imam Al-Ghazali ditanya, bagaimana kita menghadapi suatu masalah, saat beramal ada riya atau tidak beramal sama sekali? Beliau menjawab: Beramal lah seriya-riyanya, sambil berusaha sedikit demi sedikit menghilangkan riya itu. Karena tujuan iblis yang utama adalah membuat kita tidak beramal lagi.

Iblis membisikan was-was di dalam hati kita saat beramal ada riya, ‘kamu beramal ada riya sia-sia saja bahkan akan mendapatkan siksa, kalau tidak beramal aman tidak ada riya’. Maka bisikan ini harus dilawan, minta pertolongan kepada Allah beramal dan dapat menghilangkan riya yang ada di hati.

Bahwa awal manusia yang diputuskan atasnya pada hari kiamat seseorang yang mati syahid, maka didatangkan dengannya Allah perkenalkan dengannya nikmat Allah maka dia kenal, Allah berfirman: Apa yang kamu lakukan pada nikmat yang kuberikan kepada kamu itu? Untuk apa kamu gunakan semuanya? Dia menjawab: nikmat itu hamba gunakan untuk berperang dengan orang kafir pada jalan engkau, sehingga mati syahid.

Allah menjawab: Kamu berbohong, kamu berperang bukan untuk itu tetapi untuk kamu dikatakan bahwa kamu pemberani. Akhirnya orang ini diperintahkan Allah ditarik wajahnya lalu dilemparkan ke dalam api neraka.”

Jadi, artinya bahwa kalau kita beribadah kepada Allah tetapi tujuan kita bukan Allah, maka ibadah itu ditolak bahkan sampai disiksa dengan siksa api neraka.

Demikian pula dalam lanjutan hadis itu disebutkan orang-orang kaya raya ditanya oleh Allah dengan semua nikmat itu untuk apa kamu gunakan? Maka dijawab: hamba sosial kan di jalan engkau membuat masjid, sekolah, rumah sakit dan jembatan, Allah jawab lagi: kamu pendusta, kamu lakukan semua itu adalah agar kamu disebut orang bahwa kamu pemurah, dan itu sudah tercapai di dunia dianggap orang pemurah dan sosial, sekarang kamu hanya tinggal menunggu azab neraka. Inilah resiko orang yang beribadah tanpa ada usaha untuk menghilangkan riya itu.

Jadi, kalau kita beribadah kepada Allah dengan ada riya tetapi kita sembari berusaha untuk menghilangkan riya nya. Sedikit demi sedikit untuk menghilangkan riya nya sampai semuanya hilang, maka orang seperti ini akan dipertimbangkan oleh Allah karena usahnya untuk menghilangkan riya nya.

Menurut sebagian ulama: "Ikhlas itu kamu beribadah kepada Allah semata-mata menjunjung perintah dan mengharapkan keridhaan Allah.”

Ibadah apa pun yang kita laksanakan ibadah zahir maupun batin itu semua dilakukan semata-mata hanya menjunjung perintah Allah dan mengharapkan ridha Allah Swt. Maka orang yang seperti dalam ibadahnya, akan datang sendiri kemuliaan yang diberikan oleh Allah tanpa dipinta.

Bahkan orang yang berharap dengan kemuliaan itu, kemudian beramal, belum tentu dia akan mendapatkannya. Dan ini orang akan masuk surga dan selamat dari neraka walaupun tidak ada pengharapan untuk itu.

Jadi, biasakanlah saat beribadah dengan niat menjunjung perintah Allah dan berharap keridhaan Allah hilangkanlah tujuan lain dan fadilat amal lainnya, kemuliaan itu akan mengikut di dunia dan akhirat.

Semoga tidak ada lagi kita beribadah itu berharap selain daripada ridha Allah Swt.

Jangan salah diartikan orang yang hanya mengerjakan suatu ibadah itu menjunjung perintah Allah dan mengharapkan keridhaan Allah tidak memanjatkan doa meminta suatu hajat kepada Allah, bukan.

Yang dimaksudkan di sini adalah saat kita beribadah kepada Allah dengan suatu ibadah mengharapkan hanya satu keridhaan Allah maka hajat-hajat yang lain pasti masuk dalam keridhaan Allah Swt. (*)

Editor : Arief
Tarbiyah