Haul ke-500 Sultan Suriansyah, Penyambung Sejarah Islam dan Banjar

Zulvan Rahmatan • Dipublikasikan Senin, 17 Agustus 2026 | 13:25 WIB
MENGENANG JASA: Peringatan Haul Agung Sultan Suriansyah ke-500 di Kompleks Makam Sultan Suriansyah di Jalan Kuin Utara, Banjarmasin Utara, Sabtu (15/8) malam. (Foto: Nurhidayat/Radar Banjarmasin)
MENGENANG JASA: Peringatan Haul Agung Sultan Suriansyah ke-500 di Kompleks Makam Sultan Suriansyah di Jalan Kuin Utara, Banjarmasin Utara, Sabtu (15/8) malam. (Foto: Nurhidayat/Radar Banjarmasin)

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, BANJARMASIN - Nuansa religius terasa kuat di Kompleks Makam Sultan Suriansyah, Jalan Kuin Utara, Banjarmasin Utara, Sabtu (15/8) malam. Ribuan jemaah memadati kawasan makam untuk mengikuti Haul Agung Sultan Suriansyah ke-500.

Salat berjemaah, pembacaan Maulid Nabi, tausiah, doa hingga zikir menjadi rangkaian utama kegiatan. Suasana khidmat menyelimuti lokasi ketika jemaah bersama-sama mendoakan tokoh yang memiliki peran penting dalam sejarah Banjar tersebut.

Haul ke-500 ini menjadi momentum mengenang Sultan Suriansyah, yang dikenal sebagai pendiri Kesultanan Banjar, sekaligus salah satu tokoh penting dalam perkembangan Islam dan terbentuknya identitas masyarakat Banjar.

Sejumlah pejabat, alim ulama dan perwakilan kesultanan dari berbagai daerah turut hadir dalam kegiatan tersebut.

Mewakili Gubernur Kalimantan Selatan, Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setdaprov Kalsel Ariadi Noor mengatakan haul tahun ini memiliki makna istimewa. Pasalnya, peringatan Haul Sultan Suriansyah ke-500 berlangsung bertepatan dengan usia Kota Banjarmasin yang juga memasuki 500 tahun. “Usia haul sama dengan Kota Banjarmasin yang mencapai 500 tahun. Sultan dengan kota sudah menjadi sebuah kesatuan,” ujarnya.

Lima Abad, Bukan Sekadar Angka

Menurut Ariadi, lima abad bukan waktu yang singkat. Dalam perjalanan selama 500 tahun tersebut tersimpan sejarah perjuangan, nilai keagamaan, kebudayaan hingga identitas masyarakat Banjar yang diwariskan lintas generasi.

Sultan Suriansyah, lanjutnya, tidak hanya penting dalam sejarah Kesultanan Banjar. Sosoknya juga menjadi bagian dari perjalanan awal berkembangnya Islam, sekaligus terbentuknya karakter masyarakat Banjar.

Karena itu, haul tidak seharusnya dimaknai sebatas mengenang tokoh masa lalu.

Lebih dari itu, momentum tersebut menjadi kesempatan untuk menggali kembali nilai keteladanan yang masih relevan bagi kehidupan masyarakat saat ini. “Memperingati haul berarti kita berupaya menghidupkan kembali nilai keteladanan yang dapat diwariskan kepada generasi sekarang dan mendatang,” katanya.

Ariadi menilai sejarah tidak boleh berhenti sebagai cerita yang tersimpan di buku. Perjalanan Kesultanan Banjar dapat menjadi bahan pembelajaran tentang kepemimpinan, keberanian, perjuangan, kecintaan kepada masyarakat hingga pentingnya nilai agama.

Masyarakat Banjar saat ini, menurutnya, hidup di atas fondasi sejarah panjang yang dibangun para pendahulu. Nilai agama dan kebudayaan yang masih melekat dalam kehidupan masyarakat merupakan bagian dari warisan perjalanan tersebut. “Dari perjalanan Kesultanan Banjar kita dapat belajar tentang kepemimpinan, keberanian, perjuangan, kecintaan terhadap masyarakat serta pentingnya nilai agama dalam kehidupan,” pungkasnya.(van/az/dye)

Editor : Arief
kesultanan banjar Sultan Suriansyah Haul