Baayun Maulid di Banua Halat Tapin Diikuti 3.050 Peserta ! Bayi 15 Hari hingga Lansia 90 Tahun Ikut

Rasidi Fadli • Dipublikasikan Selasa, 25 Agustus 2026 | 10:55 WIB
PROSESI BAAYUN MAULID: Baayun Maulid di Masjid Keramat Al Mukaromah Kabupaten Tapin diikuti ribuan peserta, termasuk pejabat.
PROSESI BAAYUN MAULID: Baayun Maulid di Masjid Keramat Al Mukaromah Kabupaten Tapin diikuti ribuan peserta, termasuk pejabat.

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, RANTAU – Ribuan ayunan memenuhi kawasan Masjid Keramat Al Mukaromah, Desa Banua Halat, Kecamatan Tapin Utara, Kabupaten Tapin, Selasa (25/8/2026).

Sebanyak 3.050 peserta mengikuti tradisi Baayun Maulid untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW. Menariknya, peserta berasal dari rentang usia yang sangat lebar, mulai dari bayi berusia 15 hari hingga lansia 90 tahun.

Tradisi yang menjadi bagian dari warisan budaya masyarakat Banjar itu kembali mempertemukan berbagai generasi dalam satu kegiatan keagamaan dan kebudayaan.

Bayi 15 Hari Jadi Peserta Termuda

Ketua Panitia Pelaksana Ahmad Suriansyah mengatakan peserta termuda dalam Baayun Maulid tahun ini adalah Naura Kiftia, warga Kecamatan Tapin Utara.

Usianya baru 15 hari ketika mengikuti tradisi tersebut.

Sementara peserta tertua adalah Hj Faridah, warga Banjarmasin, yang berusia 90 tahun.

“Yang tertua umur 90 tahun dari Banjarmasin atas nama Hj Faridah. Yang paling muda berusia 15 hari, dari Kecamatan Tapin Utara atas nama Naura Kiftia,” ujarnya.

Bukan hanya masyarakat dari Tapin dan daerah lain di Kalimantan Selatan yang ambil bagian. Baayun Maulid Banua Halat juga menarik peserta dari luar daerah.

Peserta dengan jarak tempuh paling jauh tercatat berasal dari Jakarta, yakni Muzdalifah.

Ribuan Ayunan Penuhi Masjid Keramat

Sejak pagi, kawasan Masjid Keramat Al Mukaromah dipadati masyarakat. Ribuan ayunan berjajar dan menjadi pemandangan khas dalam pelaksanaan Baayun Maulid.

Peserta datang bersama keluarga. Anak-anak hingga orang tua turut mengikuti prosesi, sekaligus memanjatkan doa dan harapan melalui tradisi yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Banjar.

Suasana semakin khidmat dengan ceramah agama yang disampaikan KH Ahmad Syairazi, pengasuh Pondok Pesantren Dalam Pagar Kandangan sekaligus Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Kalimantan Selatan masa khidmat 2026–2031.

Bukan Sekadar Tradisi

Bupati Tapin H Yamani mengatakan Baayun Maulid memiliki nilai spiritual dan filosofis yang kuat bagi masyarakat Banjar.

Menurutnya, tradisi tersebut tidak hanya menjadi bentuk rasa syukur, doa, dan harapan bagi anak-anak. Lebih dari itu, Baayun Maulid menjadi sarana menanamkan nilai agama dan akhlak dalam kehidupan.

“Saya mengajak kita semua untuk menjadikan akhlak Rasulullah SAW sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari,” katanya.

Di tengah perkembangan zaman yang semakin cepat, Yamani menilai nilai-nilai keagamaan, kesopanan, gotong royong, dan kepedulian terhadap sesama harus terus dijaga.

“Prosesi Baayun Maulid merupakan salah satu tradisi keagamaan dan budaya masyarakat Banjar yang memiliki nilai spiritual dan filosofis yang kuat,” ujarnya.

Dari Bayi hingga Lansia, Semua Ikut Mengayun

Rentang usia peserta menjadi salah satu gambaran kuat bahwa Baayun Maulid masih memiliki tempat di hati masyarakat.

Bayi yang baru berusia 15 hari hingga lansia 90 tahun berada dalam satu rangkaian tradisi. Perbedaan usia, daerah asal, dan latar belakang seolah melebur dalam suasana keagamaan.

Yamani berharap Baayun Maulid tidak berhenti sebagai kegiatan tahunan atau sekadar seremoni.

“Tradisi ini jangan hanya menjadi kegiatan seremonial, tetapi terus hidup dan diwariskan kepada generasi berikutnya,” tegasnya.

Ia juga berharap antusiasme masyarakat terus meningkat setiap tahun. Sebab, melalui Baayun Maulid, masyarakat tidak hanya mempertahankan warisan budaya Banjar, tetapi juga menjaga nilai-nilai keagamaan yang terkandung di dalamnya.

Tahun ini, 3.050 orang mengayun dalam satu tradisi. Dari bayi 15 hari hingga nenek 90 tahun, semuanya menjadi bagian dari cerita bahwa Baayun Maulid masih hidup dan terus diwariskan lintas generasi.

Editor : Eddy Hardiyanto
Banua Halat Baayun Maulid Tapin Peserta