Oleh: H. Muhammad Tambrin
Muasis/Pendiri Ponpes Al Fatih Pelaihari Tala
“Bermula bagian hawa nafsu dalam perbuatan maksiat itu lebih jelas dan tampak, dan bagian nafsu di dalam ketaatan itu samar tersembunyi, dan untuk mengobati sesuatu yang tersembunyi itu sulit untuk menyembuhkannya.”
Hikmah ke-157 Al Hikam Al Atha’iyyah Imam Ahmad bin Atha’illah As Sakandari Rahimahullah
****
Disyarahkan oleh Al- Mukarram Al- Allamah Al- Arif Billah KH. Muhammad Bakhiet, nafsu kita ini mendorong kita pada kemaksiatan, karena di situ ada kesenangannya. Tapi terkadang nafsu bisa juga mengajak kepada ketaatan, ini adalah suatu yang mesti diwaspadai dan dicermati, barangkali ada ibadah kita yang bukan karena Allah Swt. Sebab sudah menjadi fitrah nafsu menuntut bagian dari sesuatu yang datang dari dorongannya.
Artinya: “Dan bermula kesenangan nafsu itu dalam kemaksiatan nampak dan jelas seperti bersenang-senang dengan yang diharamkan Allah dan meninggalkan yang diwajibkan Allah.”
Dorongan nafsu dalam satu kemaksiatan jelas dan tampak, bersenang-senang dengan yang diharamkan Allah, meninggalkan yang diwajibkan Allah, karena nafsu ini suka berleha-leha dan santai, inilah kesenangan nafsu dengan tidak ada beban dan kewajiban.
Tetapi mengobati nafsu dalam hal ini mudah, asal mau berobat. Kalau nafsu kita mengarah kepada maksiat, asal mau bertobat, maka memperbaiknya mudah.
Sedangkan dorongan nafsu dalam ketaatan, seperti menuntut karamah dan ingin mengetahui perkara-perkara gaib. Seperti menyukai mendapatkan keistimewaan di sisi Allah dan kedudukan di sisi manusia, maka bagian nafsu dalam hal seperti ini batin lagi tersembunyi.
Seorang yang rajin dalam ibadah, tapi ada keinginan nafsu untuk dapat karamah dari Allah, inilah bagian nafsu dalam sebuah ketaatan. Kemungkinan kita tidak menyadari, dirasa itu baik melaksanakan taat, tetapi diiringi karamah dari Allah, maka ini bagian dari nafsu dalam sebuah ibadah.
Mengobati kondisi ini lebih sulit dari yang pertama. Beribadah kepada Allah ingin keistimewaan dan ingin menjadi wali, maka ini adalah bagian nafsu yang lebih sulit untuk diobati.
Mengobati dorongan nafsu yang pertama mungkin dengan uzlah (menyendiri). Bisa uzlah kecil seperti tetap ada di kampung halaman, tetapi menghindari pergaulan selain yang diwajibkan dan disunahkan, seperti salat jemaah dan lainnya. Kemudian meninggalkan tempat-tempat orang jahat dan bersahabat dengan orang baik.
Perkataan ulama, siapa yang berteman dengan orang baik, maka dia akan jadi baik sekalipun dia jahat.
Karena selalu berteman dengan orang baik maka kelak dia akan jadi baik. Dia jadi banyak taat dan berzikir bersama orang baik tersebut, serta sering mendengar ayat-ayat Alquran dan Hadis Rasulullah.
Sebaliknya mengobati nafsu yang menyelinap dibalik ketaatan, tidak mempan hanya beruzlah atau banyak zikir dan taat. Karena orang ini ingin punya karamah dengan ibadahnya itu, sedang ibadahnya ada dorongan nafsu. Semakin banyak ibadah semakin ingin karamah dan keistimewaan dari Allah.
Maka tidak bisa memperbaiki kondisi ini, kecuali guru yang membimbingnya. Ibarat dokter spesialis, guru ini akan membuat resep amaliyah yang akan dapat mengobati muridnya yang menginginkan keistimewaan dalam ibadahnya. Dan saat guru memberikan suatu amalan dia tidak tahu faidahnya apa-apa, jadi apa pun yang disuruh untuk mengamalkan oleh guru dia manut-manut saja.
Menurut dengan keyakinan dirinya, apa pun yang diberikan gurunya pasti akan membawa kebaikan kepada dirinya, dengan demikian ini baru bisa disembuhkan.
Maka wajib atas seorang hamba itu berburuk sangka kepada nafsunya dan mengintainya. Di dalam hati kita ada keinginan dan melaksanakan satu ibadah, tapi ada bisikan baca Alquran, jangan selalu percaya dengan bisikan itu, kita renungkan ini bisikan nafsu atau apa? Dan ibadah apa pun itu sama kalau ada bisikan jangan langsung percaya, barangkali nanti ada hal-hal yang akan mencelakakan kita.
Oleh karena itu, orang seperti ini harus benar-benar di bawah bimbingan seorang guru mursyid agar tidak tahu apa-apa tentang amalan yang dia kerjakan, pokoknya percaya dengan guru seratus persen, maka ini akan menghilangkan keinginan nafsu dalam ketaatan kepada Allah Swt.
Kemudian apabila membuat manis nafsunya pada suatu ketaatan, maka coba pindahkan ke taat yang lain, maka jika merasa berat, maka ketahuilah taat itu ada sesuatu yang dipengaruhi oleh nafsu, bukan untuk mencari keridhaan Allah Swt.
Satu taat dengan taat yang lainnya itu sama di sisi Allah, maka tidak ada yang berat, jika taatnya berbeda karena tujuannya satu mencari keridhaan Allah Swt.
Apalagi, amal yang kita pindah ini adalah amalan yang lebih diridhai Allah. Contoh seperti salat qadaan (hutang). Tapi saat melaksanakan salat ini malas, padahal kewajiban yang tertinggal. Sebaliknya salat sunah malah semangat setelah mendengar fadilat salat sunah. Maka ini jelas ada dorongan nafsu di dalamnya, bukan mencapai keridhaan Allah. Kalau niatnya ingin mencapai keridhaan Allah, maka sudah jelas ia akan melaksanakan salat qodaan terlebih dahulu.
Ulama juga pernah mengisahkan, seorang yang begitu rajin tawaf, ketika diminta ibunya untuk mengambilkan air, ia malas. Berarti tawaf ini tidak murni untuk mencapai keridhaan Allah karena ada sesuatu nafsu yang tersimpan di dalamnya. Jika benar untuk mencari keridhaan Allah maka ia akan melaksanakan perintah ibunya karena lebih besar ridhanya daripada melaksanakan tawaf.
Contoh lagi bersedekah, pahala yang besar itu bersedekah dengan ibu/bapak dan keluarga. Kadang kebanyakan kita juga lupa tentang hal ini malah bersedekah kepada orang yang tidak kenal sementara keluarga tidak dihiraukan.
Maka ini sudah jelas tidak ikhlas karena Allah, ada nafsu yang mendorong untuk itu, karena kalau ikhlas karena Allah pasti mendahulukan keluarga yang lebih afdhal di sisi Allah.
Itulah nafsu, setiap ibadah yang dicampuri nafsu akan merusak keikhlasan ibadah itu, padahal semestinya ibadah adalah semata-mata untuk mencapai keridhaan Allah. (*)
Editor : Arief