Lihat Baliho di Marabahan ! Warga Handil Bakti Mendadak Ikut Baayun Maulid di Banua Halat Tapin

Rasidi Fadli • Dipublikasikan Selasa, 25 Agustus 2026 | 11:02 WIB
MENDAFTAR: Ibrahim bersama keluarganya dari Handil Bakti mendaftar mengikuti prosesi Baayun Maulid di Banua Halat Tapin hari ini.
MENDAFTAR: Ibrahim bersama keluarganya dari Handil Bakti mendaftar mengikuti prosesi Baayun Maulid di Banua Halat Tapin hari ini.

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, RANTAU – Tak ada rencana bagi Ibrahim dan keluarganya untuk mengikuti Baayun Maulid di Masjid Keramat Al Mukaromah, Desa Banua Halat, Kecamatan Tapin Utara, Selasa (25/8/2026).

Pagi itu, warga Handil Bakti tersebut sedang dalam perjalanan menuju Amuntai untuk mengunjungi keluarga. Ia bersama empat orang rombongan melintas dari arah Handil Bakti.

Namun, perjalanan itu tiba-tiba berubah setelah Ibrahim melihat baliho Baayun Maulid di kawasan Marabahan.

Alih-alih langsung melanjutkan perjalanan, ia spontan mengajak keluarganya mampir ke Banua Halat. Anak Ibrahim yang baru berusia 10 bulan pun dibawanya untuk mengikuti tradisi Baayun Maulid.

“Awalnya dari Handil Bakti mau ke Amuntai, ke mertua. Melihat baliho di Marabahan, habis itu tiba-tiba mau Baayun di sini. Sebelumnya tidak berencana apa-apa,” ujarnya.

Dari Perjalanan ke Amuntai, Berujung di Banua Halat

Keputusan spontan tersebut sekaligus menjadi pengalaman pertama Ibrahim datang ke Banua Halat.

Ia mengaku sebelumnya belum pernah mengikuti Baayun Maulid di kawasan tersebut. Pengetahuannya tentang tradisi Baayun Maulid selama ini justru lebih dekat dengan pelaksanaan di Masjid Sultan Suriansyah, Banjarmasin.

“Baru pertama kali ke sini. Bahkan pertama kali tahun di Banua Halat ada Baayun, tahunya di Masjid Sultan Suriansyah,” katanya.

Meski datang tanpa persiapan khusus, Ibrahim akhirnya menjadi salah satu dari ribuan orang yang mengikuti tradisi tersebut.

3.050 Peserta, dari Bayi hingga Lansia

Baayun Maulid di Masjid Keramat Al Mukaromah tahun ini diikuti 3.050 peserta dari berbagai daerah.

Peserta datang bukan hanya dari wilayah Tapin dan kabupaten/kota lain di Kalimantan Selatan. Bahkan, peserta dengan jarak tempuh paling jauh tercatat berasal dari Jakarta, yakni Muzdalifah.

Rentang usia pesertanya pun mencerminkan kuatnya daya tarik tradisi tersebut.

Peserta tertua adalah Hj Faridah, warga Banjarmasin, yang berusia 90 tahun. Sementara peserta termuda adalah Naura Kiftia dari Kecamatan Tapin Utara yang baru berusia 15 hari.

Di antara ribuan peserta itu, Ibrahim menjadi contoh bagaimana daya tarik Baayun Maulid mampu membuat orang mengubah rencana perjalanan hanya karena melihat sebuah baliho.

Tradisi yang Masih Menarik Perhatian

Pelaksanaan Baayun Maulid juga diisi ceramah agama oleh KH Ahmad Syairazi, pengasuh Pondok Pesantren Dalam Pagar Kandangan sekaligus Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Kalimantan Selatan masa khidmat 2026–2031.

Antusiasme masyarakat yang datang dari berbagai daerah menunjukkan Baayun Maulid di Banua Halat masih memiliki daya tarik kuat.

Bahkan, tidak semua peserta datang dengan rencana sejak jauh-jauh hari. Ada yang seperti Ibrahim, awalnya hanya hendak berkunjung ke keluarga di Amuntai, tetapi akhirnya berbelok menuju Banua Halat setelah melihat informasi kegiatan di perjalanan.

Dari sebuah baliho di pinggir jalan, perjalanan Ibrahim berubah menjadi pengalaman mengikuti salah satu tradisi keagamaan dan budaya masyarakat Banjar yang masih terus hidup hingga kini.

Editor : Eddy Hardiyanto
Banua Halat Baayun Maulid Tapin Baliho